Murid yang nyontek mungkin disebabkan oleh karena mereka merasa dirinya bukan mesin yang bisa hafal semua (BP) #WAKTUSMA #MASAMUDAYANGKELAM #SMANDU #TEATERSMANDU Line: bagusnasution20

seen from France

seen from United States
seen from Russia

seen from Sweden

seen from Australia
seen from Netherlands
seen from United States
seen from Russia
seen from Yemen

seen from Saudi Arabia
seen from Germany

seen from Australia

seen from Germany
seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from China

seen from United Kingdom
seen from Finland

seen from Finland
seen from United States
Murid yang nyontek mungkin disebabkan oleh karena mereka merasa dirinya bukan mesin yang bisa hafal semua (BP) #WAKTUSMA #MASAMUDAYANGKELAM #SMANDU #TEATERSMANDU Line: bagusnasution20
Ini tentang pengalaman #WaktuSMA anne di SMA terbaik katanya- Masa-masa SMA anne dibesarkan dilingkungan asrama dengan segala keterbatasan akses apapun. Hiburan satu-satunya adalah majalah dinding sekolah yang syukur-syukur bisa baca koran hari itu. Anne tumbuh di lingkungan dengan segala peraturan dan hukumannya. -- Jenuh sudah pasti selalu menghantui, terkadang juga kesal karena dibatasi. Tapi anne bersyukur Ia punya teman banyak, punya banyak kisah untuk diceritakan. Sedih pisah dari orang tua, bahagia bisa makan enak (meski sekedar ayam atau bakso), dan jatuh cinta. -- Anne sekarang sudah besar, dan ia mulai bertanya-tanya, apa sekolah yang baik memang harus seperti penjara? Seperti bahasan foucault tentang analogi penjara panopticonnya. Pict : google #Jurnal8 #30HariBercerita #30HBC1708 #30HBCWaktuSMA @30HariBercerita
8/30 Di hari ke-8 ini, admin @30haribercerita menetapkan tema #WaktuSMA. Karena pada saat saya SMA kameranya masih analog dan saya lupa dimana saya menyimpan foto yang pernah saya pindai, saya mohon izin menggunakan foto adik-adik @johansaputrasinaga @ayie_rizali4 @lya.daumari @kampusmatauli yang diunggah di Instagram. Jika keberatan, mohon kabari saya agar saya hapus fotonya. Saya sudah merantau sedari SMA. Bukan karena di tempat asal saya tidak ada SMA yang bagus, namun SMA ini (konon) adalah SMA unggulan. Banyak siswa datang untuk belajar, dari dalam dan luar Sumatera Utara, meski harus terpisah dari keluarga. Bertempat di barat Samudra Hindia dan timur Bukit Barisan: Tapanuli Tengah. Pada saat saya SMA, waktu tempuh dari Medan ke Tapteng adalah sekitar 8-9 jam, via darat, dengan jalur yang berkelok-kelok. Sekarang memang sudah lebih cepat. Bandara sudah diaktifkan dan setiap harinya ada jadwal penerbangan. Di sekolah ini, saya tinggal di asrama. Hanya boleh keluar asrama pada hari Jumat (setelah pulang sekolah hingga pukul 16.00) dan hari minggu (hingga pukul 17.00). Mau keluar selain di kedua hari tersebut? Susah, coy. Terlambat pulang? Siap-siaplah push up sampai tangan pegal. Positifnya, karena etos seperti itu, hingga sekarang saya sangat menghargai ketepatan waktu. Boleh cek di toko sebelah 😁 Balik lagi yang (konon) ini SMA Unggulan, siswa yang bersekolah di sini pun melalui beberapa tahap seleksi. Waktu itu, dari sekitar 1.500 pendaftar hanya terpilih sekitar 250 siswa. Hampir semua setelah lulus melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri. Di zaman itu, masuk perguruan tinggi negeri susah. Jalurnya untuk itu tidak banyak seperti sekarang. Jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi negeri adalah salah satu indikator bagus-tidaknya suatu sekolah. Ada banyak hal yang ingin saya ceritakan tentang Matauli. Namun, karena keterbatasan karakter dalam satu caption, tulisan ini harus saya akhiri dan tutup dengan kutipan yang saya tulis di buku tahunan kami, angkatan VIII: "Matauli, you give me 100 reasons to cry. But, you also give me 1.000 reasons to smile". . #30HariBercerita #30hbc1708 #Matauli #30hbcSMA