Ocydromus earli amd Ocydromus australis (1873) | John Gerrard Keulemans
seen from United States
seen from United States
seen from Greece

seen from United States
seen from United States

seen from Indonesia
seen from United States
seen from United States
seen from Singapore
seen from Spain

seen from United States

seen from Germany
seen from Türkiye
seen from Brazil

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from China

seen from Indonesia

seen from United States
Ocydromus earli amd Ocydromus australis (1873) | John Gerrard Keulemans
The Weka Rail by Joseph Wolf Postcard | Zazzle
First Time for Mt. Merbabu
Selasa, hari dimana awal dari sebuah mimpi yang hanya sebesar titik kecil. kecintaan kepada manusia membuat aku memiliki niat untuk menunjukkan keseriusanku dan tekad bulatku.
rabu, aku mulai dengan perencanaan logistik dan alat2 pendakian, diskusi singkat waktu itu bersama seorang teman yang kelak jadi sahabatku, kami bahas rute perjalanan.
jalur pendakian Wekas, berjarak 10 km dari kota magelang dengan akses yang cukup baik, di Wekas ini sering dipilih para pemula karena sepanjang jalur pendakian dari basecamp sampai ke pos 3 ada air yang mengalir lewat pipa2 kecil dan di pos 3 pun ada sumber mata air.
kamis checking terakhir dengan persiapan barang, malamnya berdoa agar esok diberi hari yang cerah dan selamat sampai tujuan.
jumat kami berangkat dari jogja menuju magelang, saat melewati jalur keteb kami sempatkan mampir dirumah salah seorang kawan untuk silaturahmi dan melengkapi amunisi baik peralatan maupun perut kosong,
sampai di basecamp menjelang adzan dhuhur, kami sempatkan untuk berjamaah sholat jum’at dengan warga sekitar, ramah, baik, sopan dan bersahaja itulah gambaran dari penduduk disana. kami berdoa memohon keselamatan kepada-Nya
pukul 1 pm kami berangkat mengawali perjalanan selama 6-7 jam ini, pos 1 lewat pos 2 lewat, detik menit dan jam pun mulai berganti sampai di pos 3 dimana jam masiih menunjukkan pukul 4 pm, istirahat sejenak mengisi energi untuk pendakian didepan karena jalur akan semakin menanjak, indah sekali edelweiss yang sedang bermekaran ini, perjalanan kami ditemani kicauan burung, serangga dan indahnya tumbuhan serta angin yang bersiul, senang hati ini bisa merasakan segar dan alaminya bumi.
senja mulai menyapa, menikmati indahnya sunset sore itu, jingga warna langit itu sangat menawan, seakan memberi pompa semangat untuk kami. malam mulai turun dan gelap pun tiba, saat itu pula kaki merasa kaku dan tidak bisa diajak berjalan lagi, olesan balsem terasa sangat biasa dengan dingin yang menyelimuti, ingin rasanya berhenti dan beristirahat tapi lokasi tidak memungkinkan, akhirnya dengan kaki yang mulai sakit lagi, aku berjalan, ya terus berjalan dengan sisa semangat.
akhirnya kami berdua mendirikan camp di ketinggian sekitar 2 jam dari puncak, luar biasa sekali saat itu, kami hanya sebatas teman sekelas tapi dari situlah kami mulai bersahabat, 2 orang laki-laki yang memulai dengan asa yang sangat sederhana.
saat orang di lereng sibuk dengan tahajudnya, kami melanjutkan perjalanan dengan doa, kaki kembali bersahabat, sangat senang rasanya. ingin segera menuju puncak mengibarkan kata cinta.
pukul 5 lewat dengan berlari kami menuju sebuah tempat yang sesampainya disana, aku sadar, kami adalah 2 manusia kecil di dunia yang besar ini. indah sekali panorama langit esok, mentari yang mulai menunjukkan jatidirinya sungguh indah, kami teriak sejadijadinya menandakan sebuah amarah kepuasan, dari sini merasa dekat dengan Tuhan ku, aku lupa dengan tujuan mulaku, aku ingat betapa Agungnya Tuhan ku, , kibaran sang saka Merah Putih, ucapan cinta pada manusia, setelah menikmati keindahan ini kami bergegas turun menuju basecamp.
sampai dibasecamp aku merasa bersyukur aku masih berkesempatan melihat indahnya dunia cipataan-Nya. aku masih berada dibawah lindungan-Nya.
sampai dirumah dengan lelah aku berpikir, mungkin aku terlalu sombong dengan tujuan karena cinta pada manusia, keindahan itu tidak bisa disandingkan dengan kecantikkan manusia, keindahan itu keindahan dari Tuhan, kita memang tidak bisa melihat Tuhan tapi Tuhan telah menunjukkan keindahan bumi ini, pertanda bahwa kita harus menjaga keindahan itu, karena semua keindahan ini hanya milik Tuhan.
"Hashtag Instalgunawea. "