When we were young
sekali lagi aku sengaja melihat foto ini, masih ingat siang itu diam-diam aku mengambil gambar kita di kota yang jadi begitu rame dan panas. yang tidak kuingat dengan jelas hanyalah nama jalan yang kita lewati bersama sepeda motor matic punya temanmu.
kalau tahu jadi begini, aku akan banyak mengambil fotomu, atau foto kita berdua untuk kusimpan sebagai memori menyenangkan masa muda. kita tidak memiliki banyak waktu untuk bertemu, bahkan dalam enam tahun yang masih membuatku canggung dan deg-degan waktu melihatmu secara langsung. tidak banyak juga kesempatanku meminta kamu untuk mengabadikan momen kita berdua.
entah saat itu aku begitu malu-malu, atau kita sedang menjaga prinsip yang kita miliki masing-masing.
kita bahkan tidak pernah saling berpegangan tangan seperti pasangan lain yang sedang jalan santai di hari bebas kendaraan bermotor setiap minggu pagi. kita juga tidak seperti pasangan yang sedang berpelukan di lorong depan kereta api saat kau mengantarkanku pulang. sebagai gantinya, kau membelikanku dua bungkus roti yang aromanya khas kita jumpai tiap berada di sekitar stasiun. satu untuk pengganjal sebelum makan siangku, lainnya untuk temanku yang kebetulan ikut bersamaku pulang. tanganmu kemudian membuat gestur mengepal untuk bersalaman dengan ujung-ujung jariku yang juga sudah membuat kepalan tangan, sebagai tanda lambaian sampai jumpa
gestur tangan yang belakangan selalu kurindukan.
kita bukannya tidak mau melakukan berbagai kegiatan normal yang dilakukan pasangan muda mudi pada umumnya. tapi entahlah, kita berdua mungkin begitu menghormati aturan yang kita punya bahkan tanpa kita ucapkan sama sekali
meskipun begitu, rasanya aku bisa selalu merasakan kehangatanmu dalam setiap kejutan manis berbentuk sikap atau barang-barang yang bagi orang lain akan tampak biasa-biasa aja. bayangkan, betapa menggemaskannya gambar yang kau kirim dengan secarik notes keterangan yang tampak buru-buru kau tulis untukku. atau saat kau tiba-tiba membuatku kebingungan soal nama ibu guru yang ditangkap polisi dan ternyata dia hanyalah karakter fiksi dalam serial spongebob; Ny. Puff. aku bisa merasakan kehangatanmu waktu kau sengaja menitipkan kopi dalam mug cantik pada entah siapa yang akhirnya sampai ke tanganku di dalam kelas lantai tiga. aku tertawa keras sekali ketika itu, geli sekaligus senang melihat caramu membuatku terkesan. karena aku tau, yang kau lakukan hanyalah ingin mengucapkan selamat pada hari ulang tahunku, bukan dengan tujuan agar aku menghabiskan kopinya. aku nggak bisa berhenti tersenyum waktu teman lain memberitahuku soal "sajak untuk lima belas juli". ternyata kejutanmu untukku pada hari itu nggak berakhir di kopi manis dalam mug oranye.
ada banyak sekali kehangatan yang aku rasakan tanpa harus memelukmu (meski aku ingin sekali). soal kesediaan waktumu setiap aku membutuhkan, atau tentang beberapa notes yang kau sisipkan dalam buku-buku tebal di rak lemariku dan gelang cantik yang kau buat sendiri untukku.
aku mungkin terlalu menganggap semuanya serius. boleh jadi, kau merasakan yang sama. kita berdua bahkan rajin membuat permohonan pada Tuhan untuk diberikan yang terbaik, dimudahkan segala urusan jika memang jalannya. apapun yang kita berdua bangun ketika itu bukan sesuatu yang untuk hari itu saja. tapi ternyata setelah sekian tahun berganti, keadaan yang berubah, dan segala alasan lain yang tidak kuketahui membuatmu merasa berpisah adalah jalan yang terbaik untuk kita berdua
aku mungkin pernah marah dan kecewa karena rasanya seperti membuang-buang waktu. semua nggak berguna, investasi yang sungguh sia-sia. rasanya, mana mungkin jatuh cinta untuk kedua kali. marah karena artinya, aku harus memulai semuanya dari awal. menyembuhkan luka, bertemu orang baru, yang bagian tidak menyenangkannya adalah akan susah kurasa cukup karena nggak bakal ada yang sama sepertimu. Padahal, semua orang punya sisi hangatnya masing-masing. aku marah karena percuma aku bertemu denganmu, untuk apa punya perasaan demikian dalam kalau ujungnya tidak berhasil kujaga sampai akhir? untuk apa kenal dengan seseorang yang bukan jodohku?
tapi kalau diingat-ingat lagi, bukannya ini adalah pengalaman yang menyenangkan? betapa beruntungnya aku bisa mengenal bahkan punya kesempatan mencintaimu. betapa bahagianya sebagian masa mudaku ditemani kamu. masa-masa naif belasan tahun hingga saat semua urusan menjadi semakin banyak dan serius ketika menjadi pelajar di perguruan tinggi. membuat banyak keputusan dengan melibatkanmu waktu aku ketemu pertimbangan-pertimbangan.
bahkan definisiku tentang jodoh juga sudah berubah, Rama:
aku yang dulu mengartikannya sebagai "seseorang yang dipilihkan Tuhan dan yang pada akhirnya akan kunikahi", berganti menjadi "siapapun yang kutemui dan kemudian kucintai".
aku tidak pernah keliru membuka pintu untukmu tujuh tahun yang lalu. keputusanmu untuk mengakhiri semuanya juga bukan sesuatu yang bisa disalahkan. mungkin, memang beginilah akhirnya, ada yang beruntung diberikan masa berjodoh hingga tutup usia, ada jga yang sepertiku.
sampai kapanpun, kau tetap jodohku. hanya saja, masa berjodoh kita sudah berakhir.
sempatkan istirahat dan makan yang teratur ya Rama. jagna lupa minum air. semoga selalu jadi orang yang beruntung.
semoga, aku yang sekarang juga bisa lapang menjalani hidup tanpamu, dan tanpa penjelasan apa-apa tentang keputusanmu menyelesaikan cerita kita.
Sekali lagi,
Semoga kita berdua bahagia dan menemukan bahagia yang lain. Aamiin.












