I was wondering what would make you happy on your September 30 this year...
I believe giving stuffs that you fancy and excited about would definitely work. I also thought about F.R.I.E.N.D.S or Game of Thrones or Harry Potter thingy that we both like as a gift to you so it’d make even memorable. But I had a second thought, with your current achievement, you could always buy your own fancy stuffs. So instead, I’m giving you a book. LOL.
Well, a good book is always something that would make me happy and excited, but I understand not everyone’s thrilled about that. That’s why I had a little doubt giving you this book because I’m afraid it’s not something that would make you excited receiving it.
Then I remember the relieved, the contentment, the peace, the fulfilment, the warmth, the love, and all other positive energies I experience during reading this book. So I decided to give you that book, hoping my best friend would be able to experience those kind of feelings too. A greater feeling beyond just a happy feeling.
So I’m pretty sure this book is rather something that your soul need.
With this letter, I also want to appreciate your presence as my best friend since 2008. I can’t recall any longer friendship I have but with you. And I really am treasuring the friendship we have.
In case life has treated you hard and it made you look down on yourself, I want to make sure you know how really fun, compassionate, ingenious, friendly person you are. You have a good and loving heart. You’ve always been a fighter and caring for other people. You spread laughter to people around you, you make your surroundings happy. But now it’s time for you to fight for your own happiness and care for your inner-self.
This year may be a stormy year for you, but as an old friend of yours, I can say you’ve come a long way, you developed so much and I could see a bright sunshine on your days that you prolly don’t see. You are surrounded by people that love and appreciate you. So be grateful and happy of that, ‘kay?
As much as I and your other friends want to make you happy, none of us can really put that happiness in you unless you look within yourself. Just stop seeking around but start feeling it instead, because God already put that happiness in you all these times through many manifestations around you.
All and all, I hope you enjoy the book and given the light to receive His love today and everyday.
These past days of the week I feel my heart’s full and warm.
There were people randomly approaching me on different occasions to deliver kind messages. I watched a good movie Knives Out that shows me valuable lesson of how kind deeds and honest heart will guide into light.
Then I contemplate for things that recently happening in my life. They seemed like pieces of puzzle that make into such beautiful big picture T_T <3
One of the occasions, I’ve been doing weekly #berbagicontekan on Instagram in a past month. I honestly doing it for the sake of my lazy ass to build a new habit through simple commitment in reading and learning something new. The main target of every topic is myself, never I wanted to lecture someone through those materials. But since they’re so beneficial to ME, I feel the need to share them as in I share my neighbour a meal I bought someplace sooo so delicious I don’t want to eat them all myself, so I simply share.
Surprisingly, I received some kind messages from it. I’m not honored or pleased, my heart just feel warm and thankful for all of you for taking time just to appreciate little thing. Those nice words reflects the person, actually. Have you realized when you actually say nice things towards others, the nice person is you for saying such things, so if it were a boomerang, it’s hitting both parties.
Thank you to anyone for being genuine, honest, appreciative and nice towards others. I can see how powerful a beautiful sincere deed can move people.
Kindness indeed contagious! The energy vibrates and transfers to warm its surroundings.
I hope I am able to be one of those person that practices kindness too :-)
If we were a plant, may we breathe, live, grow, and absorb sunlight well.
Alhamdulillaah, akhirnya bisa juga buka tumblr. Beberapa hari kemarin rasanya ingin nulis tapi karna tumblr gak bisa diakses – walaupun sudah pakai VPN, jadi topik yang ingin ku bahas pun terhempas dari ingatan entah ke mana.
Hari ini ada topik yang bagiku menarik untuk dibahas, mumpung masih segar dalam ingatan, akan ku coba tuang dalam tulisan.
Kemarin, aku buka instagram dan melihat ada fitur baru ketika hendak mencari gif. Apaan nih? pikirku. Aku gak langsung mencobanya, dan tidak penasaran juga saat itu. Tapi setelah melihat satu dua temanku menggunakannya, mulailah fitur itu sedikit mencuri atensiku. Satu dua temanku itu posting fitur baru dari instagram: stiker ‘ask me question’ dan mengira fitur tersebut berfungsi sebagai kotak bagi followers mereka untuk mengajukan pertanyaan yang nantinya akan dijawab oleh si pemilik akun. Layaknya ask.fm.
