Tidak menggantungkan ekspektasi kepada siapapun dan apapun. Berjalan mengalir begitu saja.. Jika dikoreksi dan ditemukan kesalahan, itu malah jadi hal yg menyenangkan.
Semoga aku terus bertumbuh dalam kebaikan dan kebermanfaatan. Aku menjadi pribadi yang tenang dalam segala situasi. Bismillah.. Ayo terus upgrade diri ^^
Mengejar Validasi Lawan Jenis itu Terlalu Dangkal!
Beberapa hari ini, tidak, mungkin beberapa bulan ini aku merasa ada yang aneh dari diriku. Salah satunya adalah mencari validasi dari orang lain secara berlebihan. Pencarian validasi ini bisa dalam bentuk macam-macam. Salah satunya adalah aku terlalu banyak bercerita di sosial media tentang kesedihanku, lalu kemudian aku juga terlalu membanggakan prestasi-prestasiku di sosial media pribadiku.
Kedua aku selalu membandingkan diriku dengan perempuan lain yang lebih baik dari diriku. Bisa dibilang aku ini kurang beruntung masalah percintaan. Setiap ada laki-laki yang aku suka, pasti mereka akan menyukai/dekat dengan wanita lain yang lebih baik dari sisi attitude, penampilan, atau kecerdasan emosionalnya. Inilah salah satu hal yang membuat aku mencoba untuk mengambil persona dari wanita lain.
Sebenarnya membanding-bandingkan diri dengan orang lain ini bagus, karena dengan perbandingan ini aku bisa upgrade diriku ke arah yang positif. Aku jadi lebih rajin belajar dan berkarya. Namun, ada sisi negatif yang aku rasakan
Aku jadi tidak sabaran untuk menjadi versi yang lebih baik, sehingga aku cepat frustasi jika ada tantangan saat proses upgrade diri.
Ketika aku mempublish sesuatu namun tidak mendapatkan atensi dari pria aku akan merasa stress dan kecewa. Atensi disini bisa berupa pujian atau ketertarikan mereka untuk mengobrol denganku.
Aku masih sering terintimidasi kalau ada perempuan yang jauh lebih baik dariku, sedangkan aku masih "gini-gini" aja.
Karya yang aku hasilkan rasanya tidak maksimal, karena ingin cepat-cepat dapet validasi dari orang lain. Aku jadi sulit untuk menyelesaikan karya yang inspiratif dan memberikan kesan yang dalam.
Lalu aku evaluasi diriku kembali. Apakah proses upgrade diri seperti ini sehat untukku? Ternyata tidak sama sekali. Aku berpikir seharusnya aku upgrade diri untuk kesejateraan diriku sendiri, bukan karena ingin validasi lawan jenis ataupun orang lain. Misal, aku belajar ini itu karena aku penasaran, bukan karena ingin dianggap wanita cerdas. Atau misalnya aku olahraga karena ingin sehat fisik dan mental, bukan karena ingin memenuhi body goals yang pria suka.
Kalau aku upgrade diri untuk diri sendiri, maka aku akan lebih bersyukur dan menikmati prosesnya. Aku akan mensyukuri setiap langkah kecil yang sudah aku lakukan dan jauh menikmati hobiku saat ini. Entah mengapa, aku merasa lebih puas karena berhasil menyelesaikan karya yang mendalam.
Ketika aku menggunakan prinsip ini, aku merasa lebih baik. Aku berhasil membaca buku lagi setelah berbulan-bulan kena reading slump. Aku berhasil menggambar secara mendetail. Kemudian aku berhasil untuk mengalahkan rasa takutku untuk menulis blog lagi (Dulu aku terakhir menulis blog di blogspot waktu masih SMA).
Prinsip ini berbanding terbalik dengan konten wanita high value yang seringkali lewat di sosial mediaku, yang mostly upgrade diri selalu dikaitkan dengan relationship dengan lawan jenis. Aku gak mengatakan kalau ini salah tapi aku merasa kurang cocok dengan pemikiran tersebut. Namun aku tidak munafik, aku ingin pasangan yang berkualitas dan sefrekuensi denganku.
Karena aku ingin pasangan yang sefrekuensi denganku, aku ingin nyaman dengan prinsipku sendiri dulu (asal bukan prinsip yang menyimpang norma). Aku juga harus tau apa yang aku suka dan apa yang tidak aku suka. Namun, aku juga selalu terbuka untuk mencoba hal-hal yang belum pernah aku lakukan.
Intinya, konsepku adalah
"Buatlah rumah yang nyaman untuk dirimu sendiri, Tamu yang tepat akan datang"
Yap, bagiku hidup hanya berfokus untuk menjadi wanita terbaik untuk dipilih pria itu terlalu dangkal. Aku ingin hidup sebagai diriku dan ingin melakukan sesuatu semaksimal mungkin tanpa memikirkan validasi pria.
Jangan Panik, Tidak Perlu Piknik, Bekerja dengan Asyik
Jangan Panik, Tidak Perlu Piknik, Bekerja dengan Asyik
Persaingan semakin ketat di Area 1, bukan pekerjaan yang ringan dan rutinitas tapi Semua tim di Area 1 semua menguprade diri. Menuju arah yang lebih baik.
Contoh banyak divisi menjadi kuda hitam. Melonjak naik ke papan atas klasmen Performance, Ripe, Unripe, dan lain lain. Contoh Mifta (GMKE 3), Lehon padang (SMNE 4), Yohannes ( SMNE 3)merangkak naik ke papan atas. Eko Wahyudianto( BDME 2) salah 1…
Di sudut kota Jogja, tepatnya di Laboratorium Hortikultura, Fakultas Pertanian segerombolan muda-mudi di sedang asyik berbincang tentang kehidupan.
