Untuk Umbu
Ku tuliskan sajak tentang kaki. Kaki melangkah dengan hati. Hati yang tak akan bernah berhenti memberi hari untuk berbagi.
Jika mata dapat melihat indah jika lidah mengecap rasa kaki menginjak savana di sana ada sumba
ku bertemu pada seorang garuda terbang menjaga wilayahnya tak gentar rayuan anjing dan babi karna ideologi tak bisa dibeli
badan gempal, rambut hitam ikal wajah seram namun bersahaja wajah menyeringai tapi tetap bercanda menentang pikiran radikal
ya...ku kenal dia. Seorang yang bergelar raja. Raja hamparan pikiran terbuka. Disana, di eksotika sumba.
Disana dipulau nan menawan. Dia tak bertindak sebagai bangsawan. Bukan seolah menjadi tuan tanah. Tapi dia seperti ayah
bisakah aku rindu sumba? lalu rindu pada umbu. Rindu pula menyantap ikan. Dan rindu berjalan jalan
kuucapkan selamat pagi umbu. Untuk semangat perjuanganmu. Membawa mereka ke arah pembaharu. Meski bukan negara baru.
Warung kopi, 6 januari ‘17












