[Urip Iku Urup] Di dalam kehidupan, egoisme pribadi seringkali menguasai, kita ingin pribadi kita menjadi prioritas, tak peduli orang lain mau bagaimana. Lantas setelah mendapatkan hal tersebut, apa yang kita rasakan? Puas, barangkali itu yang pertama kita rasakan, bangga menjadi yang kedua, namun belum tentu bahagia yg kita rasakan. Kita dapat melihat berbagai contoh di dunia, bahwa kebahagiaan tidak selalu linear dengan banyaknya harta atau kedudukan yang tinggi. . Sebaliknya, ada banyak orang yang mempunyai kehidupan biasa saja, namun rasanya bahagia. Mengapa demikian? Karena ternyata hidupnya didedikasikan agar bermanfaat untuk orang lain. Kepuasan batin ketika membantu orang lain inilah yang menimbulkan rasa bahagia. . Sebagai manusia, kita saling terhubung satu sama lain, dan hubungan itu diharapkan hubungan yang saling menguatkan bukan yang mencerai-beraikan. Kita dapat rasakan, kehidupan belakangan ini tak lagi saling menerangi, banyak yang lebih suka membenci, mencaci maki, atau beradu diri. . Urip iku Urup, sebagaimana lentera yang menerangi gelap, bermanfaat untuk orang lain, saling asah asih asuh, dan semoga kita akan memanen hasilnya kelak. . “Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama ia senantiasa menolong saudaranya”. HR. Muslim dari Abu Hurairah . . #UripIkuUrup #tersenyumlah #kaya#adik#yang#dibelakang#saya #manisbukan? https://www.instagram.com/p/BrczH34HHfm/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1aqdunw68zzch