about fly amanita, "c'est la vie", and seine river.
aku mencintai kata-kata dengan takjub. aku beruntung bisa menjadikan mereka teman-teman, mempelajarinya, merangkainya, dan memaknai hubunganku dengan kata-kata. ada sinar tersendiri yang muncul dari garis lurus maupun lekukan huruf-huruf yang berbaris rapi. mereka memilin kisahnya tersendiri, seolah-olah mereka bisa menggambarkan isi sudut-sudut dalam otakku yang aneh. ah, perasaan ini mungkin aneh bagi sebagian besar orang. tapi beginilah hubunganku dengan kata-kata.
aku pernah menganggap kata-kata adalah misteri yang harus kupecahkan. dalam satu kali kisah yang kutulis, seringkali aku membongkar dan memasangnya ulang dengan skema yang acak. cahaya-cahaya itu berubah sudut dan jatuh di sisi bidang yang berbeda. terkadang mereka membuatku kebingungan dan putus asa. aku selalu bilang di mana pun: jika kamu mencintai sesuatu atau seseorang, betapa sulitnya, kamu akan meluangkan waktumu untuk sesuatu atau seseorang itu. aku mencintai kata-kata, jadi aku berusaha dan selalu berusaha untuk memberikan apa pun yang kata-kata inginkan dariku.
bahkan terkadang mereka merenggutku, menjadikanku gila, karena aku gagal mencintai mereka.
life is like fly amanita. hidupku berubah sejak perpisahan di bukit itu. sore hari. sahabat-sahabatku. cahaya keemasan. mungkin ini adalah salah satu kelemahanku: gemar meromantisasi suasana. sejak hari itu berakhir, aku tahu aku akan selalu sendirian dalam menyelami kehidupan ini bersama miliaran kata-kata yang menuntutku untuk selalu memahami mereka, mempelajari mereka. aku sendirian.
hidup penuh kekacauan seiring bertambahnya usia. jika di laut ada ribuan pusaran, aku dipaksa (atau mungkin terpaksa) untuk tenggelam pada salah satunya. di dalam pusaran itu, aku banyak ditemani ikan-ikan, gurita, kuda laut, dan ikan menyengat. tapi aku tak suka laut. pusaran di laut terlalu menyeramkan. meski terkadang pusaran itu membawaku pada tepi pantai, tapi aku lebih suka hutan.
di tepi hutan, aku hanya dapatkan kesunyian. begitu jauh dari hiruk pikuk dan harapan-harapan palsu. tapi di hutan, kata-kata mengalir deras. mereka tidak membiarkanku untuk mencintai mereka. bagaimana pun juga, aku hidup untuk diriku sendiri. kulihat jamur merah. mesin pencari otomatis bilang jika itu adalah jamur terindah berwarna merah dengan totol putih. jamur yang sering kulihat di cerita-cerita peri. jamur-jamur itu sangat indah. aku terkadang terlena. aku dan hutan adalah hidup. tapi jamur itu, ah.
hidup itu seperti fly amanita. indah tapi beracun.
itulah kehidupan. kita menciptakan dunia seperti apa yang hendak kita tinggali di masa lalu, masa kini, dan masa depan. setelah membayangkan hijaunya hutan karena meranti dan tanaman pakis, aku membayangkan hidup di sebuah rumah kecil di tepi hutan dengan halaman yang luas. rumah yang mengisi hari-hari di masa sepia, masa senja. aku membayangkan tenggelam dalam duniaku sendiri: daftar putar connie francis atau diah iskandar sambil minum teh.
di masa-masa itu, aku berharap aku hilang ingatan. aku tidak ingin banyak berpikir karena begitulah begitulah kehidupan. c'est la vie. di hari-hari itu, aku hanya ingin mengosongkan pikiran bersama riak ikan di kolam dan suara burung gereja yang bertengger di tali jemuran yang membentang. walaupun potret usang menuntut kenang, tapi apalah maksudnya. beginilah kehidupan. kita tidak perlu berpikir setelah apa yang kita ciptakan telah merengkuh kita selamanya.
bagaimana dengan jamur yang indah dan beracun? beginilah menjadi dewasa dan tua. jamur yang indah dan beracun tidak akan mematikanmu. mereka membuatmu kebal dari rasa-rasa yang sudah tidak terasa asing untukmu.
tepat sebulan lagi, aku akan terbang ke paris. aku membayangkan diriku duduk di tepi sungai seine dan memandang wajah seseorang di atas permukaannya, entah siapa. satu hal yang pasti, seseorang itu akan memilih untuk merasuki duniaku beserta seisinya. secara sukarela ia hidup berada di antara isi kepalaku yang suram dan gelap gulita. karena begitulah konsekuensi. ada dunia lain yang kadang kala sulit untuk ditembus, meskipun kamu mengaku kamu begitu mencintai seseorang.
tapi tenang saja, aku berupaya menyalakan lilin. seseorang itu tidak perlu khawatir kalau duniaku bakal gelap (meskipun aku tidak berjanji). tapi beginilah hidup di sebuah rumah di tepi hutan yang dipenuhi jamur fly amanita. kita terbiasa menghindari hal-hal menyedihkan alih-alih menerimanya dan meresapinya.
di tepi sungai seine, aku akan merindukan masa laluku. masa-masa yang indah, penuh tawa, dan hari-hari berjalan dengan penuh kebaikan dan rasa senang. tapi bagaimana pun juga, terkadang aku perlu tenggelam dalam pusaran lautan agar aku tahu bagaimana rasanya hancur berkali-kali namun semakin kuat. beginilah kehidupan, terkadang kita tidak harus membahasnya. karena kehidupan adalah kehidupan itu sendiri. ada hal-hal yang berada di luar kuasa diri kita karena tangan-tangan tak terlihat senang mengotak-atiknya.
di tepi sungai seine, aku akan membuang hantu-hantu yang menggerogoti jiwaku. di sana, aku akan membebaskan diri dari hal-hal yang kerap kali menyakitiku tanpa menyalahkan apa atau siapa yang membuatku merasa begitu. barangkali sungai seine akan berbaik hati menampungnya selamanya. dan kelak aku kembali lagi menuju rumahku di tepi hutan yang dipenuhi fly amanita dengan tertawa-tawa, terbang, dan bahagia selamanya.
meski terkadang hal-hal yang terlihat indah adalah racun. ya, ya. hidup seperti fly amanita, jadi kita harus membiarkannya begitu saja, dan membiarkan segala racun kubuang di sungai seine.