“Tak akan sampai kepada Allaah, daging dan darah qurban itu, akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya ialah taqwa dari kamu” (QS. Al Hajj ayat 37).
Banyak orang berharta dengan banyak hutang. Banyak lagi orang miskin dengan banyak hutang. Ada orang kaya amal dengan banyak tuntutan yang harus dilunasinya di hari pembalasan kelak. Ada juga orang yang sederhana amalnya, dengan ketulusan tiada tara. Pujian tak membuatnya bertambah gairah dan celaan tak menghambatnya dari meningkatkan amal kebajikan. Ia ada ditengah keramaian dan jiwanya sendiri menghadap Khaliqnya, tanpa berharap dan peduli terhadap penilaian manusia.
Tiga hal yang tak patut hati seorang mu’min kering atasnya; 1. Ikhlas beramal karena Allaah, 2. Tulus terhadap para pemimpin (dengan nasihat dan koreksi), 3. Setia kepada Jama’ah Muslimin, karena dos mereka meliput dari belakang mereka. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Hakim, Abu Daud dan Tirmidzi).
Banyak hal yang Nampak sederhana, tetapi terabaikan, sementara obsesi besar sering menjadi symbol kebersamaan yang tak pernah terwujud atau takkan pernah terwujud, karena para pendukungnya tak pernah memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh, kecuali sebagai symbol status.
Hasan Al Bashri mencurahkan kebeningan hatinya di zaman yang rasanya begitu perlu penjernihan. “Tak ada lagi yang tersisa dari kenikmatan hidup, kecuali tiga hal: 1. Saudara yang kau selalu mendapatkan kebaikannya, biala engkau menyimpang ia akan meluruskanmu, 2. Shalat dalam keterhimpunan (jasad, hati dan fikiran), 3. Cukuplah kebahagiaan hidup dicapai, bila kelak tak seorangpun punya celah meuntutmu di hari peradilan kelak.”
Ketika seseorang berusaha keras untuk beramal tanpa berfikir keuntungan apa yang akan ia dapatkan, ia disebut mukhlis, artinya orang yang menyerahkan amalnya kepada Allaah dengan sepenuh hati tanpa pamrih duniawi. Pada saat ia mendapatkan dorongan beramal tanpa ingat apapun kecuali ridha Allaah, ia menjadi mukhlas, artinya orang yang dijadikan mukhlis.
Ada orang yang hanya dengan melihatnya, itu cukup membuatmu ingat kepada Allaah, bicaranya cukup menambah amalmu dan amalnya cukup mebuatmu rindu akhirat.
Tulisan ini merupakan rangkaian karya dari Almarhum Ust. Rahmat Abdullah yang pernah dimuat di majalah Tarbawi dengan mengambil tema-tema refleksi seputar Al Arkan Al ‘Asyarah, Hasan Al Banna.
1. Al Fahmu