단말 머리
"Anya, kamu udah denger belum?!" Anak gadis yang namanya dipanggil pun menoleh ke sumber suara, menelengkan kepala dalam prosesnya. Pradnya Nugroho, gadis yang baru saja diajak bicara, kontan menggelengkan kepalaㅡtanda tak mengerti. Kantin sekolah masih ramai dan pertanyaan yang diajukan begitu mendadak oleh Anindya membuat Pradnya tertegun. "Emang ada apa...?" tanya si gadis, langsung melupakan seporsi batagor yang tengah disantap. Anindya, yang semula masih berdiri sembari berpegangan ke ujung meja dengan napas terengah, kemudian mendudukkan diri disebelah teman sekelasnya. Gadis berbandana itu melirik takut-takut kearah pintu masuk kantin sebelum menundukkan kepala, membuat Pradnya turut menundukkan kepalanya. Ia dapat melihat Nindya menggigit bibir dan kembali menggeliat tak nyaman di kursi. Mau tak mau, Pradnya jadi ikut gugup dan tegang karena lagak teman dekatnya ini. "Nin, ada apaan sih?" gadis setengah Korea itu ikut melirik ke pintu kantin, mendapati orang berduyun-duyun mengantre untuk membeli makanan. Tak ada hal yang aneh. Tak ada tanda-tanda gebetan Anindya muncul didekat mereka. Pradnya mengerutkan hidungnya. "Kalau ini soal Bimoㅡ" "Radith jadian sama Sonya dari kelas sebelah, Anya." potong si sobat cepat-cepat, membuat kalimat yang hendak bungsu Nugroho ucapkan kembali tertelan dan gadis itu menatap kawan dekatnya itu dengan mata melebar dan bibir yang terbuka sehingga membentuk huruf o. Pradnya mengerjapkan matanya. Sekali. Dua kali. Lalu terdiam lama sekali. "Anya...?" Nindya mengibaskan tangannya dihadapan gadis Nugroho, merengut ketika yang bersangkutan tak bereaksi. Tangannya kemudian diulurkan, baru saja hendak mencubit pipi tembam milik kawan sekelasnya itu ketika Pradnya menggelengkan kepala dan menepis tangan sang kawan baik. Buru-buru bangkit dari kursinya, dan mengabaikan batagornya yang belum habis, Anya melemparkan satu senyum hampa pada Nindya sebelum pamit. "...duluan, Nin." Mendadak selera makannya hilang. . . . Bel pulang sudah berbunyi dan sesuai dengan kesepakatan, Pradnya menunggu kembarannya didekat gerbang. Kembar Nugroho memang ditempatkan di kelas yang sama, namun kali ini Radithya mendapat tugas piket sehingga si gadis memilih untuk kabur duluan. Gadis itu sibuk menonton orang lalu lalang hingga tak menyadari kalau kakak-beda-beberapa-menitnya itu sudah dekat ketika ia mendengar tawa khas Radithya. Si bungsu nyaris berteriak ketika menolehkan kepala, siap menceramahi kakak kembarnya itu karena telah membuatnya menunggu lama, namun kata-kata yang nyaris terlontar itu mati diujung lidah tatkala ia menyadari kalau Radithya Nugroho tak sendirian. Adalah Sonya Dewandari yang bergandengan tangan dengan kakaknya, yang menanggapi banyolan garing (...apa, lelucon Didith memang kriuk selalu, kok) Radithya dengan tawa ringan dan mata yang menyipit manis. Banyak anak lelaki memanggil Sonya Putri Keraton dalam kasak-kusuk mereka, dan banyak dari mereka pula yang iri pada sulung Nugroho karena berhasil mendapatkan suka sang tuan putri. Belum sehari penuh mereka jadian juga sudah banyak gosip berhembus dan membuatnya, sebagai kembaran Radithya, kemudian ditanyai macam-macam mengenai hubungan Radith dan Sonya. Namun melihat Radithya terlihat begitu bahagia didekat Sonya secara langsung begini membuat Pradnya meradang. Mendadak merasa kesepian, kehilangan, ditinggalkan. "Dek! Lama nungguin nggak?" Here he comes, her dearest brother and his girlfriend. Pradnya melihat senyum abangnya mengembang lebar dari sudut pandangan dan gadis itu cuma mendecak dengan tangan terlipat didepan dada. Radith kemudian mengusap puncak kepala sang adik setelah melepaskan genggaman tangannya pada pacarnya, membuat si kembaran mencebik dan menepis telapak tangan Radithya dari kepalanya. "Berisik." ujar Pradnya tajam. Melirik sadis sulung Nugroho yang akhirnya hanya cengar-cengir tidak jelas dan Sonya yang nampak bingung harus berbuat apa. Terjebak diantara kembar Nugroho memang bukan ide yang brilian. "Ayo pulang. Capek tau, nungguin abang piket leletnya kayak koneksi sm*rtfr**nd." lanjutnya, masih mencebik. Radith tertawa, lebih pelan kali ini, sebelum merangkul Pradnya dan melambaikan tangan pada gadis berambut panjang itu. "Duluan, yak. Dedek kecil udah rewel minta pulang nih," Pradnya melotot dan menyikut rusuk sang kakak, membuat Radithya mengaduh tapi masih tersenyum dan sang kekasih mengerutkan dahinya bingung. "Ketemu besok, Sonya." tandasnya, menarik adiknya menjauh sembari melemparkan kiss bye pada si pacar yang wajahnya kemudian bersemu dengan manis dan balas melambai. Anya tidak pernah merasa sesebal ini pada Radith, tapi