Jalan Malioboro
seen from United States
seen from France

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Mexico
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Mexico

seen from Malaysia
seen from Panama

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from France
seen from Türkiye

seen from Canada

seen from Singapore

seen from United States

seen from Australia
Jalan Malioboro
Part 2 Travelling bersama yang Punya Akun Tentunya.
Mungkin di Part 2 ini adalah tempat yang sangat tidak asing bagi kalian semua. Tempat ini biasa kalian kenal dengan Malioboro.
Malioboro berada di kota yang sering dianggap kota istimewa/kota kenangan yaitu Daerah Istimewa Yogyakata. Tempat ini cocok untuk kalian berburu oleh-oleh khas jogja atau cuma sekedar ingin berfoto-foto dan menikmati indahnya kota yogyakarta. Menurut saya si lebih enak dikunjungi ketika sore atau malem.
Tentang Jogja, patah hati, sesak dan kehilangan
Jalan yang biasanya ramai di sepanjang Malioboro, mendadak senyap dan sepi di dalam pikiranku. Hatiku kalut, dikoyak kenangan, dilukai masa lalu. Apakah kepergian selalu menyakitkan seperti ini?
Lampu jalan telah berulang kali dipadamkan. Namun nyala di hatiku tetap saja masihlah terang. Sebab kepahitan adalah jalan lain merelakan. Aku, benar-benar tak bisa berdamai dengan kota ini, pun berulang kali aku mencoba. Kota ini menyesakkan, bising, dan selalu saja membuatku gaduh.
Berdamai, memang tidak selalu mudah.
Yogyakarta, 14 April 2021
INFO SEPUTAR JL MALIOBORO
Salam kenal sahabat travellers, perkenal kan saya tedy kristiawan, mau bagi info nih tentang jl malioboro.
Nah di jl malioboro ini bukan hanya tempat buat jalan-jalan sobat.
Selain tempat buat refresing, di jl malioboro ini juga ada kuliner khas yogyakarta dan pusat oleh-oleh nya loh.
Selain kuliner dan oleh-oleh nya, di jl malioboro ini juga sudah ada alat transportasi yang masih tradisional banget, seperti becak dan dokar sobat, jadi kalau sobat capek bisa tuh sewa jasa akang becak apa dokar nya hehehehe.
Yuk kita kupas satu persatu apa aja yang ada di jl malioboro ini
1. Kuliner khas yogyakarta ( angkringan )
Kuliner khas yogyakarta ( angkringan )
Jadi ini salah satu kuliner khas yogyakarta yang sangan di gemari wisatawan sobat.
Makanan di angkringan ini juga sangat terjangkau harganya, apa lagi pecinta kopi, ada yang nama nya kopi joss.
Jadi proses bikin kopi ini agak aneh juga sobat, jadi kopi bubuk hitam itu di campur sama arang yang buat masak airnya itu tadi, aneh tapi banyak yang suka hahah
2. Pusat oleh-oleh khas yogyakarta
Pusat oleh-oleh khas yogyakarta
Pusat oleh oleh ini sendiri ada banyak sobat, jadi mulai dari baju batik, kue bakpia dan kerajinan tangan. Jadi kalau mau travelling ke jl malioboro jangan lupa sisain uang buat beli oleh olehnya.
3. Alat transportasi
Alat transportasi
Alat transportasi ini juga masih mengusung adat jawanya sobat, transportasi becak dan dokar ini juga terjangkau harganya, jadi tidak perlu kendaraan lagi kalau mau ke jl malioboro, sudah ada alat transportasi yang terjangaku.
Destinsi yang ditawarkan saat naik becak apa dolar ini tidak hanya di jl malioboro saja sobat, jadi bisa muter muter ke tempat oleh oleh tadi, seperti ke toko batik dan kue lumpia.
Oh iya sobat, kalau mau jalan jalan ke malioboro disarankan sore hari sobat, karena kalau sore hari lebih ramai.
