Sempat aku membaca sekilas tentang tulisan penghuni Tumblr yang lain beberapa waktu lalu. Bahwa ada tipe masalah yang tidak bisa diselesaikan tanpa mencapai suatu tingkat kesadaran yang baru. Terakhir, aku hanya memahami dua tipe masalah yaitu masalah yang muncul untuk diselesaikan dan satu lagi adalah masalah yang hadir hanya untuk dihadapi dalam diam alias membiarkannya mengalir begitu saja atau menerimanya. Tapi kini, aku menemukan satu tipe masalah baru yaitu masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan ilmu yang baru, kesadaran baru.
Di penghujung bulan April, bulan dimana keponakanku yang merupakan anak ke-3 dari mbakku lahir, aku menonton sebuah podcast yang benar-benar membuka mataku. Tentang pernikahan yang harus dimulai dengan kesadaran dan ilmu. Kukira cukup dengan ikut kelas pranikah di sana dan di sini, dapat teori ini dan itu, diskusi dan mendengar pengalaman dari si A hingga si Z. Ternyata semua ilmu itu kosong jika tidak berhasil menciptakan satu bentuk kesadaran baru. Sama halnya seperti ilmu tanpa amal, hanya sekadar tahu tetapi tidak mengubah apapun dalam kehidupan seseorang tersebut.
Bagiku, kesadaran adalah langkah awal paling konkret untuk beramal dengan ilmu yang baik.
Seorang ahli pernikahan dan parenting di podcast tersebut sudah menikah selama lebih dari 40 tahun dan beliau berkata bahwa menikah itu bisa terjadi karena keinginan dan kebutuhan. Keinginan itu sumbernya dari faktor eksternal sedangkan kebutuhan itu bersumber dari internal diri. Dalam pernikahan setidaknya ada tiga kebutuhan yaitu biologis, emosional, dan spiritual. Maka kesadaran atas kebutuhan tersebut dan yakin bahwa melalui pernikahan tiga hal tersebut bisa terpenuhi, maka itulah orang-orang yang akan memiliki pernikahan berjangka panjang (terutama sadar atas kebutuhan spiritual).
Banyak wanita yang menyesal dalam pernikahannya karena mereka menikah tanpa memiliki kesadaran terlebih dahulu. Tetapi, ada juga yang semakin bersinar setelah menikah karena dia menemukan tujuan hidupnya dalam pernikahan. Beliau juga bilang bahwa menikah itu pilihan, konstruksi sosial saja yang membentuknya seakan-akan menikah itu wajib, terutama jika sudah menginjak usia tertentu.
Ya, sadar. Ilmu sebelum amal dan amal setelah ilmu. Lantas menikahlah saat sudah sadar dan berkebutuhan.
Satu kesadaran lain aku dapatkan dalam proses bersama Aksar Amad. Awal bulan April, dia memintaku untuk mencari opsi baru. Siapa sangka ide darinya ternyata benar-benar berhasil? Aku menemukan opsi lain yang baru, Tihar namanya. Selisih 8 tahun denganku, seorang mualaf, laki-laki sirkasia asli keturunan Yunani dan juga tinggal di sana.
Obrolan mengalir selama kurang lebih dua pekan tetapi harus diakhiri karena perbedaan budaya dan standar dalam berkomunikasi. Tihar bilang bahwa selesainya proses ini bukan berarti ada yang salah dalam kualitas kami masing-masing sebagai individu, kami hanya tidak sempurna cocok. Padahal yang dia cari adalah kecocokan 100% tanpa cela. Berbeda denganku yang masih memiliki ruang untuk kompromi.
Dan yeah, meski disayangkan, Ibuk juga bilang padaku bahwa tidak peduli dia laki-laki Eropa atau bukan, yang terpenting adalah kenyamananku, termasuk di dalamnya keyakinan bahwa aku bisa hidup bersama dengan baik dan tenang untuk jangka waktu yang panjang.
Dan yeah, hingga hari ini ternyata yang masih terus berlanjut adalah Aksar Amad dengan segala kelebihan dan kekurangan yang bisa aku terima dan nikmati bersama di dalam perjalanannya.
Dan yeah, aku akan terus mendoakan yang ke-13 agar selalu diberikan kemudahan, keberkahan, kesehatan, kesejahteraan, dan rida Allah tentunya. Mengapa sekarang berubah menjadi mendoakan yang ke-13? Karena nomor urut ke-12 kini sudah disematkan olehku untuk keponakanku yang baru lahir pertengahan April lalu. Alhamdulillah wa barakallaah.