"Ternyata, aku memang payah. Apalagi untuk urusan hati ke hati, tak akan pernah aku menjuarainya. Banyak waktuku terlalu sering membiarkan orang datang dan pergi. Seakan diriku adalah pemberhentian kereta pada malam hari. Seperti tak ada daya dan hanya membiarkan hal itu terjadi. Kurasa sudah cukup untuk menjadi pemberhentian, kini aku lah yang harus berhenti untuk kepastian. Tidak seharusnya seorang seperti diriku ini menjadi ibarat pelampiasan untuk sehari, aku harus berhenti."
Hari ini saya belajar bahwa hidup di dunia hanya soal interpretasi.
Setiap gelaknya, gegap gempita semesta merupakan cerminan nafsu pencarian kebahagiaan seorang gadis separuh dewasa yang sedang jatuh cinta. Setiap lusuh, muram, dan kejamnya dunia menjadi pengejahwantahan dari tangisan anak-anak balita di sudut jalan malam kota metropolitan. Namun sayangku, dunia yang penuh perasaan roman hari ini, adalah dunia yang sama dengan dunia yang penuh kebengisan. Yang berlomba-lomba mencari kekuatan tahta entah yang mana dan dimana. Sikut menyikut tanpa peduli pakem kemanusiaan terpatri dalam dirinya.
Ada Dia yang mencari kejayaan. Baik dalam seonggok ideologi atau norma yang dibuat nenek moyang. Dia lantang menentang yang hitam dan setiap hari berpoles untuk menjadi putih. Meski kadang dalam putihnya hanya pantulan kesilauan.
Ada Dia yang sibuk berlari mengejar detik. Berpeluh mencari pundi-pundi demi kebahagiaan orang-orang. Dia ditekan nilai-nilai fana dari suatu strata sosial sehingga berjuang dalam kesepian. Terkadang bahkan melupakan untuk siapa dan apa yang diperjuangkannya, hingga hilang perasaan. Mati pun untuk tenggelam.
Ada Dia yang berjalan pelan dalam pikirannya. Mengawang, menafsir, membentuk teorema demi lahirnya sebutir kebajikan. Tapi sayang, Dia yang bijak ini selalu bersusah payah dalam mewujudkannya. Ihwal nyata dan angan sungguh perih. Manusia sungguh dungu.
Ada Dia yang senang menerobos dinding-dinding pengekang. Mungkin Dia ini merupakan makna terdekat dari kata ‘bahagia’ karena jalan yang diikuti katanya dari nurani. Namun lagi, tak semua nurani itu suci nampaknya. Sebagian nurani sangat amis dengan kencing iblis. Ketika Dia yang ini mengikutinya, maka hilang lah.
Kemudian ada Dia yang baik hatinya. Senantiasa berbuat dharma dengan sesama tanpa peduli dari kelompok setan mana Dia dan yang lainnya berasal. Dia yang seperti ini sudah sulit ditemukan di tengah kerumunan para pencaci. Termasuk yang hampir punah.
Sayangku, sungguh banyak Dia disini. Entah dimana masing-masing kita berpijak, semua terserah hidup.
Hidup dengan semua interpretasi, penafsiran, dan sudut pandang. Saya, kamu, atau mereka. Semua niat dan perbuatan tergantung penerimaan akal. Salah atau Benar; Suci atau Haram semua dipenuhi tafsir. Seperti saya yang tak paham maksud ucapan mu, dan kamu yang akan selalu salah mengerti perasaan saya.
Seorang pengusaha muda yang sukses dan kaya raya terpaksa harus menghadapi ajalnya karena kanker kulit yang parah akibat sensitifitas tidak normal terhadap sinar matahari.
Sebelum meninggal, kepada dua anaknya yang masih belia ia berpesan :
“Ayah akan mewarisi seluruh kekayaan dan usaha ini pada kalian berdua. Ayah hanya memberi dua pesan utama agar kalian sukses dan kaya raya seperti ayah tapi bisa menikmatinya lebih lama.”
“Pertama jangan biarkan sinar matahari menyinari kulitmu secara langsung terlalu lama, karena mungkin gen kanker kulit ini menurun pada kalian. ”
“Kedua, dalam bisnis, jangan pernah menagih hutang pada pelanggan.”
Setelah memberi pesan tersebut sang ayah meninggal, tanpa sempat memberi penjelasan yang lebih banyak. Kedua anak tersebut berjanji akan memenuhi permintaan ayah mereka.
Kedua anak tersebut dibesarkan oleh ibunya. Setelah cukup umur, sang ibu memberi keduanya usaha yang diwariksan ayah mereka.
Sepuluh tahun kemudian, salah satu anak menjadi anak yang sangat kaya raya, sedangkan satu lagi menjadi sangat miskin.
Sang ibu akhirnya bertanya, kenapa salah satu menjadi miskin sedangkan yang satu menjadi kaya. Padahal keduanya memegang teguh nasehat ayah mereka.
Anak yang miskin berkata pada ibunya.
“Ibu, bagaimana saya tidak miskin. Ayah berpesan agar selalu menghindari matahari. Jadi setiap pagi aku harus pergi pakai kendaraan, sewa mobil, naik taksi, sekalipun sebenarnya jaraknya dekat dan bisa jalan kaki. Tentu saja hidup saya menjadi boros. Lalu ayah berpesan jangan menagih hutang kepada klien. Tentu saja bisnis saya tidak berjalan baik. Setiap kali ada yang menunggak saya tidak bisa menagih sehingga lama kelamaan modal saya habis. Saya jadi bangrut dan miskin!”
Lalu sang ibu menengok ke wajah anak yang kaya raya, menunggu jawaban. Kepada sang ibu anak yang kaya berkata;
“Wahai ibu, saya menjadi kaya raya seperti ini karena mengikuti nasehat akhir ayah. Karena ayah meminta saya menghindar dari matahari, maka saya selalu pergi ke kantor sebelum matahari terbit. Kalau dekat saya bisa jalan kaki tanpa perlu takut sinar matahari karena belum terbit. Karena saya selalu datang pagi pegawai jadi ikut disiplin tidak berani terlambat. Sedangkan ketika pulang, saya selalu menunggu matahari terbenam, jadi jam kerja saya selalu di atas rata-rata orang lain. Lalu ayah berpesan jangan menagih hutang pada klien. Karena itu saya menerapkan sistem cash and carry, sehingga arus kas perusahaan saya sangat maju.”
Demikianlah akhirnya sang ibu tahu bagaimana nasehat yang sama bisa menghasilkan penafsiran yang berbeda dan hasilnya jauh berlawanan.
Apa pelajarannya? Kadang konsep dan penerapan berbeda jauh. Sering kita lihat orang yang memegang kitab suci yang sama tapi berbeda jauh kualitas hidupnya, padahal keduanya sama-sama merasa berpegang teguh pada kitab tersebut.
Sering kita lihat pegawai yang bekerja dengan peraturan perusahaan yang sama tapi sikapnya saling berseberangan. Kadang -kadang masalah utama bukan di peraturannya tapi bagaimana kita menerjemahkannya