A Film: Letters from Prague (Surat dari Praha)
Sad, beautiful, tragic.
Larasati merupakan perempuan muda yang sedang mengurus proses perceraiannya dengan suaminya karena suaminya tidur dengan perempuan lain di saat dirinya tengah hamil dua bulan hingga keguguran. Larasati yang keras, setelah bertahun-tahun tidak berjumpa dengan ibunya, Sulastri, kali ini bertemu dengan keadaan Sulastri tengah sakit. Larasati berniat meminjam sertifikat rumah untuk keperluannya. Ternyata, tak lama kemudian, Sulastri meninggal. Belum saja menginjak empat puluh hari, ia telah meminta notaris untuk membacakan wasiat ibunya. Wasiat itu menyatakan bahwa rumah tersebut akan diberikan kepada Larasati sebagai anak tunggal Sulastri dengan sebuah syarat harus menyerahkan sekotak yang berisi kumpulan surat pada Pak Jaya di Praha serta harus mendapatkan tanda tangannya.
Dengan hati dan kepala yang keras, Larasati pun terbang ke Praha. Ia akhirnya menemukan alamat Pak Jaya dan menunggu. Ketika Pak Jaya tahu bahwa yang datang merupakan anak Sulastri, beliau marah besar seolah kedatangannya mengusik ketenangannya dan kembali membangkitkan kenakan pahit kisah cintanya dengan Sulastri.
Larasati menuduh bahwa Pak Jaya telah menghancurkan keluarganya dengan ia mengirimkan surat-surat itu. Ia menuduh bahwa surat-surat itu telah menyebabkan ayah kandungnya meninggal. Ia juga menuduh beliau bahwa selama ini ibunya mengurung diri di kamar adalah ulah dari surat-surat yang datang. Pak Jaya juga tak mau kalah. Ia pun bersikap sangat keras terhadap kedatangan Larasati ke Praha.
“Mengapa setelah dua puluh tahun, Anda baru muncul?”
Perlahan-lahan, keduanya melunak dan saling bercerita tentang masa lalu yang telah mereka lewati. Pak Jaya merupakan tahanan politik Orde Baru dan keluarganegaraannya dicabut ketika ia menempuh pendidikan di Praha atas beasiswa yang ia peroleh di era Soekarno. Ia dan kawan-kawannya menolak Orde Baru sehingga menyebabkan ia menjadi tahanan politik kelas C sehingga ia dan banyak kawannya di sini menjadi stateless. Namun, satu yang dicamkan di cerita ini bahwa golongan orang-orang yang menolak Orde Baru tak selamanya adalah komunis. Bahkan, mereka adalah orang-orang yang lebih nasionalis. Dengan kawan-kawan lamanya, ia bercerita bahwa dahulu mereka pergi dengan kapal hingga Terusan Suez dan berlayar menuju Eropa hingga akhirnya mereka sampai di Praha.
“Saya pernah berjanji pada Sulastri. Pertama, saya akan kembali ke Indonesia. Kedua, saya tidak akan pernah berhenti mencintainya. Namun, takdir hanya membuat saya dapat melaksanakan janji yang kedua.”
Inti dari perjalanan ke Praha ini ialah menemukan kembali ‘sesuatu’ itu. Wasiat Sulastri ternyata ingin mempertemukan anak kesayangannya dengan satu-satunya orang yang ia cintai. Sulastri ingin agar Pak Jaya dan Larasati dapat berdamai dengan hidupnya masing-masing.
“Jika dulu Anda memilih kembali ke Indonesia, kira-kira apa yang akan terjadi?”
“Kemungkinan besar kau akan menjadi anak saya.”
Dan di akhir, ketika Larasati dan Pak Jaya berpelukan di trotoar itu, wuidih. Banjir air mata. Bayangkan saja Anda berpelukan di negeri orang bersama orang yang sangat mencintai Ibu Anda hingga sekarang, dan itu adalah bukan ayah kandung Anda.
Sakit banget nonton film ini, meski sudah yang kedua kalinya menonton tetap saja menangis tersedu. Tokoh-tokoh di film ini adalah Larasati (diperankan oleh Julie Estelle), Jaya (diperankan oleh Tyo Pakusadewo), dan Sulastri (diperankan oleh Widyawati). Sebuah film Indonesia yang sangat berkualitas dari segi cerita maupun hasil produksinya.
9/10
n.a.f













