Tahun Politik (1)
Riuh. Semarak. Sekiranya itulah yang sedang dan akan terjadi di sepanjang tahun ini. Tahun Politik. Pesta demokrasi digelar di berbagai tempat dengan berbagai ke-khas-an yang mengiringinya. Kita semua punya pilihan. Anda, keluarga, kerabat, semua orang punya jagoan nya sendiri-sendiri. Para calon jagoan eksekutif di level kota,provinsi, bahkan sampai jabatan tertinggi di Republik ini sudah mulai bersiap menghadapi perhelatan akbar ini, pun dengan para calon jagoan di legislatif. Mereka, para penunggang demokrasi, tidak sedikit yang sudah dan mulai bersiap siaga dengan kuda-kuda mereka, lengkap dengan logistik yang digunakan untuk berlaga di medan juang. Pertempuran untuk memenangkan kepercayaan mayoritas publik atas mereka. Pertempuran untuk memenangkan kemuliaan kekuasaan.
Logistik,Apa? Seperti halnya peperangan, logistik memiliki peranan penting dalam perhelatan pesta demokrasi ini. Konon katanya negara ini memiliki ongkos politik yang tinggi. Seberapa tinggi? Entahlah. Uang menjadi barometer ketersedian logistik yang dimaksud. Logistik tidak hanya melulu soal uang. Sumber daya untuk logistik itu banyak memang, tetapi “uang” ,terminologi yang mudah dimengerti oleh semua khalayak. Uang itu konkrit. Beda halnya dengan ide & gagasan yang abstrak dan mesin partai yang terkadang sulit untuk diukur secara langsung.
Uang tidak bisa tidak ada untuk memenangkan pertempuran. Secara “syariat”-nya ia harus ada. Terlepas sumber pendanaannya dari diri masing-masing sang jagon, partai pendukung atau dari pihak eksternal. Ada donatur, bisa juga kreditur, bahkan juga investor. Ketiganya punya implikasi berbeda lho ya!
Ketika sang jagoan diminta mempersiapkan perbekalannya apakah itu sesuatu tindakan tercela? “Mahar politik” begitu sebutan kekiniannya.
Uang Minim, Berlaga? Bisa! IMHO, itu sangat sangat mungkin. Probabilitasnya tidak nol! Sebagaimana seseorang suka terhadap seseorang lain. Ia atas nama cinta, rela berkorban apa saja demi orang yang dicinta. Jika jagoan ini memiliki banyak pendukung yang suka terhadapnya, tentu fans club punya caranya sendiri untuk mendukung para idolanya bukan? Selain itu ide & gagasan, sesuatu yang abstrak ini juga modal yang tidak kalah penting.
“Money follows idea” orang-orang menyebutnya demikian. Ide & gagasan ini memberikan harapan kepada orang-orang sehingga publik bisa memilih untuk memperjuangkannya atau tidak. Uang sebagai sesuatu yang melekat pada orang-orang tentu akan ikut dengan sendirinya walau besarannya tidak bisa diprediksi pasti di awal. Narasi-narasi ide yang ada di kepala para jagoan inilah yang akan diperjuangkan mereka ketika mandat kepercayaan publik sudah mereka emban. Jadi hati-hati terhadap lintasan pemikiran-pemikiran yang ada pada diri jagoan-jagoan penunggang demokrasi. Cermati baik-baik jagoan Anda!
Banyak jalan menuju Jakarta dari Bandung. Pun untuk menjadi jagoan penunggang demokrasi,ia tidak harus bergelimang harta kekayaan. Prajurit bodoh bertombak, berperisai yang menunggangi kuda besi saja bisa kalah dengan seorang ksatria yang hanya bersenjatakan pedang di tangan kanannya. Kesiapan mental, keluasan ilmu, kebugaran fisik adalah sebagian faktor pembeda antara prajurit dengan ksatria. Selain itu, tidaklah terjadi sesuatu apapun tanpa seijin dan sepengetahuan Yang Maha Kuasa.
Para jagoan bersiap-siaplah dengan sebaik-baik persiapan!
Siapa jagoan yang Anda pilih nanti? The choice is yours! .








