Al Amal : Kerja Untuk Perubahan Masyarakat
Kencenderungan sufi, sudah Nampak sejak zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, namun selalu mendapat koreksi dari beliau. Suatu masa dalam suatu perjalanan pasukan kecil beliau, seorang mujahid terpesona oleh keindahan waha (oase) di tengah padang pasir dengan rumpun kurma, sebongkah lahan produktif dan sumber air yang cukup untuk seumur hidup.
“Oh, alangkah nikmatnya bila aku tinggal disini, beribadah kepada Allah dan tak perlu lagi kembali ke Madinah, sehingga aku bebas dari gangguan masyarakat atau mengganggu mereka”. Rasulullaah shalallahu ‘alaihi wassalam segera mengoreksinya: “Jangan lakukan hal itu, karena kedudukan kalian di jalan Allaah sehari saja menandingi 70 tahun tinggal dan beribadah disini”.
Bahkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengecam para pengikutnya yang loyo dalam meperjuangkan kebenaran dan pendirian yang mereka yakini,
Oh, alangkah mencengangkan keberanian mereka dalam kebatilan dan lesu kalian dalam memperjuangkan hak Oh, ajaib nian ketika kalian jadi sasaran tembak kalian diserang dan tak balas menyerang Allaah di tentang, kalian senang
Hari ini ribuan surat kabar, radio dan televise dunia berkerjasama di berbagai kawasan untuk menyebarkan fasad (kerusakan). Menyedihkan nasib si miskin, yang mampu beli TV tetapi tidak bisa makan. Hati mereka dibunuh sebelum jasad mereka dihancurkan senjata pamungkas. Kemana ribuan kader yang hanya menggerutu tanpa berbuat apapun kecuali gerutu? Apakah masyarakat dapat berubah, hanya dengan gunjingan dari mimbar masjid? Hari ini rumah ummat kebakaran, tidaklah setiap orang patut memberi bantuan memadamkan api walaupun hanya dengan segelas air, dengan pulsa, perangko, dan kertas surat yang dikirimkan kepada pedagang kerusakan dan menegaskan pengingkarannya terhadap ulah mereka yang sangat menyengsarakan masyarakat dengan siaran dan penerbitan fasad, sebelum mereka mengirimkan darah dan nyawa mereka kesana ketika usaha santun tak lagi membawa hasil?.
Banyak upaya dilakukan. Sebagian menyentuh kulit tanpa isi. Sebagian memaksakan pekerjaan berpuluh tahun dalam waktu sekejap mata. Sebagian membangun symbol-simbol tanpa peduli substansi dan tujuan untuk apa wahyu diturunkan. Mereka yang senantiasa tadabbur Al Qur’an akan melihat keajaiban ungkapan. Ketika Allaah mengisahkan kedunguan ahli kitab yang bangga dengan status zhahir mereka, Ia menyebutkan, “Mereka mengatakan, takkan masuk surga kecali (yang berstatus) Yahudi dan Nasrani. Itulah angan-angan mereka.” Dan ketika Ia mengisahkan sikap keberagaman kaum beriman, disebutnya prestasi mereka, “Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allaah seraya berbuat ihsan, maka baginya ganjarannya disisi Tuhannya dan tiada ketakutan atas mereka, tiada pula mereka akan bersedih”. (QS. Al Baqaarah ayat 111-112).
Banyak orang mengandalkan nisbah diri dengan nama besar suatu organisasi atau jama’ah, berbangga dengan kepemimpinan tokoh perubah sejarah, padahal sama sekali tidak meneladani keutamaan mereka. “Barangsiapa lambat amalnya, tidak akan menjadi cepat karena nasabnya” (HR. Muslim).
Apa yang harus dikerjakan?
Sebagian kerja dakwah memang kata, tetapi tak dapat dituding sebagai cuma omong, seperti halnya penyiar dan reporter yang mengisi daftar profesi yang kerjanya hanya berbicara. Namun perlu dibedakan mana dakwah yang mencukupkan diri dan puas dengan hanya meberi informasi seram kepada khalayak, atau meninabobokan khalayak dengan mimpi-mimpi indah, atau mengingatkan bahaya seraya memberikan jalan keluar. Mampukah mereka menjadi problem solver, ataukah cukup menjadi problem speaker, dengan peluang terbesar menjadi problem maker. Dan hari ini banyak ditemui mereka yang kaya karena menjadi problem trader.
…
Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna. 1. Al Fahmu
2. Al Ikhlas
3. Al Amal