Aku yakin satu dua temanku itu iseng-iseng karena penasaran dengan fitur baru tersebut, atau mungkin mereka pernah melihat orang lain main-main dengan fitur tersebut kemudian mencobanya sendiri karena dianggap menyenangkan, atau berbagai alasan lain.
Kesan pertamaku melihat fitur itu digunakan oleh satu dua temanku? Terasa ganjil. Tapi aku tidak tahu apa. Rasanya aneh aja, kalau fitur itu hadir hanya sebagai kolom bagi followers untuk bertanya. Lalu, fungsinya ‘send message’ di setiap story apa?
Kemudian, aku tidak hanya melihat satu dua orang, tapi banyak orang yang menggunakan fitur itu. Makin terasa ganjil, sih. Karena dengan adanya fitur itu kok ya jadi terkesan spamming. Banyak orang melakukan ‘Q & A session’ di instagram mereka, dan menjawab satu buah pertanyaan dengan satu post. Kalau terdapat 10 pertanyaan dari follower, maka kamu akan melihat pola jaitan ketika membuka IG story orang yang sedang ‘main’ dengan fitur itu.
Selang beberapa jam, aku melihat temanku yang jarang update, repost satu story. Story ini berupa screen capture yang sebelumnya telah beberapa kali di-screen capture oleh beberapa akun. Oleh setiap akun yang repost story ini, ditambahkan komentar / caption baru sampai-sampai tidak terlihat lagi akun asli dari pemilik story ini, dan yang mana sebenarnya original post-nya.
Sebenarnya materi dari original post ini bersifat edukatif dan informatif, mungkin ditujukan bagi orang yang belum tau. Namun karena caption yang ditulis oleh beberapa akun yang repost story ini beragam, –ada yang netral, bernada kesal, bahkan ada juga yang nyinyir– banyak kesan yang mewarnai maksud dan tujuan utama story ini.
Contohnya saya sendiri. Ketika melihat story tersebut, ikut repost dan menambahkan stiker gif kambing yang tertawa. Alasannya, karena merasa lucu dan merasa teka-teki terpecahkan setelah mengetahui penjelasan tersebut. Oh ini dia, fungsi sebenarnya! Pantes terasa ganjil.
Tapi, sedetik setelah repost, aku buru-buru menghapusnya. Aku tersadarkan, walau tidak ada maksud apapun apalagi menyindir seseorang, post ini bisa menyinggung orang-orang yang telah keliru menggunakan fitur ini. Aku pun tersadar, post ini, karena telah dibumbui caption yang beragam, terasa ‘angkuh’. Seolah-olah kaum yang belum menggunakan fitur ini is smarter than the ones that wrongly used the feature. Maka aku langsung hapus.
Aku sadar, walaupun aku tidak memakai fitur itu, aku pun sebelumnya sama-sama tidak tau fungsi sebenarnya. Yang membedakan, aku hanya tidak menggunakannya.
Walau pun sedetik dan hanya terbersit, aku takut rasa angkuh sempat hinggap di diriku. Sangat disayangkan, melihat banyak sekali orang-orang seperti itu. Ternyata banyak akun-akun lain yang membahas tentang fungsi dari fitur tersebut, dengan berbagai nada yang mewarnai. Dari yang informatif dan edukatif, hingga nyinyir dan menggurui. Merasa lebih baik atau bahkan lebih pintar –dari orang-orang yang telah keliru menggunakan fitur tersebut– bukan kah itu sifat angkuh?
Yang ingin ku bahas sekarang, bukan mengenai ‘how to use instagram’s ask me question properly’ karena salah/benarnya mereka menggunakan fitur itu, beneran deh, gak akan merugikan/menguntungkan kita.
Yang ingin ku bahas adalah, sikap dan kebiasaan kita terhadap suatu fenomena. Sikap-sikap yang mungkin oleh sebagian orang dianggap sepele dan biasa, padahal tanpa disadari berdampak besar dan tidak baik.
Dalam fenomena fitur instagram ini, harusnya kita diuntungkan dengan adanya teknologi baru, karena dia hadir untuk mempermudah urusan manusia, kan? Fitur itu diciptakan untuk memudahkan pemilik akun, melihat berbagai respon/jawaban atas pertanyaan yang dia lemparkan pada follower-nya. Kita bukan diuntung/rugikan dengan bagaimana orang lain menggunakannya.
