Tentang dua minggu kerja di startup Swedia (padahal lagi tinggal di Dublin)
Hasil dari cari-cari lowongan kerja di LinkedIn, sekarang saya sedang summer internship di startup Swedia yang namanya Innoscentia. Kerja di Innoscentia adalah pengalaman pertama saya kerja profesional abroad.
Innoscentia adalah startup yang punya mimpi buat mengurangi waste daging yang banyak dibuang, padahal (mungkin sebenarnya) masih layak buat dimakan. Innoscentia membuat sensor untuk deteksi kualitas daging secara real time yang ditempel di kemasan daging. Konsumen/penjual ga perlu bergantung dengan tanggal kadaluarsa yang ada di kemasan. Mereka bisa tau tanggal kadaluarsa yang lebih presisi dari sensor ini.
Perusahaan ini keren banget! Karena latar belakang saya di teknologi pangan, saya tertarik buat tau gimana ilmu tingkat dewa kayak gitu bisa diimplementasiin secara real ke market.
Kadang di Indonesia, banyak banget ide canggih ada di kepala lulusan S1-S2-S3 tapi implementasi bisnisnya nol. Jadi saya mau cek gimana sih kondisinya kalo di Eropa?
Ini konsep sensor yang dibuat sama Innoscentia untuk fase 1, versi analog. Buat fase 2, mereka develop versi digital dengan IoT. Mereka ingin informasi kondisi daging aman dimakan/enggak itu bisa dicek real time kayak liat kondisi cuaca dan saham. BOOM.
Pertengahan Juni saya mulai kerja bareng 5 intern lain. Saya fokus kerja untuk persiapan masuk ke market dari segi regulasi pangan, sedangkan yang lain ke consumer behaviour, cari market potensial, finance. Cuma saya yang remote intern, 5 intern lain based di Stockholm dan kerja di kantor Innoscentia. Jadilah gini kondisinya di Zoom tiap meeting.
Pengalaman pertama biasanya berkesan ya kan!
Apa yang saya suka dari kerja di sini dibanding pengalaman di Indonesia?
(PS. saya ga generalisir semuanya yang abroad kondisinya kayak ini atau semua yang di Indonesia kayak gini. It’s just my premature conclusion)
1. Startup, tapi ga slavery
Jam kerja fleksibel, tapi ga berarti kerja 24 jam kudu ready bales kerjaan. Saya kerja gapake WhatsApp, tapi pakai Slack (mirip fiturnya buat chat kayak WhatsApp) dan Zoom buat meeting. Load notif chat-nya super normal, ga overwhelmed! Apalagi wiken-- SEPI. Bahkan notif WhatsApp temen-temen kelas saya lebih rame dibanding notif Slack kerjaan.
Other than that, Innoscentia juga punya lab R&D di India yang kena dampak COVID-19. Semua pegawai gabisa kerja dan gabut aja di rumah (gabisa ngapa-ngapain karena alat semua ada di lab). Tapi, startup kayak gini bisa bayar full semua gaji pegawai sampai sekarang, gaada yang putus kontrak gegara COVID-19. What a first country level startup envisioned.
Selain miting di kantor, kita juga miting di taman. Itu ada laptop di tengah, isinya muka saya yang lagi join pake Zoom.
2. Opennes sampe luber
Hari pertama saya langsung presentasi tentang diri sendiri (keluarga, latar belakang, apa yang disuka). Hari kedua, saya presentasi tentang life phase (mulai dari masa kecil sampai sekarang, ups and downs, reflecting on difficult situation). Ada yang cerita tentang keluarganya yang divorce. Ada yang cerita tentang kondisi anxiety-nya. Baru kenal dua hari tapi semua udah buka heart to heart, ga cuma all interns tapi CEO-nya juga ikut bikin ppt buat present tentang diri dia.
Dua minggu kerja, CEO langsung ngajak feedback session. Konsepnya menarik, semua harus kasih feedback ke semua orang (interns dan CEO) di grup melingkar. Misal, pas CEO-nya dapet giliran buat dikasih feedback, dia akan balik badan dan ga ga boleh liat the interns. Kami (the interns) akan kasih feedback tentang CEO-nya selama 10 menit, bentuknya mengalir conversation (so people can add up or response to other’s opinion) yang intinya tentang apa yang kami suka dari CEO-nya dan apa yang kami pengen liat lebih dari CEO-nya. Setelah 10 menit beres, CEO balik badan dan cuma boleh bilang ‘thank you’ without trying to clarify or to give more response from the feedbacks. Semua dapet giliran dikasih feedback, termasuk saya.
Baru kali ini saya forced to open up about myself (and to hear others’ opinion about myself) and it is super intense. What’s even farther, ini baru dua minggu kerja! Jujur ini shock culture buat saya yang biasanya ga open. Saya jarang pake emosi di day to day activity, I’m definitely a thinking person. Di dunia kerja apalagi, mana ada heart to heart di awal-awal kayak gini. But it is indeed a new thing and interesting experience for me. Walaupun berasa awkward buat curhat dan dapet personality feedback dari orang yang baru kenal, ternyata seru juga.
3. Mereka peduli buat develop the interns
Kalau dulu rasanya intern kayak ga dianggep (anak bawang cin), di sini kok diperhatiin banget character and career development-nya ya..
Baru dua minggu pertama, saya udah dikasih 2 personality test secara gratis: test Perspektiv dan Cognitive Process Profile (CPP) dari founders Innoscentia. Perspektiv lebih bahas tentang personal strength and weakness, sedangkan CPP lebih liat kemampuan berpikir strategis (yang super penting buat karir).
Hasilnya 100% berguna buat pengembangan diri saya. Dari Perspektiv saya jadi tau kalau saya sering put too much pressure on myself and often to undervalue myself. Dari situ saya dapet kesempatan buat one on one sama tim Perspektiv, consulting how to deal with the result and to manage myself better.
Ini paragraf pembuka hasil tes saya di Perspektiv. Super direct ya hasilnya bikin kaget dan makin stress bacanya lol. But they helped me afterward!
Tes CPP termasuk salah satu tes paling berharga yang pernah saya dapet. Saya jadi tau gimana cara mengembangkan kemampuan strategis saya. Ternyata saya lemah di verbal conceptualisation-- pendekatan abstrak dan kreatif dalam komunikasi kayak analogi/metafor. Saya terlalu banyak merekonstruksi suatu hal menjadi uncomplicated, straightforward and factual manner. Over simplify and direct ternyata ga bagus juga.
Ini salah satu acara yang dibuat sama Innoscentia, the Digital Summer Party! Semua shooting dikerjain manual, interns bantuin CEO-nya (yang lagi ngomong) buat handle the party. Summer party via Zoom ini kayak semacam update dari Innoscentia ke founders, investors, all stakeholders tentang kondisi Innoscentia saat ini dan juga say thanks to them. It’s an hour simple and touching event.
Pengalaman ini berharga banget buat saya. Seneng rasanya bisa belajar banyak di tempat baru yang kulturnya beda dan banyak yang bisa dilakuin. Yang paling seneng, saya merasa banyak banget yang bisa dilakuin di sini SECARA SADAR, dan ga berasa dipaksa (atau disiksa lebih tepatnya).
Kantorku bahkan bikin Spotify playlist Summer Tunes, dan lagunya enak-enak! Coba dengerin deh di sini!












