Hai, lelaki bermata tajam yang kujumpai di ujung tanya.
Bagaimana kabar hari ini?
Kudengar kamu jauh lebih dari sekadar bahagia,
setelah semua awan kelabu berarak meninggalkan.
Selamat ya, aku senang karenanya!
Jangan khawatir akan keluh dan kesalku yang terkadang singgah,
itu semua hanya agar kamu tak pernah tahu,
betapa kencangnya gemuruh di dada tiap melihatmu akhirnya menemukan.
Tangisanku sebelum ini mungkin tercipta karena warna kelammu begitu menyesakkan, tapi jika kali ini kamu lihat aku menangis, percayalah itu karena haru akanmu saat ini.
Hai, lelaki yang tahu segala macam warna di dunia.
Bagaimana jika aku mengaku bahwa saat ini tengah terluka?
Luka yang kubuat sendiri memang, bukan karenamu,
tapi alasannya memang adalah kamu.
Begini, aku ingin sekali buat pengakuan.
Cukup hari ini saja, boleh ya?
Aku suka seluruh hal tentang kamu,
termasuk kamu yang menatapku seolah tak pernah tahu.
Tatapanmu itu sesekali melukai,
namun aku membiarkan diriku melarut dalam darah atas lukaku itu.
Aku ingin sekali berada di dekatmu, saat ini,
apalagi dalam dekap hangat tubuhmu.
Mau kuberitahu satu rahasia?
Kemarin, saat ini, bahkan mungkin hingga esok,
pelukmu selalu saja mampu buatku mencandu.
Ah ya, satu lagi, kamu tahu?
Wangimu jadi satu-satunya parfume yang selalu bisa menenangkanku.
Ingin sekali rasanya aku membawanya pulang untuk kunikmati sendiri.
Di tiap malam yang kata mereka pekat, di tiap fajar yang bahkan terlalu gelap.
Untuk lelaki yang memiliki warna mata tak seperti milikku,
pasti sudah banyak wanita di luar sana yang berbicara hal seperti itu padamu.
Ya, aku tahu bahwa kamu memang semudah itu untuk dikagumi.
Tapi asal kamu tahu saja, aku terjatuh padamu tanpa alasan-alasan itu.
Aku begitu saja ingin terus berada di dekatmu,
sebab bersamamu aku selalu merasa sehat dan baik, dalam hal apa pun!
Diam-diam saja, ini rahasia,
aku tengah terlarut dalam rasaku padamu,
biarkan saja ya aku melarut sendirian, karena kamu takkan pernah mau ikut, kan?
Hujan Mimpi,
November 2017