Berpasangan
Berpasangan. For me one of the most important things in a relationship is, how you value your partner. I admit that in a relationship I seek mutual “benefits”, means, aku bisa belajar apa dari pasanganku? aku bisa kasih apa buat pasanganku? pun sebaliknya. Tidak melulu berat sebelah hanya satu pihak yang bisa berbagi. Menjadi “saling” adalah kuncinya, saling berbagi, saling belajar, saling sayang, saling mendukung, saling berproses, dan saling saling lainnya. Memahami love language masing-masing pun entah kenapa rasanya menjadi penting, jadi, ketika love tank kita sedang kosong, kita sama-sama tau dengan cara apa kita harus mengisinya. Ada yang dengan meningkatkan lebih banyak quality time bersama, memberikan pujian/semangat melalui kata-kata (words of affirmation), membantu pasangan dengan apa yang kita bisa lakukan (acts of service), memberikan hadiah/surprise (receiving gifts), atau memberikan lebih banyak sentuhan fisik (physical touch), eitss yang terahir kalau udah halal aja ya :P
Semakin ke sini aku semakin paham kalau komunikasi dua arah yang seimbang itu teramat penting. Bukan hanya karena ada timbal balik yang pas, tapi juga itu bisa menunjukkan sejauh mana kita dan pasangan saling tertarik untuk tenggelam dalam obrolan. Untuk orang sepertiku, yang cukup talkative dan memang senang sekali ngobrol, diskusi, juga bertukarpikiran, aku butuh pasangan yang mau dan betah mendengarkan aku, baik small talks maupun deep talks. Aku akan sangat menghargai orang yang mau mendengarkan, menyimak, dan merespon apa yang ku bicarakan. Karena aku pun merasa dihargai. Dan tidak semua orang bisa seperti itu. Beberapa kali dekat dengan lelaki, ada aja kok yang ga betah dengerin aku ngomong, jadi ya aku pun ngga mau banyak ngomong sama dia. As I can say that I’m also a good listener, so I just let him be, talk about everything he wants. Tapi dari situ ya aku jadi tau, I can’t be with him, especially for marriage. Living with a man who does not even excited to see and to hear me talk, is like a suicide for me.
Apa sih yang kamu cari dari pasangan hidup? kalau aku sudah merasa ada niatan ingin serius, pertanyaan itu yang akan aku lempar. Aku pernah dikasihtau oleh suami sahabatku, kalau dalam pernikahan itu, ga mungkin ada dua orang yang punya visi misi hidup yang sama. Setiap orang diciptakan berbeda, dan sebelum bertemu pasangannya, mereka sudah punya rencana, visi, dan misi hidup masing-masing. Maka suami dan istri pun pasti berbeda, tapi... visi dan misi itu bisa ber-irisan. Di titik mana beririsannya, itulah yang harus dicaritau, and try to make it works. Kita, pasti punya mimpi sendiri yang ingin dikejar, jauh sebelum ahirnya bertemu jodoh. Masa iya kita mau tiba-tiba membunuh mimpi-mimpi itu? Maka, berdiskusi lah, coba kompromi, dan cari solusi. Kalau memang tidak ada solusi yang menguntungkan kedua belah pihak, ya untuk apa dipaksakan? Aku tau visi misi hidup tiap orang ga akan sama, tapi ketika aku memutuskan untuk membawa sebuah hubungan ke level yang lebih serius, aku harus tau apa tujuan dia menikah, dan bagaimana dia ingin menjalankan pernikahan ke depannya. Termasuk perkara keuangan, aku butuh tau gimana dia memandang “uang”, gimana selama ini dia mengatur keuangannya sendiri? seberapa penting tabungan, investasi, asuransi, dan instrumen keuangan lainnya buat dia? sejauh mana profile resiko keuangan dia? Hahaha. ribet, tapi penting.
Menjadi lebih tolerant, open minded, sabar, dan mau terus belajar itu memang sepertinya sulit. Tapi, ketika kita mau hidup berdua dengan pasangan dengan komitmen yang jelas adalah pernikahan, ya harus sudah siap menurunkan ego masing-masing juga kan. Setelah menghadapi banyak kegagalan, aku belajar banget, gimana caranya mendengarkan pasangan lebih baik, apalagi ketika kita punya cara pandang suatu masalah yang berbeda, karakter yang bertolakbelakang, kebiasaan yang sangat berbeda. Apakah aku bisa memberikan toleransi yang BESAR untuk segala perbedaan itu? Apakah segala kekurangan pasanganku bisa ku terima perlahan-lahan? Apakah aku bisa cukup sabar untuk terus belajar? Kalau jawabannya iya, pasanganku pun idealnya harus bisa seperti itu. Haha. Kalau nggak, ya nanti capek sendiri.
Kalau aku boleh bilang sesuatu ke calon pasangan hidupku, aku ingin bilang, be full of yourself first. Kenyang lah dulu dengan diri kamu sendiri, sehingga kamu paham betul siapa diri kamu, paham bagaimana diri kamu bereaksi ketika dihadapkan dengan kekecewaan, keberhasilan, kebahagiaan, dan masalah hidup lainnya. Paham betul apa yang kamu suka dan kamu tidak suka. Penuhi lah dulu dirimu, cintai dirimu, hargai dirimu, sebelum kamu lakukan itu kepada orang lain, bahkan pasangan. Aku percaya, dengan mengenal, mencintai, menghargai diri sendiri dulu, maka kita akan lebih mudah mencintai orang lain dan pasangan. Aku pun sangat setuju dengan quotes islamic ini
“Man 'arafa nafsahu, faqad 'arafa rabbahu”, siapa yang benar-benar mengenal dirinya, maka Ia mengenal Tuhannya.
Dalam berpasangan, tentu sudah sewajarnya kalau kita saling memberi. Tapi, kalau diri ini kosong apa yang mau diberi? yang ada hanya dua gelas kosong yang saling tidak bisa mengisi. Jadi, ketika kita sudah “penuh”, berbagi dengan pasangan tidak menjadi hal yang berat.
Timeline hidup tiap orang itu berbeda. Ada yang dewasa sejak dini, lancar sekolah, lancar kerjaan lalu tautau nikah.. ada yang terlihatnya ngejar karir mulu lalu nikahnya nanti, ya macam-macam. Tapi kita ngga bisa judge gitu aja, ngga ada standarnya. Selama mau berproses, mau berubah menjadi lebih baik, mau ikhtiar, I believe we can make it works.
Jadi, buat kamu yang masih suka godain temennya dengan bertanya hal ga penting semacam “Kok belom nikah?” “Ngejar karir ya?” “Kok belom punya anak?” “Kamu picky ya?” atau lainnya. Please stop and mind your own business. Karena kamu nggak pernah tau perjuangan apa yang sudah atau sedang teman kamu hadapi. He he he. Be kind!










