SMS ku kirim, “Mas, aku ingin menelpon, adakah waktu?”.
“Maaf Dik, teman mas nanti mau datang.”
“Oh, oke mas.”
SMS di hari yang lain, “Mas, aku punya cerita menarik. Adakah waktu untuk mendengarkan?”.
“Oh ya Dik, nanti kalau mas sudah selesai rapat mas telpon Adik.”
Lalu aku menunggu, lama, tak ada kabar sampai pagi datang.
“Hai Adik, selamat pagi..”.
“Pagi Mas..”
SMS di hari berikutnya dari masku, seperti tak ada apa-apa di hari sebelumnya. Seperti tak ada janji yang pernah dia ucapkan. Okelah, aku mengerti, mungkin dia sedang sangat sibuk sehingga lupa akan janjinya.
“Mas, aku bisa minta bantuan? Bisakah aku bertanya-tanya padamu? Aku ada tugas kantor yang sulit ku mengerti. Di trimester akhir ini aku harus memenuhi targetku.”, SMS terkirim.
“Oh ya Dik, nanti sepulang kantor kita berbincang ya di telepon.”
Aku menunggu hingga malam larut, tak ada dering berbunyi.
Ah, aku semakin lelah. Hari demi hari terus saja terulang hal yang sama. Kekasih sendiri terasa bagai orang asing. Sulit untuk punya ‘quality time’ bersamanya. Aku tak lebih penting ketimbang orang lain, pekerjaannya, aktifitasnya.
“Mas, jujur, kenapa ya aku merasa perhatian mas padaku berkurang?”, SMS ku kirim.
SMS masuk, “Kenapa Adik bicara seperti itu, mas kurang apa sama Adik, kurang sayang apa lagi? Jujur mas merasa kecewa Adik bicara seperti itu”.
Perbincangan lewat SMS kuakhiri. Lelah melanjutkan perdebatan.
Ia seperti tak merasa sedang ada masalah dalam hubungan jarak jauh kami ini. Ia pikir kami baik-baik saja. Aku mengalah, menghindari pertengkaran.
SMS ku kirim, “Mas, aku rindu”.
“Iya Dik, mas juga sama.”
Pancinganku gagal, tak ada respon serius darinya. Tak segera menelponku, apalagi untuk sekedar cuti menemuiku, libur bersamaku, mungkin tak pernah terlintas di pikirannya.
Aku menelponnya tanpa pemberitahuan, “Mas, apa kabar?”
“Baik, Dik. Adik apa kabar?”
“Mas, aku ingin bertanya masalah kantor. Di trimester akhir ini aku harus memenuhi targetku, sedangkan aku masih banyak pekerjaan lain yang menumpuk. Aku harus bagaimana ya Mas?”
“Coba sewa pekerja lepas Dik, bayar mereka dengan gaji harian, perkirakan kisaran gajinya, sesuaikan dengan UMR kotamu, lakukan perhitungan yang matang untukp royek trimester akhir ini agar perusahaan tetap bisa mendapatkan keuntungan. Begitu saja harus tanya Mas. Adik kan sudah lama berkecimpung di bidang ini.”, jawabnya ketus.
“Oh, iya mas terimakasih jalan keluarnya”.
Aku kecewa, dia sudah tak semanis awal pacaran dulu. Dia sekarang ketus. Ah, rupanya masa-masa indah pacaran kita hanya di awal saja. Aku tak pernah lagi mendapatkan ‘nafkah batin’ dari kekasihku sendiri. Aku bagai zombie, hidup sebagai pasangannya, tapi tak merasa apa-apa. Rasaku perlahan memudar.
Aku mengirim SMS, “Mas, ada yang mau ku bicarakan. Tolong untuk saat ini luangkan waktumu sedikit saja.”.
“Ya Dik, mas sedang tidak ada pulsa, Adik telpon mas ya?”.
“Oke.”
Kriiiiing.. kriiiiiing.. Dering telponnya berbunyi.
“Mas, apa kabar?”
“Baik Dik, bagaimana proyekmu?”
“Ya, sukses Mas, terimakasih sarannya.”
“Ya, sama-sama”.
Perbincangan berlanjut dengan dingin. Tak ada canda tawa.
Ada yang salah dengan hubungan ini. Aku tak tahu harus bagaimana membahas ini bersamanya, ia sering ketus, ia tak sehangat dulu. Dingin.
SMS ku kirim “Mas, aku ingin kita akhiri hubungan ini, aku lelah.”
SMS terkirim.
Handphone ku matikan. Ku buang SIM Cardku.
Aku tak pernah mau mendengar alasannya. Apapun alasannya, percuma, aku sudah lelah. Aku tak mau lagi perbaiki hubungan jika untuk berkomunikasi saja sulit.
Aku tak menyalahkan jarak yang membentang. Aku hanya menyalahkan diriku sendiri, mungkin aku terlalu cepat mengambil keputusan untuk menjalin hubungan dengannya.
Bulan berganti, tahun berlalu.
Aku tak mendengar kabar lagi darinya. Tak ada kedatangannya, sekedar untuk mempertahankan hubungan kami.
Well, aku pikir keputusanku sudah tepat. Mengakhiri hubungan dengan orang yang tak peduli adalah keputusan yang sudah sangat tepat. Selamat tinggal Mas Pram.
Telepon berdering, tertulis nama sang mantan, Nugroho.
Aku terbata-bata menjawabnya. Ah, mengapa jantungku berdebar?