dulu aku pernah begitu dicintai seseorang..
Xuebing Du
Keni
Lint Roller? I Barely Know Her

#extradirty

oozey mess
NASA

No title available
dirt enthusiast

Love Begins
$LAYYYTER
Stranger Things

JVL
No title available
hello vonnie

Kiana Khansmith

No title available

JBB: An Artblog!
taylor price

Discoholic 🪩

roma★
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Türkiye
seen from Canada
seen from Australia

seen from Türkiye

seen from Chile
seen from Mexico
seen from Australia
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
@taradupont
dulu aku pernah begitu dicintai seseorang..
Jane Hirshfield, from a poem titled "Works and Loves," featured in The Asking: New and Selected Poems
— Time passing isn’t an apology. (via letsbelonelytogetherr)
Tuhan, aku tidak akan meminta siapapun lagi dalam hidupku. Namun jika ada yang memintaku dan dia baik, maka kabulkanlah doanya.
kupeluk bayang tubuhmu sekali lagi, sebab semua hal telah menjadi mustahil. dan takdir, menjelma sesuatu yang tak pernah bisa kita berdua menangkan.
Siapapun kamu, jika kamu harus selalu menjelaskan bagaimana kamu ingin diperlakukan dengan baik dan seharusnya, itu berarti kamu berada ditangan orang yang salah..
Sebab orang yang benar-benar perduli tak memerlukan buku panduan
sebenarnya, manusia yang kurang empati itu mengerikan. jangankan untuk memahami kondisi orang lain, untuk sekadar menyadari bahwa tindakannya menyakiti saja pun mereka tak mampu.
dan yang lebih menyeramkan adalah, mereka tidak merasa bersalah. dalam kepala mereka, semua tampak wajar, semua terasa layak, bahkan ketika luka yang mereka timbulkan bersarang di hati orang lain dalam waktu yang lama.
EPILOG AGUSTUS, 2025
Ia tetap di sana; keriuhan kota, bangunan tua, halte yang jarang dilewati bus--sementara belasan orang setia menunggu, jalan-jalan yang kini tampak asing bagimu, kenangan yang gagal untuk diingat sekali lagi.
Ia nyawa yang terlepas bersama doa keselamatan dari bibirmu. Ia kupu-kupu yang tinggal dari dinding rumah ke rumah lainnya. Perhentian berbeda dan tidak ada yang percuma.
Kini kau kembali dengan sesuatu yang telah mati dalam tubuhmu. Halaman langit di sore hari tak menampung puisi yang mencintai keindahan matanya. Atau alisnya. Atau suaranya.
Kau berhenti mencari jawaban, mengadili dirimu dan masa yang lalu. Kemudian kita akan mencuri bahagia dari perasaan-perasaan lapang yang tidak dimiliki waktu. Kau berusaha membuat dirimu cantik kembali. Sebab meski sendiri, kau ingin menghidupi senyum itu lagi.
di masa kapanpun, aku tidak ingin lagi jadi orang yang mengetik pesan berparagraf-paragraf sambil menangis..
holding on the Bencana Nasional for the Sumatera flood so his cronies’ and his business of cutting down the trees are not questioned and so his ego can still perched on the roof.
yeah, but his fans are telling me everything is okay. no, i think we are screwed until 2029.
and our people WILL STILL choosing the wrong guy in 2029. we will never be free.
prabowo has blood of the people on his hands.
Suatu malam aku tertawa keras sekali. Seingatku, sepanjang dua tahun lebih kemarin, tak pernah kumiliki tawa sejujur itu. Kemudian dalam hitungan minggu, perasaan itu menjadi penuh.. hanya belum serius dan terlalu dalam.
Aku selalu menyukai ketidaksengajaan. Sesuatu yang tak perlu susah payah aku lakukan, tetapi mampu mencipta berbagai emosi senang dan kecewa bersamaan. Sesuatu yang tidak perlu aku usahakan keras, sebab ia tumbuh mandiri, dan perlahan.
(Kau tentu setuju, beberapa hal yang tidak direncanakan selalu terasa menyenangkan. Sayangnya semakin bertambah usia, yang kita temui justru sesuatu yang harus disengaja lakukan).
Kita menyepakati tidak semua kenyamanan harus diikat dan diberi label tertentu, tapi pada malam yang lain, kita belajar banyak hal. Betapa keriangan saja tak mampu menyimpan seseorang dalam kotak yang diberi nama kekal.
Kadang aku ingin pura-pura amnesia. Sengaja lupa berbagai satir itu, lalu tinggal dalam suaramu lebih lama--meski entah ujungnya kemana. Tapi aku sungguh tahu kata cukup. Aku mahir tahu diri dan pandai merelakan.
