Penafsiran / Fikri Tirta
"Ternyata, aku memang payah. Apalagi untuk urusan hati ke hati, tak akan pernah aku menjuarainya. Banyak waktuku terlalu sering membiarkan orang datang dan pergi. Seakan diriku adalah pemberhentian kereta pada malam hari. Seperti tak ada daya dan hanya membiarkan hal itu terjadi. Kurasa sudah cukup untuk menjadi pemberhentian, kini aku lah yang harus berhenti untuk kepastian. Tidak seharusnya seorang seperti diriku ini menjadi ibarat pelampiasan untuk sehari, aku harus berhenti."