“Tapi aku tuh greget liat orang lain udah tau cara pakenya salah, kekeuh pakenya gitu”
Yuk, sama-sama belajar untuk membiarkan orang lain bersenang-senang dengan caranya sendiri, selama tidak merugikan diri kita dan sosial, tidak usah kita ambil pusing untuk mengatur. Kalau memang terganggu dan tidak suka, tinggal skip, lho.
Dengan membiasakan diri seperti itu, kita memakai waktu untuk berkaca pada diri sendiri daripada sibuk mengoreksi orang.
Justru yang merugikan diri kita, adalah kalau kita membiasakan diri kita mengkritik hal-hal yang tidak perlu dikritik, membiarkan rasa benci hadir, dan terlalu fokus pada kesalahan orang lain.
Sifat angkuh atau merasa lebih baik dari orang lain itu lah, yang buruk. Yang justru merugikan diri kita. Ayolah, kita semua ini manusia. Punya berbagai kekurangan dan kelebihan. Kita ini bersifat dinamis, satu waktu kita benar dan orang lain salah. Tapi jangan lupa, kita pasti akan salah dan orang lain yang benar. Baiknya kita ini bertanya dan membayangkan, saat kita salah, apakah kita mau orang lain menegur kita dengan cara mempermalukan?
Cukup kita beri tau, dengan bijaksana, rendah hati dan menjaga perasaan orang. Tanpa menyisipkan ego.
Bukan, aku bukan hendak menggurui. Aku ingin berbagi pandangan baik.
Tidak, aku tidak sedang membicarakan orang lain. Aku membicarakan sekitarku, termasuk diriku sendiri.
Yuk kita sama-sama mempraktekan hal baik yang sudah kita ketahui, dan sama-sama mengingatkan :)
Aku tidak tahu harus memulai tulisan ini dari mana.
Aku bahkan sebelumnya tidak berniat untuk membuat sebuah tulisan malam ini, namun perasaan yang tidak asing, tiba-tiba memenuhi hati seolah memaksaku untuk melakukannya. Seperti dengan menulis adalah jalan bagi mereka untuk keluar dari dalam kepalaku.
Aku adalah orang yang sangat terbuka, namun juga sangat tertutup. Aku sangat ekspresif dalam mengekspresikan perasaanku, tapi ternyata, beberapa kejadian membuatku mengenal diriku lebih banyak, membuatku tahu bahwa itu belum seberapa. Aku pun baru tahu banyak perasaan-perasaan yang terkunci jauh tersembunyi, yang hanya aku yang dipersilahkan menjenguknya, itu pun sesekali.
Aku rasa perasaan-perasaan itu bukan mengenai sebuah topik atau sebuah peristiwa tertentu yang sengaja ku kubur dan berusaha ku buang. Seingatku aku tidak pernah mengubur perasaan apapun, tidak tahu kalau alam bawah sadarku yang melakukannya. Tapi sadarku tidak.
Perasaan-perasaan ini tidak menggangguku, tapi sering membuatku bingung. Seperti muncul untuk meminta perhatian kemudian menuntut dicari tahu. Terlalu abstrak untuk mampu ku deskripsikan dengan jelas. Aku sering merasa sedih dan tidak enak hati, aku hanya bisa bilang bahwa rasa ini tidak nyaman. Aku tidak terganggu sih, silakan saja mampir, asal jangan lama-lama, bisikku berusaha mentolerir. Berharap sang perasaan mendengarnya dan tahu diri.
Mengobservasi adalah kegiatan yang senang ku lakukan, dan perasaan semacam ini sering kujadikan objek observasiku. Perasaan-perasaan ini kadang datang di tengah aku merasa senang dan dalam keadaan baik saja. Kosong, lalu seolah mengetuk untuk dibukakan pintu. Ingin dijenguk rupanya. Ingin aku merasa bingung, tapi tidak sempat. Aku sibuk mengobservasi perasaan apakah ini? Perasaan siapakah ini? Bertanya seolah mencari pemiliknya karena bukan diriku, aku tidak merasa memilikinya.