Aku memimpikan bahagia yang penuh ketenangan, juga cara-cara baik yang direstui Tuhan. Sementara kau dan aku bukanlah dua orang yang pantas menunggu dan merindu. Maka malam itu, aku memutuskan pulang; mengembalikan takdir pada tempatnya, menutup pintu jendela dari kemungkinan dan harapan.
Terakhir, terimakasih banyak kepada waktu-waktu yang sengaja kau ciptakan untuk meredam gaduh hujan di kedua mataku, lalu menggantinya dengan percikan cahaya yang riuh. Senang pernah mengenal suaramu, bahkan pada hari dimana aku tak sedang mencari.
Tabah dan berbahagialah.
Sumatera hari ini bukan hanya basah oleh banjir, ia basah oleh pengkhianatan yang sudah lama dibiarkan.
Air memang turun dari langit, tapi bencana itu lahir dari bumi yang dipaksa telanjang oleh manusia-manusia yang tamak.
Dulu, hutan-hutan Sumatera berdiri seperti para penjaga: menahan hujan, menyimpan air, memeluk tanah agar tidak runtuh.
Kini penjaga itu roboh satu per satu. Digunduli, dihabisi, dipereteli atas nama keuntungan yang tak pernah cukup.
Maka bukan salah langit ketika kota-kota tenggelam, bukan salah sungai ketika ia meluap mencari jalan.
Salahkan tangan-tangan yang menebang pohon tanpa memikirkan apapun yang tumbuh selain uang di kantong mereka.
Kini banjir datang seperti bisikan gelap:
‘Aku tidak lahir dari hujan. Aku lahir dari keserakahan kalian.’
Sumatera tidak sedang dihukum. Ia hanya sedang menunjukkan apa yang terjadi ketika hutan dijadikan korban.
Ya Allah, Lindungilah Sumatera dari bencana dan keserakahan. Kuatkan yang terdampak, sembuhkan yang terluka, dan jadikan hujan sebagai berkah, bukan musibah.
Amiin.
#deaksara
Ada hari-hari ketika kita sudah bergerak jauh, tapi hati tertinggal di belakang. Masih berhenti di titik yang sama, masih menahan sesuatu yang belum selesai kita lepaskan.
Lucu ya, manusia selalu terlihat seperti sedang baik-baik saja. Bangun, bekerja, tersenyum, menjawab pesan, seperti tak ada apa pun yang mengganjal. Padahal di dalam diri, kadang ada simpul kecil yang tetap mengencang walau waktu terus berjalan.
Aku belajar bahwa dewasa itu bukan soal kuatnya menahan rasaa, tapi berani mengakui bahwa kita sedang berproses. Tidak apa-apa kalau hari ini masih terasa berat, tidak apa-apa kalau hati baru pulih separuh, tidak apa-apa kalau kita belum kembali seperti dulu. Hidup memang tak selalu menunggu, tapi hatimu butuh sedikit waktu untuk menyusul langkahmu yang sudah terlalu jauh.
Dan itu tanda bahwa kamu itu manusia yang merasakan, belajar, dan tumbuh dengan ritme yang kadang cuma kamu yang tahu.
—Rini Alfianita, Rain 💧
ucapan orang lain tidak akan menyakiti kita selama kita tidak menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. selama kita tau intensi kita apa, kesalahpahaman orang lain seharusnya tidak menjadi persoalan.
menjelaskan pun akan percuma dan buang-buang energi selama mereka hanya mau mendengar apa yang bersedia mereka percayai, bukan apa yang sebenarnya terjadi.
sepertinya, kemampuan untuk merasa biasa-biasa saja jika disalahpahami adalah salah satu skill yang perlu kita latih terus menerus, utamanya di zaman ini.
@milaalkhansah
MANTRA-MANTRA
#1
Mustahil kau temukan setia
pada seorang yang membagi senyumnya
ketika di hatinya sudah menyimpan nama.
#2
Tidak mungkin cukup menjadi keriangan sementara
(atau seorang yang rahasia),
sedangkan ada yang berpelukan di beranda
menyeduh kopi dan memadu kasih;
berbagi kemewahan atas nama cinta.
#3
Bahkan sekalipun kau memenangi pertaruhan bodoh ini
kelak, ia akan bernyanyi di atas tubuh yang lain.
Sementara kau berakhir sunyi, menunggunya pulang setelah lagu terakhir.
#4
Pengkhianatan semudah membalik tangan.
Bagi mereka yang cerdik, akan selalu ada yang lebih cantik.
#5
Dan kehangatan yang iatawarkan
pada setiap hujan di malam penghujung bulan
adalah kebaikan yang murah, yang bisa kau usahakan dengan mata kaki sendiri.
#6
Berhentilah berumpama. Jangan miliki apa yang seharusnya tak kau miliki.
Langkah pertama pengobatan adalah merasa ada yang sakit, sedangkan langkah pertama perubahan adalah merasa bersalah. Maka sebagaimana dokter tidak bisa mengobati orang yang tidak merasa sakit, kita pun tidak bisa mengubah seseorang yang tidak merasa bersalah.
©Fajar Sidiq Bahari (@fajarsbahh)