Sedikit Curhat tentang Covid-19 dan Tes S2
Seberapa besar keinginan untuk melanjutkan jenjang pendidikan sampai s2? Cukup besar. Terlebih ketika aku jatuh cinta dengan mata kuliah psikoterapi, psikologi konseling dan fenomenologi.
Aku merasa passion aku di dunia psikologi ini bukan lagi sekadar soal dapat pekerjaan bergengsi dan gaji yang sepadan. Tapi ada panggilan jiwa, yaitu ketika bisa mendengarkan cerita orang lain dan membantu mereka menemukan solusi yang diharapkan.
Aku semakin sadar dengan hal tersebut ketika aku sendiri merasakan kehilangan karena Mama meninggal maret lalu. Jujur, rasanya kehilangan tujuan hidup. Kehilangan alasan untuk bertahan hidup. Tapi anehnya dengan terus membuka dm di twitter, menyediakan kesempatan untuk orang orang berbagi keluh kesah dan pengalamannya, itu terus menularkan semangat untuk terus hidup. Maka kalian bisa mengerti kan betapa butuhnya aku dengan profesi psikolog ini yang hanya bisa ditempuh melalui jalur s2?
Beberapa bulan sebelum pendaftaran aku sadar akan sangat berat untuk melewati tes ini. Maka aku beli begitu banyak buku. Sambil mempelajari bagaimana untuk self healing atas kedukaan yang aku alami, aku juga belajar lagi mengenai psikologi dan bagaimana persiapan untuk tes s2 nanti.
Namun kondisi benar benar 180 derajat berbeda ketika aku harus menerima kenyataan pelaksanaan tes itu bertepatan dengan kondisi fisik yang drop karena aku sedang menjadi penyintas covid-19.
Sejujurnya tidurku gelisah. Aku merasa punya tanggung jawab besar yang harusnya bisa aku penuhi namun tidak mampu aku penuhi. Aku sampai mimpi ada orang lain yang juga tes dan dia orang yang dituntut untuk berhasil oleh orang tuanya. Belakangan aku sadari bahwa orang tersebut adalah refleksi alam bawah sadarku karena rasa takut gagal dan rasa tanggung jawabku itu.
Berbulan-bulan aku sudah melaksanakan tes TOEFL, TPA, Tes kesehatan, dan printilan printilan lain yang harus dipenuhi untuk masuk perguruan tinggi yang aku kejar-UGM. Namun sebetulnya aku juga mendaftar ke UI dan tanggal 11 juli kemarin SIMAK UI aku tempuh dalam kondisi yang benar-benar tidak baik.
Tidak sarapan. Hanya beberapa gigit roti. Hari itu rasanya mual, lemas, pusing. Aku melewati SIMAK UI dengan fisik serba tidak nyaman. Tes TPA bisa dilewati dengan cukup aman. Sambil duduk mengikuti aturan. Tapi ketika tes TOEFL aku sampai berbaring dan membiarkan 10 nomor terakhir tidak diisi. Jujur, benar-benar tidak mampu rasanya membaca bacaan berbahasa inggris tersebut.
Tanggal 14 ketika hari pelaksanaan Tes UGM, fisik sudah terasa lebih baik. Ya walaupun cukup konyol karena aku benar-benar lupa belum print out kartu peserta dan KTPku masih disimpan di kakak-bekas swab di klinik. Hari itu aku beberapa kali keluar dari zoom, dan beberapa kali mematikan kamera hingga ditegur oleh pengawas. Tapi ya itulah. Belum mandi bahkan tidak sadar ada persiapan yang harus ditempuh dari jam 6 pagi. Yang aku ingat hanya tes jam 8 pagi tanpa kartu peserta dan kartu identitas.
Untungnya akhirnya aku bisa melewati tes itu. Mengisi semua pertanyaan terkait psikologi klinis dan sebuah kasus, yang padahal aku sendiri tidak mengerti karena aku mengambil konsentrasi sosial ketika s1 kemarin.
Yup. Tadinya tidak terpikirkan akan mengambil klinis karena di s1 kemarin menurutku dosennya cukup bergengsi dan mata kuliah klinis itu cukup sulit. But here i am. S2 memilih konsentrasi klinis.
Pada akhirnya wawancara pun terlaksana. Dengan kondisi fisik yang masih serba banyak keluhan, aku menjawab beberapa pertanyaan pertanyaan tersebut.
Mau tau seputar apa pertanyaannya?
Kurang lebih aku ditanya soal alasan memilih klinis, seberapa banyak artikel yang pernah aku buat di Into The Light Indonesia (aku kontributor penulis artikel disana btw), dan aku menceritakan juga soal betapa banyaknya orang yang curhat baik melalui media sosial maupun secara langsung. Beliau beliau ini juga menanyakan tujuan akhirku jika sudah lulus, dan aku menjawab panjang lebar soal psikologi kedukaan. yup, berkaitan dengan kedukaan karena mama meninggal juga yang menjadi motivasiku memperdalam tentang psikologi kedukaan ini. Kemudian pertanyaan terakhir soal strategi lulus cepat, aku tidak bisa menjawab. Dan diakhiri dengan pengakuanku soal kondisi fisikku yang tidak baik karena terjangkit covid.
Bagaimana rasanya? Jujur patah hati. Sebegitu pesimisnya aku karena banyak blank ketika mengisi soal. Padahal perjuangan dan persiapannya sudah dilakukan berbulan bulan. Namun dalam hitungan pekan bahkan hari, kondisi fisik yang tidak fit membuatku serba tidak siap menghadapinya.
Namun apa mau dikata. Kita tidak tau rezeki kita seperti apa kan?
Sekalipun tidak sakit, jika bukan rezekinya mungkin aku tidak akan diterima.
Well, aku masih menunggu pengumuman UGM tanggal 26 juli nanti dan masih ada wawancara UI tanggal 29 nanti. Siapapun kalian yang membaca tulisanku ini, aku mohon doanya semoga perjuanganku bisa direstui Tuhan ya. Atau sekalipun itu bukan rezekiku semoga hatiku dikuatkan dan diikhlaskan menjalaninya.
Alhamdulillah Bapak juga sudah memberi restu akan apapun hasil yang akan aku dapat. Tapi aku percaya, semakin banyak doa, semakin banyak afirmasi positif yang aku terima.
Sekian ceritaku (yang gak penting penting amat) semoga bermanfaat untuk kalian yang membacanya ya.











