Hi! It's been a while, since last writing #21 kosakata.
Supaya belajar finance di cerita ke#8 makin mantap, saya mau menulis—mengevaluasi diri belanja apa aja sewaktu perjalanan kemarin. Mau memetakan apakah saya belanjanya mindful, impulsif atau kompulsif. Gak ada yang nyuruh atau merasa disuruh, sih, tapi ingin melatih menulis kejujuran hehe. Hope you, guys, enjoy reading the whole series.
Pernah dengar mindful spending? Beberapa tahun terakhir (sengaja) baca-baca beberapa konten following Instagram pribadi. Adalah tentang menggunakan atau membelanjakan uang secara berkesadaran. Lawan dari mindful spending adalah impulsive buying, yaitu perilaku membeli tanpa berpikir panjang atau spontan karena, beliau bilang, excusenya dari luar, seperti adanya diskon. Saat belajar kemarin, beliau juga menyinggung compulsive buying. Adalah perilaku belanja yang direncanakan/tidak dan didorong oleh faktor emosional atau excusenya dari dalam diri. Seperti 'Aduh, stres banget hari ini. Pengin beli tas, deh.' Keduanya (impulsive & compulsive) merupakan gangguan perilaku berbelanja. *cmiiw
Disclaimer: tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan pihak manapun, tidak menghakimi benar/salah, murni karena ingin cerita perjalanan perilaku keuangan personal. Oh, yang paling utama, saya bukan ahli di bidang finance. Mohon koreksi, ya!🙏🏻
tulisan panjang (dan banyak emoji sekaligus banyak reflektifnya). here we go.
Saya membagi money journey ini menjadi 4; sebelum keberangkatan, di Saudi, kepulangan, dan dana jaga-jaga. Setelah dipikir-pikir ternyata saya tidak bikin budgeting yang proper/detail. Sehingga bisa membuat penilaian saya bias (jadinya pake ilmu kira-kira). Saya hanya membuat rencana mau spending apa aja selama di Saudi.
📒Paspor
Ini bisa banget disiapkan mandiri dari jauh-jauh hari. Kalau agak mepet dengan jadwal keberangkatan, sepertinya bisa dibantu agen travel. Perlu diperhatikan juga biayanya akan lebih mahal kalau butuhnya mendesak. Sebaiknya cek dulu masa berlaku paspor kalau sudah punya. Punya saya sudah lewat kedaluwarsa, jadi perlu perpanjang paspor. Kisaran biaya IDR 350.000. Mindful🌟
💉Vaksin Meningitis
Di tahun ini, syarat umrah/haji adalah vaksin meningitis. Rasanya tetep njarem kayak dulu, guys (apa ya bahasa baku njarem? wkwk). Biayanya tergantung kebijakan rumah sakit yang menyediakan vaksin tersebut. It might be slightly difference, but not much. Di rumah sakit Sidoarjo-Surabaya kisaran IDR 325.000-350.000. Mindful🌟
📶Internet Roaming
Kali ini saya beli paket internet. Sembilan tahun lalu gak kepikiran beli paket internet/telpon di luar negeri, sekarang ada kepikirannya. Buat apa? Simply, untuk komunikasi dengan para jamaah-pihak travel, update info Nusuk, berkabar dengan ibuk di tanah air (yhaa meskipun gak intens), ngabarin orang-orang toko, cek saldo mbanking (barangkali tiba-tiba ada rejeki nomplok wkwk) (gak deng, soalnya perlu cek untuk tarik tunai di ATM Saudi). Sisanya, sosial media macem X, instagram, gak kepikiran mau unggah foto, sih (yhaa ada, tapi nanti-nanti. gak kudu yang posting realtime wkwk).