Ok sobat thank waitching.. mungkin baru ini yang baru bisa mimin bagiin ntar mimin bagi2 info lebih lengkap lagi tentang malioboro dan tempat travelling/wisata lain nya
Tunggu artikel mimin selanjutnya
•NOTE.maaf kalau ada kata2 yang salah mimin minta maaf .. mimin baru belajar soal nya 😁😁😁
Kritik dan saran langsung aja ke koment ya
Malioboro
Malam itu Malioboro begitu ramai berjejal manusia Padahal hujan baru saja reda Pikiranku pun begitu riuh dengan kata-kata Namun mendesak keluar sebagai air mata
Angkringan-angkringan yang ramai pengunjung Pertokoan yang terus menjajakan dagangannya Delman berjajar rapi menunggu penumpang Juga bangku taman dan banyak manusia
Kita berjalan bersisian tanpa banyak kata Aku sibuk dengan pikiranku sendiri Memikirkan kata-katamu dua hari ini “Manusia itu maunya yang ideal terus”
Malam itu aku lebih banyak diam Dan kamu terus berusaha membuka perbincangan Mengajakku berkeliling di jantung kota Yogyakarta Mengenalkan bangunan-bangunan historis nan magis
Aku tau perjalanan kita ini begitu singkat Besok adalah perpisahan yang nyata Membuat kita berjarak bersekat Antara Yogyakarta dan Jakarta
Mengenang perjalanan Malioboro akhir tahun 2019
Potret Memori | Jakarta, 27 Juli 2020
i don’t cry as my thumbs move across a screen anymore,
for my tears have now dried onto pages of unbleached paper, leaving marks as you glide your fingers across each one of them.
i don’t know what i write anymore,
for my hands move on their own as they rush to fill the pages with thoughts that tend to hide in the back of my mind,
and yet those thoughts tend to haunt me from time to time,
reminding me that they will always be there.
i’m scared that i’m starting to lose control,
but then again maybe its a good thing.
perhaps, it is finally the time.
Makna Journey - Yogyakarta
Terbawa lagi langkahku kesana, Mantra apa yang entah yang istimewa, Ku percaya selalu ada, Sesuatu di Jogja
Lagu ini emang pas banget diputar ketika menulis tentang Yogyakarta, eh iya tulisan kali ini aku coba lebih santai.
Aku pertama kali mengunjungi Yogyakarta adalah ketika study tour SMA, seketika itu aku jatuh cinta dengan kota ini.
Jadi dalam perjalananku, aku menempatkan Jogja menjadi destinasi ke 2 dan wajib. Aku percaya Jogja punya sesuatu untukku.
Sekembalinya dari Bandung, aku langsung bersiap menuju Jogja dengan kereta pada minggu malam, dan tiba pukul 6 pagi.
Ini adalah kali ketiga aku berkunjung, kali kedua adalah ketika mengikuti Pelatihan Pemimpin Bangsa (PPB) pada tahun 2016.
Udara Jogja memang membuat candu tiap orang yang mengunjunginya, itulah yang aku rasakan, baru saja keluar stasiun sudah tercium bau-bau keramahan Jogja.
Pagi ini aku menghabiskan sejenak waktu di Malioboro sembari meneguk kopi hitam. Memang aneh, ketika orang menikmati Malioboro pada malam hari, aku memilih untuk menikmati di pagi hari.
Menyusuri Jalan Malioboro yang masih sepi, belum banyak toko yang buka, namun bapak-bapak penarik becak sudah bersiap menawarkan jasanya keliling malioboro, keraton, dan alun-alun.
Aku memutuskan untuk menikmati Jogja pagi hari dengan berjalan kaki, berat sih dengan bawaan di punggung, tapi semua terbayarkan. Sesampai di alun-alun utara aku memutuskan menerima ajakan bapak becak, dengan catatan aku cuma mau menikmati suasana tanpa berhenti di toko kaos, bakpia dan sejenisnya, sekalian untuk mengingat jalan yang harus aku tempuh ketika berjalan kaki nantinya.
