Salah satu dokumentasi aktifitas Turja menelusuri sudut-sudut kota Jogja melewati gang-gang kecil di kawasan perkampungan. Kegiatan ini menjadi salah satu sarana untuk melihat lebih dekat persoalan-persoalan yang terkait dengan tema proyek seni Monumenta. Para Seniman diharapkan bisa mendapatkan informasi dan temuan yang mendukung riset untuk karya Monumenta.
Agenda hari ini adalah melakukan kegiatan "Turja" Turun ke Jalan menyusuri sebagian sudut kota Jogjakarta. Start dari Kedai Kebun menuju beberapa titik pemberhentian diantaranya kediaman Jemek, Kerkhof, Monumen Geger Sepoi dan Finish di Nol Kilometer Malioboro.
Kegiatan Turja atau kependekan dari Turun ke Jalan adalah sebuah aktifitas menyusuri kota Jogja dengan cara berjalan kaki. Kegiatan Turja ini diharapkan dapat membangun kedekatan seniman dengan persoalan di lapangan sesuai dengan tema yang diangkat yang nantinya dapat berguna untuk menambah bahan riset.
KKF. Kegiatan Turja start dari Kedai Kebun (Jln. Sostrowijayan) pada pukul 15.00, sebelum berangkat ada beberapa hal yang disiapkan seperti kamera (alat rekam) dan alat tulis untuk mencatat. Dari KKF kami bertolak menuju kediaman Jemek Supardi (Jln. Katamso Depan Purawisata) yang menjadi salah satu narasumber pada Turja kali ini, Jemek Supardi adalah seorang seniman (pantomim), latarbelakangnya sebelum menjadi seorang seniman mempunyai cerita tersendiri yang cukup menarik, Jemek selain seorang seniman juga dulu mempunyai kedekatan dengan anggota geng-geng Gali yang tingal di kampung "Blageran". Akhirnya setelah sampai di kediaman Jemek, tanpa menunggu lama kita langsung menuju Kerkhof bersama dengan Jemek. Kerkhof adalah sebuah kompleks pemakaman Belanda, salah satu Kerkhof yang kami kunjungi adalah Kerkhof yang berada dibelakang Purawisata.Kerkhof.
Kerkhof. Kerkhof yang sekarang berbeda kondisinya dengan yang dahulu menurut penuturan Jemek, Kerkhof pada jaman dulu ramai didatangi oleh orang-orang yang tidak hanya datang untuk melayat, tapi banyak aktifitas yang dilakukan didalam kerkhof seperti membaca buku, hanya sekedar duduk-duduk, bahkan sebagai tempat istirahat tidur dan sebagainya. Dulu makam Kerkhof ramai, bersih dan banyak pepohonan yang rindang sehingga sangat nyaman jika "nongkrong-nongkrong" di Kerkhof karena sejuk dan teduh. Kerkhof ini menjadi menarik untuk ditelusuri karena adanya kegiatan pemindahan Kerkhof dari tempat asalnya. Kerkhof dialihfungsikan menjadi terminal dan Taman Hiburan Rakyat (THR) / Purawisata sekarang. Di kegiatan Turja kali ini Jemek banyak bercerita tentang awal mula karirnya menjadi seniman, pemindahan Kerkhof, penjarahan benda-benda dari makam, dibangunnya THR dan terminal yang kemudian menjadi kawasan para kelompok Gali, perkembangan judi dan pelacuran, serta tragedi penembakan para anggota geng Gali yang dilakukan dalam operasi pemberantasan oleh Petrus. Cukup lama kami berbincang dengan Jemek di Kerkhof sambil duduk-duduk diatas makam yang memang benar teduh banyak pepohonan meskipun sudah tidak sebanyak dulu. Perbincangan kemudian diakhiri dengan kegiatan membuat sketsa dan mengambil beberapa foto untuk dokumentasi.
Monumen Geger Sepoy. Perjalanan dilanjutkan kembali setelah cukup lama berhenti di Kerkhof, tujuan berikutnya adalah sebuah monumen yang merupakan relik sejarah, Monumen Geger Sepoy. Monumen ini berlokasi didalam sebuah gang sempit ditengah kota Jogja, benar-benar terselip dari hiruk pikuk kota. Kami melewati kompleks perumahan warga dan gang-gang yang hanya muat dilalui kendaraan bermotor roda dua dan sepeda. Setelah sampai di titik lokasi kami berhenti untuk mengamati dan mendengarkan info-info terkait dengan monumen Geger Sepoy, monumen ini berbentuk sisa reruntuhan dinding Benteng Kraton Yogyakarta yang hancur oleh serangan Pasukan Tentara Inggris.
Nol Kilometer, Malioboro. Ini adalah destinasi terakhir pada rangkaian Turja hari ini. Sembari beristirahat seniman juga melakukan pengamatan seputar Nol Kilometer, Monumen Serangan Umum, hiruk pikuk kota dan sebagainya. Kegiatan diakhiri dengan mengambil dokumentasi dan membuat sketsa.