Sebelum purchase, ada banget mikir untuk milih paket internetnya antara 2-3 hari. Soalnya mau menyesuaikan dengan kebiasaan sehari-hari kira-kira berapa gigabyte/hari. Ternyata pas pulang, masih ada banget sisa kuotanya. Sepertinya saya jarang menggunakan internet. Kuotanya kepake 57% dari yang dibeli wkwk. ((bisa nih untuk umrah tahun depan (((aamiinn))) soalnya berlaku 12 bulan!)). Kisaran IDR 250.000. Mindful🌟
💁🏻♀️Sandang
Siapa yang gak kepikiran mau pake baju apa pas di Saudi? wkwk. Saya kepikirannya, pantas gak ya pakai baju ini? Mencolok gak ya pakai kudung itu? Ternyata, yaa gak banyak beli baju, kudung, abaya, dll sebelum berangkat. Ada beli 1 tunik, 1 bawahan, 2 kudung, 2 ciput, jahit 1 gamis, sepasang sandal—yang ada sudah menipis solnya (katanya gak beli, tapi setelah dirinci, kok ada semuaaa🤣😭).
Selebihnya kayak mukena, selontongan tangan, jam tangan, tas, legging, kaos kaki, sepatu, sajadah, seingat saya gak beli. Ada yang memang sudah punya, ada yang pinjam ibuk, ada yang dapat dari travel. Kisaran total pembelian IDR 600.000. Mindful tapi agak over sedikit 🌟😩
💊Obat-obatan
Ini bisa banget menyesuaikan dengan kebiasaan konsumsi obat apa saat merasa kurang enak badan atau punya riwayat sakit apa. Jadi bisa bikin persediaan mandiri. Kalau ada konsul dengan dokter tentang menunda menstruasi, bisa dihitung jumlah obatnya perlu berapa. Dulu Ayah sempat ditabrak kursi roda dari belakang dan berdarah, jadi inget untuk bawa semacam hansaplast, minyak kayu putih, gitu-gitu.
Selain itu, saya beli parasetamol, obat sariawan, obat diare, obat batuk (saya kebagian flu sebelum berangkat. tapi di Saudi berangsur hilang. huhu. alhamdulillaah), obat penunda menstruasi (untuk jaga-jaga saja karena yakin bukan di masa menstruasi) dan sanitary perempuan. Terus apa lagi, ya? Saya gak inget nominalnya habis berapa😂. Mindful🌟
Yang paling diingat adalah diberi vitamin booster oleh teman I (mohon doanya, guys, dia akan ujian CPNS. semoga lolos! aamiinn) saat keberangkatan di Juanda, huhu baik bener. Terima kasih sudah turut mengantar!
Di Saudi (for me & myself)
👃🏼Parfum
As I wrote #20 nose exploring, memang kepengin banget beli parfum. Tapi, ada tapinya. Saya tidak memberikan range rate khusus😂. Makanya, setelah dihitung-hitung pas pulang, parfum ini jadi paling besar spendingnya buat saya haha. Anak ayah banget, nih, pulang dari Saudi beli parfum wkw. Arabian Oud dapat di harga SAR 194 & Rasheed Factory kisaran SAR 40an. Mindful agak impulsif duiikiit🌟😆
(hmm. apakah saya perlu bertanya ke jamaah yang parfumnya-enak-pake-banget kemarin?) (masih penasaran, ya, qi? ngaku, gak!? wkwk) (semoga rejeki, ya, ketemu lagi! aamiin)
🛍Kain Bahan
Daripada membeli abaya, saya prefer kain😂 (lah, sama aja?) (hmm, tidak juga). Kalau abaya kadang ada yang ukurannya kebesaran, atau bajunya mirip sama punya orang wkwk. Bagi saya, proses membeli kain bahan sampai menjadi baju siap pakai ada banget nilainya. Dari proses mau dibikin apa—mikir desainnya supaya bisa dipakai longlast yet versatile (palingan ya gitu-gitu aja sih😂), cuci kain pertama (kalau perlu), pengukuran, pemotongan, jahit, obras, fitting, sampai disetrika! Anak Ibuk, nih, belinya kain wkwk.
