This one is for you
Sebenarnya kalo boleh show off, mungkin bisa dibilang saya sudah kebal sama yang namanya perpisahan. Awal mula saya mengalaminya adalah ketika saya kuliah di Surabaya. Itulah perpisahan yang cukup melegenda disepanjang karir kehidupan saya. Lalu, perpisahan kedua saya alami ketika saya harus menghabiskan my final year di negeri ayam jantan. And again, perpisahan ini menduduki peringkat pertama dijajaran pengalaman pahit yang pernah saya alami. Next, sebenarnya ada satu lagi perpisahan yang cukup menyakitkan tapi sengaja tidak saya bahas karena menurut saya tidak terlalu penting untuk diceritakan (you knowlah~~ unforgetable tragic love story hahaha).
Kisah perpisahan diatas terasa berat karena sebagian besar objeknya adalah keluarga, sedangkan dikalangan teman, belum pernah sekalipun saya merasa sangat kehilangan saat berpisah dengan mereka. Dulu, jika saya harus berpisah dengan teman dekat, boro-boro nangis, merasa kehilangan saja tidak. Jahat memang, tapi beginilah saya hahahaha.
Tapi entah kenapa, kali ini saya merasakan hal yang berbeda. Yups.. saya baru saja ditinggal (sengaja pakai kata “ditinggal” biar maknanya jadi semakin mendalam haha) teman yang bisa dibilang cukup dekat,*peace, dengan saya. Frankly, we’re just close for less than two months but our goodbye drives me crazy for God’s sake.
At this stage, I admit it hurts. But since I’m trying to be positive now, I’m going to take this as an opportunity to be more mature. This does not necessarily mean that I take you as granted. No. Completely. You know I love you hahahaha and I am truly grateful I have you. My point is just this goodbye is not the end. We can still meet after all. So just learn together from it, girl.
And in this moment, I also want to thank miss Anya and mr. Eddy. If it was not them, I’m sure I would never ever meet you. And English Studio as well, that’s the place where we usually spent our time together learning, discussing, debating and having fun. And Kak Ibe. And Icha. Every one. And of course you, thank you for showing me that unity is achieved because of similarities, not diversities.













