Bedah Vokal: Pembagian Suara di Paduan Suara Bukan Tipe Suara Aslimu
Pernahkah kalian ikut paduan suara? Apa peranmu di sana? sopran? alto? tenor? atau bas? Apakah kalian yakin itu adalah tipe suara kalian?
Pada dasarnya sebuah paduan suara membagi suara menjadi empat, yaitu SATB (sopran, tenor, alto, bas). Di dalam partitur, peran tersebut disingkat menjadi S1, S2, A1, A2, T1, T2, B1, B2. Perbedaannya dengan tipe vokal kontemporer, tipe suara dibagi menjadi enam, yaitu soprano, mezzo-soprano, kontralto, tenor, bariton, dan bas.
Mengapa pembagian suara di paduan suara tidak bisa dijadikan patokan dalam menentukan tipe vokal asli kita?
Di dalam paduan suara, pengujian untuk menentukan peran seseorang adalah mencari jangkauan vokal. Contohnya, anggota wanita akan diuji untuk menggunakan upper register. Jika seseorang dirasa tidak mampu (underdeveloped) menghasilkan falsetto atau head voice yang diinginkan pelatih, maka dia akan diposisikan di alto. Begitu juga dengan pria, anggota pria yang tidak nyaman melakukan strain di nada dalam peran tenor akan diposisikan ke bas. Ketentuan bisa berubah sesuai kebutuhan.
Hal di atas menjelaskan bahwa pembagian suara di paduan suara adalah murni peran. Pelatih menempatkan di mana seseorang mampu berkontribusi dengan lebih baik. Jadi, pertimbangannya bukan dari tipe vokal versi kontemporer.
Sewaktu saya masih menjadi bagian dari paduan suara, saya hanya menganggap diri saya seorang bas. Namun, ada yang mengganjal setelah saya mempelajari teknik vokal kontemporer. Saya heran mengapa wilayah menyanyi alto di paduan suara hanya sekadar F3-C4? Itu kan daerah nyaman (tessitura) saya. Nada tersebut mudah dinyanyikan tanpa harus strain. Lalu apakah saya alto? Ah, tentu tidak, saya kan pria.
Sama juga dengan sopran yang porsi bernyanyinya mayoritas berada di upper register. Mereka menjadi sopran karena mampu memenuhi peran sopran yang membutuhkan banyak head voice dan falsetto. Jadi ini adalah murni peran. Pada kenyataannya, semua alto di paduan suara saya adalah seorang soprano (dalam vokal kontemporer). Selain itu, hampir semua tenor dan basnya adalah bariton.
Jadi apa yang bisa dipelajari?
Menentukan tipe suara tidak dapat HANYA menggunakan jangkauan vokal. Secara alami semua manusia berpotensi bisa menyanyi/mencapai nada apapun. Namun, tidak semua manusia mampu men-support nada yang sama. Ini yang menjadi POIN PENTING dalam menentukan tipe suara. Faktor utama yang mampu menentukan tipe suara manusia adalah tessitura dan passagi.
Apa itu tessitura dan passagi?
Tessitura adalah area ternyaman dari setiap tipe vokal. Di area tersebut, setiap tipe vokal menunjukkan kualitas (identitas) khas masing-masing. Misalnya, seorang bariton sangat bersinar dan nyaman bernyanyi di area oktaf ketiga. Kita bisa mendengar suara bariton tereksekusi dengan baik. Sedangkan passagi adalah jembatan antara register vokal. Passagi juga berbeda pada setiap tipe vokal. Untuk lengkapnya bisa simak halaman terminologi vokal.
Jadi, apabila kamu seorang tenor di paduan suara, belum tentu kamu seorang tenor. Bisa jadi kamu hanya terbiasa bernyanyi lebih tinggi dari peran bas. Begitu pula apabila kamu alto di paduan suara, mungkin kamu belum terbiasa menggunakan upper register.
Kisah nyata, teman saya seorang tenor di paduan suara. Dia biasa bernyanyi di daerah B3-F#4 tanpa masalah, semua orang menganggapnya tenor. Padahal dia adalah bariton. Daerah B3-F#4 adalah tessitura bariton (dengan passagi di B3). Berbeda dengan tessitura tenor yang jatuh di D4-A4. Bariton memiliki kualitas belt/mix yang lebih belty di tessitura tenor. Begitu pula tenor yang butuh usaha lebih untuk bernanyi di tessitura rendah Bariton di C3-A3. Namun, semakin baik teknik yang dikuasai, tidak menutup kemungkinan seseorang dapat men-support tessitura tipe suara lain.
Jadi, pembagian suara di paduan suara tidak bisa dijadikan dasar sepenuhnya untuk menentukan tipe vokal. Semua tipe vokal mampu bernyanyi di semua register.