Pernah suatu ketika, salah satu dari perasaan itu datang. Bukan mengetuk, tapi menyerang. Aku sangat tidak nyaman dan merasa harus menangis untuk mengusirnya. Tidak ingin dibuat tersesat dalam teka-teki ini, ku putuskan untuk ku luapkan pada satu teman dekatku, berharap ia bisa membantuku mencari sebuah jawaban. Anehnya, perasaan itu seperti kembali bersembunyi saat aku bahkan belum sempat menyelesaikan cerita pada temanku. Seolah-olah perasaan itu mengingatkanku bahwa tidak akan ada yang bisa mengerti kecuali diriku sendiri.
Kesal aku dibuatnya, karena merasa bodoh tidak bisa jelas saat meneruskan sisa cerita pada temanku itu, karena percuma; perasaannya sudah pulang untuk mengunci diri lagi. Terpaksa aku kembali mengobservasi dalam sendiri, padahal aku butuh teman untuk berbagi.
Selain mengobservasi, malam adalah salah satu dari berbagai hal yang kusukai. Heningnya malam membuatku mendengar lebih tajam, pikirku lebih luas, dan kantukku lebih dekat; berjaga-jaga saja kalau aku mulai tersesat dalam teka-teki dan memilih untuk menyerah, maka tidur adalah penolongku.
Tapi jauh sebelum aku menyerah, satu persatu ku bahas peristiwa hidupku yang mungkin menjadi penyebab. Dalam diam, sendirian. Ku coba satu demi satu, tapi perasaan itu tidak muncul, ku yakini itu sebagai jawaban bukan. Hingga habis semua ceritaku, tetap juga tidak ditemukan jawaban.
Beberapa hari berlalu, sampai datang hari di mana aku menyediakan waktu untuk bertemu dengan teman lamaku. Ku pikir, ada yang mau dia ceritakan padaku. Tapi saat bertemu, dia banyak bertanya tentang diriku. Aku pada saat itu tidak memiliki kisah menarik untuk diceritakan. Padahal juga, aku lebih senang mendengarkan daripada menjadi yang didengarkan.
Jadi kuputuskan saja menceritakan kisah hidupku yang kuanggap belum memuaskan, berharap dengan cerita itu cukup mendukung suasana menjadi sendu dan perasaan aneh itu terpancing datang. Karena aku masih penasaran.
Aku pun mulai bercerita namun tanpa alur yang jelas, tidak tahu apa dan mana yang harus kuceritakan di awal dan di akhir, aku bagai membuka sebuah buku secara acak, membacakan dari tengah, mundur ke belakang, kemudian melanjutkan sisanya yang ada di akhir. Fokusku tidak jelas karena selagi bercerita aku diam-diam seolah memancing dan menanti perasaan-perasaan itu agar muncul lagi dan berharap bisa membantuku menghayati cerita-ceritaku.
Sialnya, dia tidak datang. Tidak sampai giliran temanku bercerita.
Setelah aku menyerah dan mengakhiri ceritaku, temanku yang sedari tadi menahan diri, akhirnya membludak juga. Tidak kusangka, apa yang aku coba ceritakan hari itu adalah kisahnya versi lain. Tiba-tiba temanku menangis seolah sudah menahannya dan tak kuat lagi. Perasaan itu seolah-olah keluar dari tempat persembunyiannya dan menghilang, bersama dengan air mata temanku. Meringankan bebanku. Meninggalkan ruang di hatiku sehingga terasa ringan dan lapang. Padahal bukan aku yang menangis.
Mendengarkan adalah salah satu bentuk observasiku. Itulah mengapa aku senang mendengarkan cerita orang. Kadang, dari cerita orang aku banyak belajar. Ku rasa banyak sekali manfaat dari hanya mendengarkan orang, tapi jangan lupa memakai saringan.
Selain memakai telinga, kamu harus memakai hati dan juga saringan ketika mendengarkan. Kenapa hati? Agar kamu bisa berempati. Bisa turut merasakan apa yang orang lain rasakan; seolah-olah melepaskan jiwamu untuk pergi menempatkan posisi orang tersebut dan merasakan bagaimana rasanya, seolah itu terjadi padamu sendiri. Lalu dengan saringan? Agar kamu tidak larut. Tidak lupa memulangkan jiwamu dan emosi yang mulanya bukan milikmu.