Kain dari sembilan tahun lalu yang saya beli bareng ibuk di Mekkah Tower, dibikin model outer & kulot, sampai sekarang masih ada dan saya pakai. Itulah, makanya saya kemarin membeli kain bahan. Ada banget nawar ke pramuniaga di salah satu toko kain di Mekkah Tower. Harga yang dibanderol SAR 100an saya tawar di SAR 70. Akhirnya dapat di SAR 85 😂. Mindful tapi tidak terlalu urgent kebutuhannya🌟. (atau malah jadi kompulsif, ya?!!) (please note that: size kainnya lebar & besar, sudah berupa potongan)
🎢Entertainment
Hiburan di sini maksudnya seperti experience naik wahana, ke toko buku, atau ke museum. Kemarin tidak jadi ke Museum Wahyu di Mekah (insyaallah lain kali aamiin🤲🏻), tapi naik dua wahana di Thaif dan city bus di Medina. Dan, iyaa kami berkunjung ke Museum Alamoudi di Jeddah—include travel. Pas di Mekkah Tower ada toko buku. Saya cuma lewat depannya saja sambil melirik judul-judul apa saja yang tertera. Rasanya ingin saya buka & baca satu-satu bukunya haha (inget, buku baru bersegel di rumah masih banyak🤪).
Sebelum berangkat, travel sempat menawarkan ke jamaah apakah ada yang ingin naik Haramain Express, kereta cepat Mekah-Medina. Saya gak ambil transportasi itu karena uangnya ingin dipakai main-main di Thaif haha. (sebenernya, ada ingin coba Haramain Express ((dan Careem Bike terinfluence mas G, ceunah. dipikir-pikir pengin naik ke jabal-jabal juga, deh)). lain kali insyaallah aamiinn🤲🏻)
Telefric SAR 75. Mindful🌟(baca di sini cerita Thaif).
Toboggan SAR 45. Mindful🌟 (tapi ini ambil dana jaga-jaga. soalnya di awal gak tau nama wahana ini. tapi memang di Thaif ingin main-main wkwk).
Hop On Hop Off SAR 80. Jujur saja ini impulsif (apa kompulsif ya?! ambil dana jaga-jaga juga) dan gak ada di plan list (awal tau di reels dan tiketnya menurut saya cukup merogoh kocek wkkw. tapi pas mau naik, gak ingat opini awal ituu! isshh)🤣. Soalnya gak tega dengan jamaah yang ingin naik (alias gak ada yang menemani) (kenapa saya merasa kudu menemani, ya?! dahlah wkwk). Nah, kan, ada unsur emosional ya? HAHA entah. Tapi dengan naik bus ini, saya jadi ketemu sama mas-mas pelajar Indo di Medina, terus first smelling wanginya Musk Perfume—rose musk, bisa menikmati langit sore Medina, tahu letak pintu 22 dan es krim Ajwa (dan menjadi bahan obrolan dengan seorang jamaah keesokannya) hehe.
Transportasi dari dan ke Souq Kakiyyah SAR 20 (lupaa). Mindful🌟
Barusan saya sebut Souq Kakiyyah—semacam pasar grosir yang dekat dengan Masjidil Haram. Saya sendiri gak banyak beli oleh-oleh. Mikir banget kalau keluarga besar diberi semuanya, bisa jebol dananya wkwk. Akhirnya beli tempelan magnet kulkas untuk di rumah🤣. Itupun karena mbak I juga titip untuk beli oleh-oleh. Mbak I kebetulan stay di hotel. Jadi belinya patungan, dan nawar ke bapak-bapak pramuniaga haha. Dibanderol SAR 10—5 buah. Kemarin kalau gak salah ingat, beli 10 buah (atau mungkin lebih. lupa. patungan sama mbak I), dapat di kisaran SAR 17-18 (lupa). Mindful🌟
Oh, iya. Baru ingat. Di kebun kurma Medina, ibuk request delima. Sekilo dipatok harga SAR 60. Pulang-pulang, ditanyain ibuk berapa harganya. Terus direspon (dengan nada tinggi sedikit) , "Olaopoo tuku delimo larang-larang. Gak mbok nyang ta?" WKWKKW😅. Kenapa beli delima mahal-mahal. Gak kamu tawar? Sudah saya tawar. Tapi gak boleh sama penjualnya wkwk. Terus yaudah, ya tetep saya beli. Barang di Thaif, ternyata banyak penjaja buah-buahan di pinggir jalan, termasuk sorban.
