geletar petir
aku tinggal di atasmu. luas terbentang tak bertiang. kadang orang-orang menyebutku biru, kadang juga putih. jika turun hujan, aku gelap. bagi sebagian orang, aku adalah ruang tak berhingga, yang menampung atas bertriliun benda-benda angkasa. meski berlapis tujuh, ketahuilah— sejatinya Semesta tak memiliki batas dan tepi. namai aku, langit.
aku mempunyai matahari yang kau jadikan sumber energi utama bagimu—menyinari dan menyambut pagimu. aku juga mempunyai awan bertindih-tindih untuk melindungimu dari terik tengah hari.
aku mempunyai bulan purnama, bulan sabit, juga bulan setengah untuk memperindah pesona malammu. aku juga mempunyai gemintang untuk menghiasi dan memperindahmu—yang selalu kita hitung dan kita amati bersama setiap malam.
aku memang mempunyai air hujan untuk membasahi tanah keringmu agar menjadi subur kembali. akupun mempunyai lengkung pelangi yang indah dan selalu berhasil membuatmu mengguratkan senyum manis.
hei, aku juga memiliki galaksi-galaksi yang mengikat segala aktifitas planet dalam rotasi dan evolusi supaya tidak keluar dari orbitnya. menakjubkan, bukan?
aku memiliki banyaaak sekali hal memukau yang bisa kapan saja kuberikan kepadamu. aku selalu ada untukmu. tapi yang perlu kamu ikat erat pada kepala dan hatimu, bahwa aku juga mempunyai gelegar petir dan kilat-kilat yang akan mengingatkan dan menyadarkanmu ketika kamu terlena menikmati indahnya semua yang kumiliki.
maksudnya, kamu jangan terlalu larut dengan pesona seluruh kebaikanku. setiap hal memiliki kekurangan juga. kamu jangan dengan mudah menggantungkan dirimu kepadaku. seperti halnya remora kepada ikan hiu.
bumi, mengerti maksudku, kan?












