Something I’ve always wanted to experience #threelions #wemberley (at Wembley Stadium, London, England)

seen from United States
seen from Indonesia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from South Korea
seen from Finland
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Australia

seen from China

seen from Japan
seen from Romania
seen from Philippines

seen from Japan

seen from Malaysia

seen from United States
Something I’ve always wanted to experience #threelions #wemberley (at Wembley Stadium, London, England)
Newly engaged couples, join us next Saturday at #Campcrystalfalls in #Wemberley for an open house. #engaged #weddingdj #wedding #hillcountry #texas #tpegdj #weddingvenue #happilyeverafter #bridetobe #engagement #herecomesthebride #instabride #isaidyes #proposal #weddings
Kembali ke Wemberley
Sesaat setelah peluit akhir ditiupkan lawan West Ham pada laga replay perempatfinal FA Cup pekan lalu, kegembiraan akan kembali ke Wembley, meluap.
Manchester United sudah tidak lagi dimanajeri Alex Ferguson, yang katanya, bisa membawa tim dengan komposisi pemain medioker, menjadi juara. David Moyes dan Louis van Gaal rasanya masih kesusahan membawa tim medioker ini ke tempat yang berhasil dicapai Ferguson. Jadi, kembali ke Wembley, paling tidak, untuk sebuah laga semifinal pantas untuk dirayakan.
Terakhir kali United bermain di sana adalah ketika mengalahkan Swansea di Community Shield 2013/14, dengan skor 2-0.
Menjelang pertandingan, optimisme melambung. Calon lawan di semifinal, Everton, disebut akan membawa materi pemain belakang yang kurang kuat. John Stones dan Phil Jagielka sempat diragukan bermain, meskipun akhirnya tampil 90 menit. Seamus Coleman terlilit cedera, serta Ramiro Funes Mori terkena skors. Mereka juga habis dikalahkan Liverpool 4-0 di Derby Merseyside.
Pertandingan baru dimulai beberapa menit, Romelu Lukaku sudah berhasil melewati De Gea. Sayang, tendangannya ke gawang kosong masih bisa dihalau Rooney di garis gawang. Setelah itu, Manchester United menguasai pertandingan. Sepintas akan terlihat mudah setelah gol Marouane Fellaini membawa United unggul 1-0 saat jeda.
Everton mulai mendapatkan momentum setelah Timothy Fosu-Mensah melanggar Ross Barkley di kotak pinalti. Eksekusi pinalti Lukaku berhasil dihalau Sang Juru Selamat, David De Gea. Namun moril para pemain Everton terlanjur naik. Terlebih Fosu-Mensah langsung diganti oleh Antonio Valencia, satu hal yang mengisyaratkan kepanikan. Rasa percaya diri para pemain Everton mulai meningkat.
Gelombang serangan mulai berdatangan, terlebih setelah masuknya Gerard Deulofeu, seorang lulusan La Masia yang gaya mainnya mirip Cristiano Ronaldo.
Menit 75, umpan silang Deulofeu dari sisi kiri pertahanan United, sebenarnya tidak mencapai kaki Lukaku yang sudah menunggu. Bolanya terhalau Chris ‘Mike’ Smalling, tapi malah masuk ke gawang sendiri, skor menjadi 1-1. Everton semakin mendapat angin.
Van Gaal lalu menarik keluar Fellaini untuk Ander Herrera. Setelah partai ini, Herrera mungkin akan menjadi public enemy bagi warga Merseyside, baik biru maupun merah.
Beberapa saat setelah masuk, ia secara jelas menarik kaus Barkley yang sedang melaju kencang membangun serangan balik. Barkley pun emosi dan menendang Herrera dengan pelan. Meskipun pelan, Herrera menjalankan tugasnya dengan baik sebagai korban: pura-pura kesakitan. Persis seperti waktu ia membuat Steven Gerrard dikartumerah karena menginjak kakinya, musim lalu.
Seandainya yang memimpin pertandingan tersebut adalah Kim Milton Nielsen, mungkin Barkley sudah terkena kartu merah. Seperti apa yang menimpa David Beckham ketika menyenggol kaki Diego Simeone di Piala Dunia 1998. Barkley beruntung hari ini karena tak mendapat hukuman apa-apa.
Kembali ke Herrera. Cerita kepahlawanannya tak berakhir sampai di situ. Ketika memasuki masa injury time, umpannya kepada Anthony Martial, yang didahului backheel yang gagal, berujung gol kemenangan dan membawa United ke final.
Kemenangan di Wembley ini luar biasa ketika kondisi tim sedang naik turun. Banyak turunnya, sih. Para pemain juga merayakan kemenangan dengan emosional sekali. Smalling terlihat paling lega dan bahagia setelah gol Martial.
Andai United kalah, Smalling pasti akan sangat merasa menyesal. Sesalnya mungkin seperti menyia-nyiakan orang yang menyayangi kita dengan tulus. Begitulah.
Namun keberhasilan bermain di Wembley untuk sebuah partai final FA Cup memang pantas dirayakan, apalagi setelah melalui beberapa pertandingan yang seru. Terutama ketika laga replay lawan West Ham dan pertandingan tadi lawan Everton. United terakhir kali bermain di partai puncak untuk ajang yang sama adalah pada tahun 2005 melawan Arsenal.
Dan yang lebih pasti, chant “we’re the famous Man. United and we’re going to Wemberley” masih dan akan terus dikumandangkan oleh para suporter, paling tidak sampai pertandingan final.