Tanpa Judul teruntuk Ibu Pertiwi
Saat udara tampak mengelabu. Pandangan seperti tak memandang. Apakah salah jika aku berkata bahwa tuan kurang pembekalan. Saat terdengar rintikan air hujan. Perlahan merangkak dan mengisi sudut perkotaan. Apakah salah jika aku berkata tuan kurang pembekalan. Di sana api membubung hingga hijaunya berubah jadi hitam.
Di sana air terus berusaha naik seperti tak ingin mengalah. Apakah salah jka aku berkata bahwa tuan kurang pembekalan? Kami memang bukan anak bangsawan, tuan. Tapi kami rindu akan keadilan yg kau saku kan. Peradaban mulai berkembang menyapa masa depan. Korupsi, perebutan kursi, demo anarkis, terjadi dimana-mana. Seolah-olah terjadi karena ambisi dan kerasnya hidup.
Aduhai bumi Pertiwi. Jiwa muda yang seharusnya menjadi penopang bangsa, Kini larut dalam derita yang disebut sebagai surga. Narkotika yang dibangga sebagai jalannya. Tidakkah ada lentera yang mampu memberi cahaya? Tidakkah ada satu titik saja agar cahaya bisa marambati hatinya yang murka?
Wahai perangkul masa depan. Janganlah terbuai dengan kepalsuan. Jadikan karakter yang berpanutan dan menjadi tauladan. Disiplin kan waktu dalam berpedoman. Jujurkan hati untuk mengucap dengan lisan. Jangan berjalan di jalan yang bukan diamanahkan. Tanggung jawab mu yang dipinta di masa depan.