Namun sepertinya, saat itu jiwaku sudah pergi duluan. Karna nyatanya, perasaan-perasaan yang sempat kurasakan itu milik teman lamaku, yang sudah mampir padaku bahkan sebelum aku mendengar ceritanya. Membuatku bertanya-tanya perasaan apakah ini? Perasaan siapakah? Karna aku tidak merasa memilikinya.
Itu pun sedikit menjelaskan mengapa aku terbuka namun juga tertutup. Aku terbuka dalam mendengarkan cerita orang, dan menutup diri bukan dengan sengaja ku kunci, namun karena mendeskripsikan perasaan-perasaanku itu sangat abstrak dan memusingkan. Maka dari itu aku lebih senang mendengarkan cerita orang. Aku belajar memahami orang lain dan terutama belajar memahami diri sendiri, lewat mendengarkan. Banyak dari mendengarkan cerita orang membuatku menyadari sesuatu dalam diri sendiri yang sebelumnya tidak ku sadari. Atau sekedar berkaca atau mendapat jawaban untuk teka-teki lampau. Banyak hal yang bisa kita dapatkan dari mendengarkan orang lain, dengan syarat memakai hati.
Seperti kutipan yang telah lama kusukai;
“In the act of observing others, you may recognize yourself”
I befriend with stupidity; always act and look stupid whenever I’m with them, yet solemnly happy
Hari itu aku percaya diri tanpa izin dulu pada mamaku, berangkat dengan membawa perbekalan menginap, demi memenuhi keinginan besar Ayu dari hari-hari sebelumnya.
Begitulah Ayu, anak gadis yang jangankan menginap di rumah teman, malam tahun baru saja pukul satu dini hari dimana teman-temannya yang lain sibuk kekenyangan karena terlalu banyak makan menunggu kembang api, dia malah sibuk siap-siap mau pulang. Takut dimarahin papanya katanya. Padahal, waktu dia sampai rumah, papanya lupa tuh kalo dia lagi ada di luar, bahkan mungkin lupa kalau punya anak si Ayu ini. Jadi, ketika hari itu rumahnya kosong karena sekeluarganya pergi ke Lampung, dia sangat semangat mengundang teman-temannya menginap dengan sogokan tomyum. Pernah juga pizza hut, atau sekedar sate taichan-nya yang enak itu dia iming-imingi kasih gratis. Memang perlu sedikit reward kalau ke rumahnya itu, agar niat menempuh 24,8 KM muncul dalam tekad kami-kami dan tidak mudah tergoyahkan.
Akhirnya, sampailah aku di rumahnya. Setelah itu aku, Adit, dan Vera diajak oleh Ayu ke Transmart untuk berbelanja bahan-bahan tomyum. Hmm ku kira sudah sedia semua tinggal makan. Bisikku dalam hati, pengen tau jadi dan merasa rugi. Ayu jalan di depan sambil celingak-celinguk mencari apa saja yang harus dibeli. Vera membantunya sambil melihat resep dari google, huh dasar penjilat. Mentang-mentang mau dimasakin ya? Atau mentang-mentang sebentar lagi mau jadi seorang istri.
Oya, saat itu Vera belum menikah. Ahh jadi semakin mengingatkan kalau ini sudah lama berlalu. Tapi masih terasa seperti baru kemarin.. Aku, merasa tidak ada jadwal menikah dan tanggung jawab menjadi seorang istri waktu itu, sibuk cari kulkas yang ada fanta orange-nya. Aku ingat betul. Aku sibuk cari jajan dan cari hiburan untuk diriku sendiri. Kalau Adit, seperti biasa hanya mengikuti dari belakang, bagai anak bebek mengikuti induknya. Bisa dipastikan dia tidak ikut aku untuk melipir, karena tidak ingin mengambil resiko gak dapet jatah tomyum kalo sampai lepas dari pandangan dan terlihat tidak ikut membantu seperti aku. Aku memang keren, hanya aku yang berani mengambil resiko dan memperjuangkan freedom.