Aku pun tertarik dan ikut mengobrol bersama mereka, para sensei Budidaya Pertanian angkatan 2012 dan mahasiswa fasetrack S2 S3.
Aku beri judul tulisan ini dengan
MENATA JEDA part 1
Orang-orang yang menjeda hidupnya bukan berarti ia bosan hidup atau tak mau melangkah kemana-mana. Tetapi orang-orang yang menjeda hidupnya berarti ia sadar bahwa hidup di dunia itu sebentar saja.
Maka dari itu, ia tak boleh larut dalam kesibukan dunia. Ia menjeda hidupnya guna menemukan dan memperkuat kembali kemana ia akan menuju setelah meninggal dunia kelak.
Salah satu waktu yang tepat untuk menjeda hidup adalah ketika akan tidur.
Pertama, gosok gigi. Dinikmati saja, atas-bawah, ke kiri-ke kanan. Bagian dalam gigi ikut disikat. Lidah juga ya.
Ketiga, kibas-kibaskan selimut dan sprei sebanyak 3 kali.
Kedua, ambil air wudhu. Nikmati setiap tetes air yang membasahi pori-pori kulit.
Keempat, minum air putih yang cukup.
Kelima, sebelum berbaring membaca Ayat Kursi 1x, An-Naas 1x, Al-Falaaq 1x, dan Al-Ikhlaas 3x. Habis itu ditiupkan ke kedua telapak tangan. Lalu diusahakan ke seluruh tubuh.
Keenam, perbanyak do'a. Minta tolong Allah agar dilindungi dari godaan syetan terkutuk waktu tidur. Minta tolong juga agar bisa bangun 1/3 tengah malam.
Sebelum memejamkan mata, usahakan tersenyum syukur dan katakan:
Terakhir, maafkan semua kesalahan orang padamu. Kuncinya : Ridho. Ini amalan istimewa dimana Rasulullah s.a.w. berkata bahwa ini adalah amalan yang bisa mengantarkan ke Surga.
"Yaa Allah... terima kasih atas kehidupan yang Engkau berikan. Semoga esok hidup hamba jauh lebih baik."
Tidur yang berkualitas itu butuh persiapan, maka jangan "ujug-ujug" langsung tidur. Seperti halnya pelari maraton, ia butuh pemanasan, tidak "ujug-ujug" lari, bisa keram ntar.
Semoga kita semua diberi kemudahan dan keistiqomahan dalam mengamalkan ketujuh hal tersebut.
2 Dzulqoidah 1440H
Bukan seberapa lama waktu tidur kita, tapi seberkualitas apa waktu tidur kita.
Ga ada yang salah untuk menyayangi orang lain, tapi orang kebanyakan lupa untuk menyayangi diri sendiri.Lupa untuk mengejar kebahagiaan diri sendiri, karena sibuk membahagiakan orang lain yang mereka pikir dapat mendapatkan bahagia juga atau akan dibahagiakan juga.Tapi kenyataannya yang mereka lakukan hanya untuk mendapatkan kebahagiaan yang semu dan bias.Bukan kebahgiaan sejati, karena toh bila orang yang dibahagiakan tidak membalas kebaikan orang itu maka orang itu akan kecewa.
Maka dari itu bagaimana supaya tidak kecewa? Salah satunya adalah dengan menyayangi diri sendiri dulu.Kenapa?karena ketika lu sudah bisa menyayangi diri sendiri maka lu tau apa yang terbaik buat lu dan ga akan memilih sesuatu yang bakal membuat lu kecewa.Lu Bakal terhindar dari perbuatan perbuatan bodoh atas nama kebahagiaan tulus dan apapun itu.Lu bakal terhindar dari rasa ngarep walaupun lu tau sifat dia bakal membuat lu ribet dan membuat lu menderita.Karena apa? Karena lu tau apa yang terbaik buat lu bukan buat orang lain.
Jadi mulailah mengenal diri lu dulu sebelum lu memulai mengenal orang lain, sayangi diri dulu sebelum menyayangi orang lain, bahagiakan diri sendiri dulu sebelum membahagiakan orang lain.Itu adalah prinsip yang harus di pegang teguh dan ujiannya sangat berat.Mungkin teorinya mudah sekali, tapi ketika di lapangan lu bakal kelabakan bahkan lu ga bakal inget tentang prinsip ini karena lu dibutakan oleh ngarep(bukan cinta).Orang yang ngarep itu cenderung ga bisa mikir kalo itu ga bagus mereka hanya berpikir bagaimana agar dia suka sama gw.Apapun bakal dilakukan walaupun bertentangan sama prinsip dan ga baik buat dia.
Dan terlebih lagi kalo lu ngarep lu bakal banyak berpikir menggunakan perasaan dibandingkan dengan otak dan akal sehat logika.lu bakal truss berinventasi ke dia sedangkan dia tidak berinvestasi apa apa ke kita.Dan truss terusss akhirnya kecewa apalagi secara diatas kertas orang itu memang tidak sesuai dengan kriteria kita hanya di butakan oleh fisik belaka.Hati hati dengan perasaan karena semakin menggunakan perasaan maka akan semakin cepat kecewa.
Oleh karena itu sayangi diri sendiri, karena hanya diri lu doang yang bisa menghindarkan lu dari rasa kecewa dan desperate.Hanya diri lu doang yang bisa menilai suatu keputusan itu baik buat lu atau tidak, bukan temen lu bukan orang tua bukan siapapun.