Sebenernya, dana jaga-jaga versi saya ini perluasan dari dana kalau-kalau ingin beli sesuatu. Saya gak terlalu banyak beli jajan/cemilan. Tapi beli es krim 2 kali, sekali di Medina SAR 10 dan sekali di Mekkah SAR 11. Ada beli minuman di Bin Dawood Medina, lupa habis berapa wkwk. Mindful🌟
Di Mekah, saat ngobrol dengan seorang jamaah, saya gak kepikiran untuk beli air minum kemasan sebagai persediaan minum di kamar😂 (padahal sendirinya suka minum air putih wkwk)—sampai menemani beliau ke baqolah/toko. Akhirnya nimbrung lah saya beli air sedus, nanti mau saya ganti. Eh, lha kok, pas mau saya ganti, beliaunya bilang gak usah😭🌟 asdfghjkl!@#$&^%. (terima kasih, Mas, traktirannya! semoga berkah & sehat selaluu. lain kali, gantian aku, ya!)
Di otak saya, perjalanan umrah ini adalah ibadah dan jalan-jalan personal, alias ibadah vertikal, makanya tidak kepikiran untuk bikin pos sedekah (huhu egois sekali). Memang sendirinya ada pos untuk wakaf Quran—Mindful🌟 (selain sedekah bagi-bagi ifthar, ada program wakaf Quran di Mekah). Saat travel mengumumkan program bagi-bagi ifthar, saya sempat bingung dan excited bersamaan.
Bingung karena masih ada banyak mau, sedangkan dana terbatas, tapi excited karena ini pertama diajakin bagi-bagi sedekah paket ifthar ke orang-orang di Medina. Pos sedekah biasanya ada di tanah air. Jadi, sedekah kemarin, menurut saya pribadi, gak maksimal huhu. Gak maksimal maksudnya, karena gak disiapkan, gak kepikiran (qi, gak boleh egois! huhu). Rupanya otot-otot kebaikan diri sendiri belum terbiasa😭. (katanya mau taqarrub ilallah?!)
Kalau diamati, almost my financial decision to purchase on things, ada dipengaruhi oleh kebiasaan orang tua. Bukan berarti orang tua gak ngajarin sedekah. Kadang saya turut diajak "pilah uang" dengan ayah. Malah sayanya yang kadang perlu diberi reminder beginian—I couldn't thank you enough for this program, Ya Allah—menyiapkan dana untuk sedekah.
Mungkin baiknya bikin budgeting yang proper atau spending plan sehingga jelas kemana uangnya. Ini karena diri sendiri yang menilai, pasti ada biasnya, sih (soalnya banyak mindfulnya wkw. tapi ya gak apa sesekali impulsif😅). Teringat juga beliau bilang, finance is very personal and money is emotional.
Yang paling penting versi saya adalah yakin bahwa uang yang kita keluarkan secara sadar adalah sesuatu yang bermakna—bernilai guna (& pahala) dan menyadarkan arti rasa cukup-tidak serakah-menerima dalam diri. Dan yang paling utama adalah memastikan kewajiban-kewajiban seperti zakat, pajak sudah dikeluarkan. Lalu infak, sedekah.
Ingat-ingat, qi. Harta yang dipunya, perlu disucikan.
Caranya?
Dengan membelanjakannya di jalan Allah. Kita ini, juga punya Allah.
Terima kasih sudah menyimak sampai sini. Semoga kita selalu menemukan & dipertemukan dengan kebaikan, ya! Mari berbuat baik.