Aku hendak kembali pada rombonganku yang sedang melihat-lihat bakso dari luar kulkas besar. Sudah ku tanamkan di hati dari rumah Ayu, bahwa aku harus mendapatkan jajanan dan hiburan kalau memang aku harus ikut. Melihat kulkas besar itu aku tiba-tiba ingin menaruh ponselku di dalam kulkas dan merekam kegiatan belanja ini. Mendokumentasikan momen, selain menjadi pekerjaan di divisi UKM-F ku dulu saat kuliah, juga merupakan hobi dan sebuah kewajiban bagiku. Atau sekedar merupakan sebuah alibi untuk menghindari tugas-tugas yang tidak kusukai, seperti saat acara masak bersama. Aku tidak suka memasak, bagiku itu merepotkan. Jadi aku pura-pura sibuk mendokumentasikan momen mereka, padahal ya tidak juga. Beruntungnya memiliki teman-teman yang penuh pengertian, atau mereka juga tidak mau ya masakannya jadi tidak enak kalau ada campur tangan ku? Belum ku pastikan.
Tadi sampai mana? Oh iya. Aku kemudian menaruh ponselku di salah satu rak untuk diselipkan di antara bungkus-bungkus bakso beda merk agar ponselku berdiri. Aku ajak mereka untuk berakting natural dan menganggap itu cctv. Tentu saja yang semangat Ayu. Dengan durasi 15 detik, Ayu menghayati perannya sebagai pembeli yang mencari bakso. Aku sebagai pembeli yang membuka pintu kulkas dan merasa bingung di antara pilihan bakso, kemudian menyadari Vera tidak ada dalam frame. Sayangnya ketika Vera menghampiri, durasi sudah habis. Sehingga harus diadakan pengambilan ke-2. Duh sangat dusun intruksi sekali Vera ini, tidak ada aura bintangnya seperti Ayu dan aku.
Di take ke-2, nampaknya Vera tidak mau lagi dianggap tidak ada aura bintangnya. Dia selalu berusaha tampak dengan menggerak-gerakan wajah agar selalu muncul di setiap celah dan ruang yang ia dapatkan. Ayu tetap serius dengan perannya itu. Sayangnya aku menangkap akting Vera yang tidak natural dan fokusku pecah karnanya, aku menolehkan wajah untuk mengeluh ketidakseriusan Vera, pada Adit.
Pada saat itulah aku menyadari gelagat Adit adalah paling aneh, namun harus kuakui sangat menjiwai. Diam-diam ternyata ia memilih untuk berperan seperti orang yang menyadari keberadaan cctv dan gerak-geriknya ia buat kaku, mirip sekali copet. Aku tidak bisa menahan tawaku saat melihat gelgatnya saat itu. Seketika, aura bintangku memudar dan profesionalisme ku dalam berakting lenyap karna ledakan tawa. Yang disambut oleh protesan Ayu karna tidak ada yang serius kecuali dia. Ya ampun, dia pikir barusan itu sedang syuting FTV memangnya?
Setelah itu kami kembali pada tujuan utama kami ke Transmart yaitu mencari bahan tumyum yang harus dibeli. Hampir terlupakan karena setelah syuting di kulkas, kami ketagihan syuting-syuting beberapa kali di lorong-lorong makanan. Maaf ya kepada pembeli yang berpapasan dengan kami saat itu, kalau kami menyebabkan ketidaknyamanan anda berbelanja. Tapi kami menikmatinya. Bukan, bukan menikmati dalam membuat orang lain terganggu. Tapi melakukan hal-hal sederhana yang terhitung bodoh bersama teman terdekat, yang membuat bahagia. Makanya kami menikmatinya. Tidak peduli itu terlihat bodoh di mata orang lain, kalian kan, tidak turut merasakannya.
Akhirnya kami pulang. Belum sampai rumah, baru keluar pintu masuk. Terjebak hujan besar karena terlalu lama di dalam. Dalam keadaan-keadaan seperti itulah yang mampu membuat kami menyadari kerugian dari bertindak banyak bodoh. Coba saja tadi fokus berbelanja dan tidak melakukan hal-hal tidak penting itu, pasti bisa pulang sebelum hujan. Tapi jadi tidak ada cerita seperti ini nantinya, yakinku untuk menghindari penyesalan.
Ketika tomyumnya sedang dimasak, barulah teringat bahwa aku belum izin. Jadi aku pamit memisahkan diri dari dapur untuk mengabari orang tuaku. Memang selalu ada alasan untuk keluar dari dapur, kalau tidak, tawari saja mereka kopi. Biar aku yang buatin, biar keliatan sibuk.
