Perkenalan saya dengan tulisan Wendoko berjalan mulus, terutama karena saya membaca bagian tulisan panjangnya terlebih dahulu ketimbang puisi-puisi pendek yang lebih butuh kontribusi pemikiran dan pemaknaan dari pembacanya. Tulisan panjang dalam Oratorio mengambil bentuk surat fiktif dari tokoh-tokoh yang terlibat penyaliban Kristus. Surat ini begitu personal, ditujukan kepada tokoh lainnya, memberikan gambaran isi pikiran dan uneg-uneg penulisnya. Sudut pandang ditulis dengan lugas lengkap dengan motif dan logika karakter, awalnya saya tidak mengira saya sedang membaca cerita yang lebih besar melalui keping surat ini, cerita yang jarang dihadirkan karena peristiwa penyaliban Kristus umumnya dituturkan melalui sudut pandang Kristus sendiri.
Sebagian kecil puisi di dalam buku ini menggambarkan ruang dan gerak pada alam, sebagian besar seperti potongan kisah, kalimat dan dialog yang dipenggal, disusun ulang, dicomot dari Alkitab, beberapa menggabungkan keduanya menciptakan capaian sensitivitas tertentu.
Akhirnya
hanya angin
menerpa
helai-helai daun
Di luar,
suara berbisik
langkah-langkah kaki
gemericik air
Dengan gelas piala,
dan
sepotong doa
kureguk cintamu
(Mu)
Ada yang mendekat
— berkata:
“Mari kita angkat gelas-gelas kosong
dan kita isi dengan anggur
yang mengucur dari tubuh Bapa.”
- MEDITASI I - diambil dari Oratorio
Terimakasih atas petikan memori akan #oratorio @teguhpandirian