Dalam kajian islam, kita sering mengenal istilah "Akar Utama" (Ushul) dan "Cabang" (Furu'). Akar adalah fondasi dasarnya, sedangkan cabang adalah hal-hal yang tumbuh di atasnya. Konsep sederhana ini sebenarnya sangat membantu kita untuk memahami kondisi jiwa manusia dengan lebih adil, tanpa harus terburu-buru menghakimi.
Mari kita coba lihat dari dua sisi yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.
Pernahkah kita melihat seseorang yang begitu mudah cemas, sangat sensitif, atau sulit memercayai orang lain karena memiliki trauma masa lalu? Sayangnya, kadang masih ada ucapan yang kurang bijak mengalir seperti, "Kamu begitu karena kurang ibadah," atau "Imanmu kurang kuat, makanya gampang stres."
Kalimat seperti itu, meski niatnya mungkin untuk mengingatkan, sering kali justru terasa menyakitkan bagi yang mendengar.
Jika kita gunakan konsep atau analogi tadi, keimanan atau niat seseorang untuk menjadi orang baik adalah Akarnya. Sedangkan rasa cemas, mudah tersinggung, atau rasa takut akibat trauma adalah Cabang yang sedang terganggu karena pengalaman hidup yang berat.
Sama seperti orang yang sedang sakit fisik, mereka tidak bisa berjalan cepat bukan karena mereka malas, melainkan karena kakinya memang sedang terluka. Begitu pula dengan kesehatan mental. Seseorang bisa saja memiliki iman yang baik dan rajin beribadah, tetapi jiwanya memang sedang mengalami luka emosional yang membutuhkan waktu, kesabaran, serta bantuan profesional untuk sembuh.
Mendengar dan menemani mereka dengan tulus jauh lebih meneduhkan daripada langsung menilai kualitas hubungan mereka dengan Tuhan.
Namun di sisi lain, kita juga perlu jujur melihat fenomena sebaliknya. Kadang-kadang, ada seseorang yang menjadikan kondisi kesehatan mentalnya sebagai alasan atau tameng untuk membenarkan perbuatan buruknya kepada orang lain.
Misalnya, ketika mereka berbicara kasar, bersikap egois, atau melanggar janji, mereka membela diri dengan berkata, "Ya maklumi saja, mental saya memang sedang tidak stabil.", "Gue kan bipolar, makanya wajar kalau gue selingkuh/maki-maki orang, lo harus maklum.", atau "Pengen mati aja."
Di sinilah kita perlu menempatkan sesuatu pada porsinya. Memiliki luka batin atau kecemasan adalah hal yang nyata, dan perasaan sedih atau kecewa itu sangat valid untuk dirasakan. Tetapi, kondisi mental yang sedang tidak baik tidak boleh menghapus kewajiban kita untuk tetap bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri.
Akar kita sebagai manusia adalah menjaga lisan serta sikap dan tidak merugikan orang sekitar. Kondisi mental yang terganggu adalah tanda bahwa ada bagian dari diri kita yang harus diobati dan diperbaiki, bukan sebuah izin atau "kartu bebas vip" untuk berbuat semena-mena.
Mari kita jadikan pemahaman ini sebagai cermin untuk melihat diri kita dan orang lain dengan lebih jernih.
Kepada orang lain yang sedang berjuang mari kita ulurkan empati dan bantuan. Kita hargai perjuangan mereka tanpa perlu menghakimi seberapa besar atau kecil iman yang mereka miliki. Kita tidak akan mudah memberi label "kurang iman" kepada mereka yang sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya. Kita juga tidak akan memaklumi perilaku buruk yang merugikan orang lain dengan dalih kesehatan mental.
Kepada diri kita sendiri, jika kita sedang merasa tidak baik-baik saja, mari kita fokus untuk mencari kesembuhan, tanpa menjadikannya alasan untuk menyakiti orang-orang di sekitar kita.
Hidup akan terasa jauh lebih tenang dan damai saat kita bisa saling memperlakukan sesama dengan penuh kelembutan, sekaligus tetap menjaga tanggung jawab kita sebagai manusia.
Disclaimer: tulisan ini hanyalah rangkuman dari keterbatasan ilmu, pengalaman, cara berpikir, dan sudut pandang penulis. Isinya tidak dimaksudkan sebagai kebenaran mutlak, melainkan refleksi yang mungkin berbeda dengan pandangan pembaca. Semoga dapat menjadi bahan renungan, percikan ide, atau sekadar sudut pandang lain yang bisa memperkaya perjalanan berpikir bersama.
@clichemistry


