Pagi itu benar-benar ramah sekali, cuaca tidak panas, cenderung mendung seperti akan hujan deras. Tapi Jogja tak pernah kehilangan kecantikannya.
Setelah berkeliling, aku mengulang perjalanan dengan berjalan kaki, dari alun-alun utara ke keraton lalu ke taman sari, setelahnya ke alun-alun kidul dan ditutup dengan sarapan di Brongkos Handayani (sesuai rekomendasi seorang teman).
Jangan ditanya bagaimana lelahnya, tapi ini pengalaman yang baru bagiku, selama ini ketika berlibur/travelling, aku selalu bersama orang lain, namun kali ini benar-benar beda. Dan banyak sekali hal-hal baru yang aku pelajari terutama di Jogja ini.
Setelah puas berkeliling, aku dijemput oleh teman yang aku kenal di PPB, namanya Okky Tria Kurniadi, kalau ditanya dia siapa, bisa aku bilang sosok pemuda yang inspiratif dan progresif sekali. Dia memang lebih muda 3 tahun tapi aku banyak belajar dari dia.
Setelah bingung mau kemana kami memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan ngopi di Kopi Sembilan dekat UGM. Ini juga atas saran Adikku Lina, siapa dia?akan aku ceritakan pada part Semarang.
Kopinya nikmat tentu tambah nikmat dengan diskusi yang terjadi. Aku benar-benar merasa menyesal saat berkuliah tidak mengeksplor banyak hal, setelah mendengar apa yang diceritakan Okky.
Sayang tidak banyak waktu untuk mengobrol lebih banyak dengan Okky, karena dia sudah ada agenda lain.
Aku pribadi senang melihat teman-temanku yang melakukan banyak hal bermanfaat untuk masyarakat dan Indonesia (terlihat berlebihan? Tidak sama sekali)
Setelah dari Kopi Sembilan, aku menuju kos adik kelas yang barusan lulus dari UGM, namanya Idial Fiqih (alfi), mumpung belum keluar dari Jogja hehe. Malam ini aku putuskan untuk istirahat di kos saja biar besok bisa lebih fit dan ga kecapekan.
Esoknya aku memutuskan untuk berkeliling sendiri sembari menunggu Alfi menyelesaikan urusan di kampus. Dan untuk sarapan aku memutuskan untuk makan di Burjo, disini baru aku sadar ternyata hidup di Jogja sangat-sangat murah sekali.
Setelah berkeliling dan menyempatkan sebentar nonton film weathering with you, aku balik ke kos dan mengajak Alfi ke Klinik Kopi. Kalau yang sudah menonton AADC 2 pasti tahu tempat ini.
Coffee Shop dengan konsep paling unik yang pernah aku datangi, dari jam buka yang hanya 6 jam dari 4 sore hingga 9 malam, pelayanan yang super duper ramah, tidak ada wifi, tempat duduk juga berupa lesehan sehingga menciptakan kondisi rumahan banget.
Ketika datang aku benar benar takjub dengan keramahan mas pepeng (owner), dia menyambut dengan jabatan tangan lalu mulai mengobrol dengan kami dari menanyakan asal, bicara tentang Jogja hingga akhirnya bicara tentang kopi.
Disini pembeli akan benar-benar dicerdaskan tentang perkopian, jadi para pembeli tidak hanya membeli segelas kopi tp juga ilmu tentang kopi.
Kopi disini enak banget asli dan pengalaman yang akan kalian rasakan benar-benar luar biasa, jadi kalau kalian sempat ke Jogja jangan lupa berkunjung kesini ya
Panjang banget ya ceritanya, ya sudah aku persingkat saja, selama di Jogja ada 1 nilai yang benar-benar aku dapatkan yaitu nilai tentang "KERAMAHAN".
Mungkin ini juga yang menjadi alasan mengapa Jogja sangat mengena di hati setiap orang yang pernah mengunjunginya. Ga salah sih Aditya Sofyan menulis lagu tentang Jogja, Kota ini memang punya Mantranya sendiri.
Jakarta 11 September 2019 | raf