Ternyata aku kelewat percaya diri. Aku gak dapet izin. Sedih banget. Aku benar-benar diancam pulang dan kalau tidak, uang bulananku tidak akan turun katanya bulan depan. Segala cara sudah aku coba untuk mendapatkan izin mamaku. Sampai dengan sompral aku tawarkan jasa mengepel rumah seminggu penuh, secara cuma-cuma alias gratis. Ya memang sebelumnya tidak pernah dibayar juga sih. Barangkali mamaku akan tertipu ucapanku. Untungnya tetap tidak direstui, bisa langsing aku jadinya kalau penuhi tawaranku sendiri.
Malam itu, sudah pukul sembilan malam lebih. Aku benar-benar disuruh pulang. Tapi aku tetap menyempatkan diri untuk bermain slime bersama mereka. Dan tertawa terbahak-bahak hanya karena main slime. Kok bisa ya, mungkin Ayu sedikit menaruh serbuk ganja atau semacamnya ke dalam kuah tomyum. Gak kok pak polisi, kalo bapak baca ini bercanda. Paling masako atau mecin yang bikin bodo.
Yaudah deh, jadi begitulah satu kenangan dari sekian banyak kenangan yang kulewatkan bersama mereka. Kenangan yang membuat aku tertawa sendiri dan menyadari kelakuan bodoh kami, tapi tetap kami lakukan lagi di setiap kesempatan. Karenanya kami tertawa, karenanya kami bahagia. Karenanya aku rindu untuk melakukan kebodohan yang lain bersama dengan orang-orang yang sama.
So.. it got me thinking was all these time social media really helping or even hindering my life? Does it really helps me increase productivity and build self-awareness or simply considerable amount of my time wasted here?
So I decided to try to disconnect myself from social media for a couple of days. I won’t lie, it was quite tempting. But it wasn’t bad at all. I tried to be more productive like reading, writing, or merely get out of the couch to wash the dishes. Anything that I didn’t do that I could actually do, just because of networking. And it’s no less fun!
Surprisingly, though the image of laying on the couch while instagram-ing was way much fun, disconnecting it, was refreshing me.
I fully agree that social media is one of the most splendid things that ever invented.
As we all already know social media –in which case I’d like to mention instagram specifically– performs so many things such as (let’s say) ‘bringing the far closer’, simplifying almost any business, providing so much opportunities in inventing new ‘jobs’, exploring one’s creativity, facilitating informations, and exceedingly many more depending on which side you wish to perceive.
Aside from the advantages, let us not forget the disadvantage of the social media itself. How it affects and drives us, indeed slightly noticeable. Mostly by the fact how it really entertains; the real boredom-killer.
And clearly, the disadvantages of social networking go much deeper than we realise.
* * *
A deeper problem I want to discuss is this:
From we all know, lots of criminal cases out there ‘triggered’ by social media –it’s like a room for the bad people to stalk and gain so much informations about us that we often forget it should’ve kept private– but then unfortunately, it’s being misused by the bad people to do their crime.
That kind of case might often be heard, but never came across our minds would happen to us. Some of you might say “well I never shared such personal information online, so that case’s no threat to me. I use social media mostly for watch people’s stories to kill boredom and entertainment” or something like that.
In my opinion, being a lurker just for fun or lurking to get so much inspirations and aspirations is no harm, isn’t it? But when by looking one’s life, one’s success, or one’s lifestyle did nothing to you but discourage, demotivate, or worse put hatred for even tiny in us, then it’s the harm we should be alarmed.
That I’d like to talk about.
…when in fact, the glory they have might not as easy as we imagine. We only receive their ‘story’ in a bit of part – unconsciously perceived the story as a whole picture of them that isn’t necessarily true. Compare it to ours, and feel bad about ourselves.
Frankly, we don’t know how their real life situations are. How they act off the screen. We often miss the truth of what they shared in such post is the side they only choose to be shared / only the result of their hard work they want to be shown as a credit to themselves – without other side of the ups-and-downs or the difficulties they faced.
Many informations we accidentally see when we’re scrolling social media, right? Not only the positives, but also the negative ones – although we knowingly not following these accounts, but it just pops out of nowhere. Sadly what we see can’t be unseen. Those informations recorded by our subconscious and unconsciously affect us. Either it threaten us or worse, drives us.
