From: 22 April 2026
To: 22 April 2027
Hari ini kesimpulan itu kuambil, meski sepihak. Ya, rencana itu gagal lagi. Dia menghilang. Lagi. Mungkin dia bingung setelah segenap tanya yang terus kuberikan. Tentang 'selanjutnya apa? Bagaimana? Kapan kamu akan memutuskan? Orang tuaku sudah ingin tahu arahnya kemana'.
Hari itu dia hanya diam sebelum berkata 'aku usahakan dulu'. Katanya dia tak mau memberi harapan. Lucu ya. Tahun lalu dia mengajakku untuk serius. Tahun ini, dia tak ingin memberi harapan. Seolah ajakan itu hanya gurauan. Atau mungkin memang dia hanya melempar candaan dan aku saja yang menanggapi serius.
Entahlah.
Dia berhasil membuatku mulai meragukan ucapan siapapun. Rasa percaya yang sudah tipis ini semakin terkikis. Kasihan ya, aku.
Tapi tidak apa. Aku baik-baik saja. Lebih tepatnya berusaha untuk baik-baik saja. Tak ada yang baik dari dijadikan uji coba perasaan kan? Dia yang tak yakin dengan dirinya, justru menyeretku untuk jadi tak yakin dengan diriku.
Hingga sesekali tanya itu hadir, 'apa aku tak layak untuk siapapun?'
Ini bukan tentang terbawa perasaan. Namun, bagaimana kamu memperlakukan seseorang? Ucapan yang berubah, niat yang tak sejalan dengan perbuatan. Hingga membuat seseorang merasa dipermainkan.
Untungnya aku tak ingin memperpanjang dan menyudutkan. Bagiku cukup kini aku tenang dalam kesendirian. Menjawab pertanyaan 'kapan?' dengan 'doakan'. Menutup mata dari sejoli yang duduk berpasangan. Aku mencoba untuk terus berjalan. Meski kadang, aku juga manusia yang ingin menjalani kehidupan layaknya orang kebanyakan.
Lalu tentang dia, aku sedang belajar merelakan. Memaafkan. Dan mendoakan. Semoga dengan siapapun akhirnya dia memutuskan dan berkeyakinan, itu menjadi jalan kebaikan, untuknya.
Mungkin kali ini memang belum waktu ku, kan?