sekarang ia benar-benar ingin menendang si kembaran tepat di perut. Damn, damn feelings. . . . Pradnya akan merasa lebih baik kalau topik Radith Punya Pacar tidak sampai ke rumah karena mendengarnya di sekolah saja sudah cukup memuakkan, namun serahkan saja pada si bego Didith untuk curhat pada ibu mereka soal pacar barunya. Jadi, sekarang putri bungsu keluarga Nugroho itu mendapati dirinya terjebak di ruang keluarga, mendengarkan sesi wawancara dari Jojo Puspitasari mengenai kekasih Radithya. Ayah mereka, Oh Sungjoon, tidak menyumbang banyak dalam perbincanganㅡsama saja dengannya. Anya bosan dan capek. Ia membiarkan Radithya berbusa-busa menyanjung si Putri Keraton dan menonton mama menelan bualan putranya bulat-bulat. Gadis itu sama sekali tidak keberatan menjadi kambing congek. Toh ia masih punya majalah untuk dibaca dan saluran televisi untuk didengarkan. Nggak masalah sama sekali. Setidaknya itu yang coba ia yakini hingga akhirnya kepala keluarga mereka angkat bicara. "Nanti coba ajak pacarmu kesini, Nak. She seems nice." Dara belia kontan tersentak hingga majalah dipangkuan jatuh dengan debum yang lumayan, membuat tiga pasang mata menatap kearah si bungsu dengan penasaran dan khawatir. Si bungsu buru-buru berdiri dan pamit dengan setengah hati, "Pa, aku nggak enak badan. Ke kamar duluan, ya." lalu berlari sekencang yang ia bisa ke kamarnya di lantai dua; mengabaikan panggilan khawatir dari sang abang dan menahan diri agar tidak menangis. (바보처럼, 채미야.) . . . Perubahan itu gradual, namun tetap saja mudah disadari oleh mereka yang mengenal Nugroho bersaudara. Pradnya yang biasanya akan menempeli Radith kini menghindari kakak kembarnya seperti virus, selalu pulang sendiri dan tak lagi menunggui sang abang selesai berkegiatan. Di kelas juga tak jauh berbeda, bahkan gadis mungil itu sampai pindah tempat duduk supaya tak bisa melihat Radith lagi. Di rumah juga sama saja, bungsu Nugroho lebih memilih untuk mengurung diri di kamar dan keluar ketika diperlukan. Kalau ditanya apa ia merasa bersalah karena menjauhi kembarannya sendiri karena alasan sesepele kakaknya punya pacar, Anya akan menjawab ya. Sejujurnya, ya. Terutama tatkala gadis itu melihat ekspresi mirip kucing terlantar Radithya, melihat senyum pemuda itu tak lagi seerah biasa. Pradnya memang merasa bersalah, tapi dia melakukan ini demi kebaikan mereka berdua, kok. Karena gadis kecil itu tak bisa paham atas perasaan terkhianati yang kemudian mekar di hati, atas keposesifan yang kemudian muncul membuat gadis itu takut untuk berada didekat kakaknya lagi. . . . "Anya, pernah kepikiran potong rambut buat buang sial, nggak?" Topik pembicaraan itu muncul begitu saja ketika Pradnya dan Anindya tengah mengobrol sambil makan siang di sebuah gerai restoran siap saji dekat sekolah mereka. Dara ingat kalau sebelumnya mereka tengah memperbincangkan drama yang baru saja ditayangkan di stasiun tv lokal, sehingga perputaran topik yang begitu mendadak membuat Pradnya gelagapan. "Kenapa? Kok tiba-tiba nanya gitu, Nin?" Yang ditanya menggelengkan kepala, memainkan sedotan untuk mengaduk es batu dalam gelas. "Nggak apa, tiba-tiba kepikiran aja..." jawabnya. Anya mengangguk, kembali sibuk dengan kentang gorengnya, namun pikiran si gadis tidak bisa berhenti memikirkan perkataan Anindya barusan. Potong rambut, ya... . . . "Ma, Anya mau potong rambut. Boleh?" . . . "Hmm," Ada seorang gadis yang tengah mematut diri didepan cermin, rambutnya yang semula mencapai pundak kini telah terbabat hingga setengkuk. Anak perempuan itu menghela napas, mengelus rambutnya yang sekarang jadi pendek, dan mencoba untuk tersenyum. Senyum yang terpantul di cermin merupakan suatu pemandangan yang akrab bagi Pradnya sendiri, yang normal dan wajar. Bahunya jadi lebih rileks, senyumnya lebih mudah, dan beban pikirannya... mulai berkurang. Such is the power of a hair cut. Bahkan ketika pintu kamarnya diketuk dan kepala kembarannya kemudian muncul dari balik pintu, gadis itu mendapati dirinya tertawa dan mencebik jenaka seperti biasa; membuat Radithya terperangah dan pelan-pelan ikut tersenyum juga. Si kecil Pradnya tak lagi merasa gamang ketika Radithya menghampirinya dan memeluknya dari belakang, membuat gadis kecil itu kembali tertawa dan menyenderkan kepalanya di bahu sang kakak. "Aku kangen Anya yang begini," itu dibisikkan oleh Radithya dengan halus dan gadis itu cuma membalasnya dengan, "Aku kangen abang juga." dan membiarkan sang kakak mengecup dahinya sebagai ganti dari permintaan maaf yang tak sempat terucap karena sudah berlaku jahat beberapa minggu kebelakang. (She's happy, for now. And that's enough.)