I’m not saying that social media / social networking / even netizens are all bad. There are loads of inspiring and kind-hearted people in the internet. Moreover, I’m not here to lecture you, because I myself is trying still to control myself of the tendency in social networking. Therefore I write this post just to encourage each other with you who feels the same, that this is a serious issue which I believe I’m not alone in this.
As you know there are many studies discussing this issue, like from medical and psychological point of views. It’s time for us to be aware and to improve our way in social networking. We can always utilize the advantage and reduce what is harmful to ourselves.
* * *
A lighter one is this, in my opinion..
going backward is not always a bad thing.
Taking a step back to the times when social networking has not yet existed. How we interact with people, how being present on real-life situation, etc. Why don’t we go back there for some moment? The times when we fully owning oneself’s without being stirred by technology.
You can always start with a simple way. Grab a book you long wish to read, or a movie you long want to watch. Go outside your room, listen attentively to what teacher or co-workers say, focus on tasks, involved to the conversation our family and friends discuss – instead of sinking our faces to smartphone’s screen. Letting ourselves distracted by the cyberspace.
Simply being present in real life situation. Do this more and you’ll be surprised how refreshing it is to detoxify ourself from the overwhelming social media :-)
Well, some of you may wondering why do I have to share the story of part I before this.
Look carefully how the ‘long-lost friend’ of mine – who I always thought was strange and odd and all about not having social media in this digital era – treats me. How he treats people when meeting in person. He doesn’t get distracted by his phone, whilst surely got his phone full of notifications, he’s a busy business man now. But when he’s with somebody. He’s being a friend by listening carefully & watching attentively.
Overall, he’s being present; for his friend, his family, his work, and most importantly himself.
He doesn’t bothered for being ‘outdated’ or missing out an update from his friends’ post. He believe he can catch up attentively when they meet; which is what matter the most.
A week ago I finally met a person I ‘lost’ long enough to made me desperately feeling missed. Nagging and tears are the first things that burst when I got the chance to speak to him by phone. Complaining where have he been these couple months beyond a year. He was that disappear that none knows, literally none of our mutual friends know where he is, where to contact, or even how’s he doing (yet he didn’t perceive so, which quite vexed me).
So when I got to speak to him even by phone I got a mixture feeling of happiness, relief, and irritation.
But somehow I sense some sorrowful deepest in my heart.
The next morning I didn’t waste the chance to finally met him in person. Felt overwhelmingly excited & couldn’t wait to hear his stories and explanations. The sky were clear and brightly blue, as if it reflecting how I was feeling that time. He took me to a pleasant place, gestured me to sat next to him and put his phone’s screen downward. Thus we could watch attentively to what one another said. At many points I captured that he remember every tiny little detail moments that we’ve shared. My stories. Our stories. Even the ones that I myself forgot about oneself’s & missed some part of his. Whereas I was the one who avow longing.
I demanded him explanations.
Something that has to make sense to answer my puzzlement of how can one person ‘completely’ vanished over this digital era. To be not found in any net nor account, on line. Not his former tutor, his junior high school friend – I approached, not even me, one of his closest friends, knew anything to reach him over.
Then something got me real hard, as soon as he explained what happened to his life. I was slapped by the reality. Luckily the sky didn’t reflect me that time. If so, everyone would be surprised by the great lightning bolt on a daylight.
So it turned out he was focusing on his business.
Too focused on his real life situation
On being ‘present’ and advancing priorities that it seizes his attention for the insignificant – well at least that’s what I implied – he never in his mind to what I accuse disappear let alone on purpose, or to single out oneself from his friends to just hang out or having light conversation like always. It’s the circumstance he’s committed to that make him so.
And it amazed me how it pans out on him. He currently handling 3 remarkable serious business – for his age, which is 26 – within less than 2 years only. Without any ‘short cut’ from his family, in which I believe is he went from zero.
Before this, he was always got me baffled; why on earth does one person could never wished of having an account on any of many online platform? let alone following the newest one –he deactivated his only account which was Facebook– his life is genuinely private.
Before this, I always thought of him as a peculiar friend of mine. But that thought vanishes as I ponder, thus got me realise something clear-cut…