I was wondering what would make you happy on your September 30 this year...
I believe giving stuffs that you fancy and excited about would definitely work. I also thought about F.R.I.E.N.D.S or Game of Thrones or Harry Potter thingy that we both like as a gift to you so it’d make even memorable. But I had a second thought, with your current achievement, you could always buy your own fancy stuffs. So instead, I’m giving you a book. LOL.
Well, a good book is always something that would make me happy and excited, but I understand not everyone’s thrilled about that. That’s why I had a little doubt giving you this book because I’m afraid it’s not something that would make you excited receiving it.
Then I remember the relieved, the contentment, the peace, the fulfilment, the warmth, the love, and all other positive energies I experience during reading this book. So I decided to give you that book, hoping my best friend would be able to experience those kind of feelings too. A greater feeling beyond just a happy feeling.
So I’m pretty sure this book is rather something that your soul need.
With this letter, I also want to appreciate your presence as my best friend since 2008. I can’t recall any longer friendship I have but with you. And I really am treasuring the friendship we have.
In case life has treated you hard and it made you look down on yourself, I want to make sure you know how really fun, compassionate, ingenious, friendly person you are. You have a good and loving heart. You’ve always been a fighter and caring for other people. You spread laughter to people around you, you make your surroundings happy. But now it’s time for you to fight for your own happiness and care for your inner-self.
This year may be a stormy year for you, but as an old friend of yours, I can say you’ve come a long way, you developed so much and I could see a bright sunshine on your days that you prolly don’t see. You are surrounded by people that love and appreciate you. So be grateful and happy of that, ‘kay?
As much as I and your other friends want to make you happy, none of us can really put that happiness in you unless you look within yourself. Just stop seeking around but start feeling it instead, because God already put that happiness in you all these times through many manifestations around you.
All and all, I hope you enjoy the book and given the light to receive His love today and everyday.
These past days of the week I feel my heart’s full and warm.
There were people randomly approaching me on different occasions to deliver kind messages. I watched a good movie Knives Out that shows me valuable lesson of how kind deeds and honest heart will guide into light.
Then I contemplate for things that recently happening in my life. They seemed like pieces of puzzle that make into such beautiful big picture T_T <3
One of the occasions, I’ve been doing weekly #berbagicontekan on Instagram in a past month. I honestly doing it for the sake of my lazy ass to build a new habit through simple commitment in reading and learning something new. The main target of every topic is myself, never I wanted to lecture someone through those materials. But since they’re so beneficial to ME, I feel the need to share them as in I share my neighbour a meal I bought someplace sooo so delicious I don’t want to eat them all myself, so I simply share.
Surprisingly, I received some kind messages from it. I’m not honored or pleased, my heart just feel warm and thankful for all of you for taking time just to appreciate little thing. Those nice words reflects the person, actually. Have you realized when you actually say nice things towards others, the nice person is you for saying such things, so if it were a boomerang, it’s hitting both parties.
Thank you to anyone for being genuine, honest, appreciative and nice towards others. I can see how powerful a beautiful sincere deed can move people.
Kindness indeed contagious! The energy vibrates and transfers to warm its surroundings.
I hope I am able to be one of those person that practices kindness too :-)
If we were a plant, may we breathe, live, grow, and absorb sunlight well.
The first thing Snape asks Harry is “Potter! What would I get if I added powdered root of asphodel to an infusion of wormwood?” According to Victorian Flower Language, asphodel is a type of lily meaning ‘My regrets follow you to the grave’ and wormwood means ‘absence’ and also typically symbolized bitter sorrow. If you combined that, it meant ‘I bitterly regret Lily’s death’.
Alhamdulillaah, akhirnya bisa juga buka tumblr. Beberapa hari kemarin rasanya ingin nulis tapi karna tumblr gak bisa diakses – walaupun sudah pakai VPN, jadi topik yang ingin ku bahas pun terhempas dari ingatan entah ke mana.
Hari ini ada topik yang bagiku menarik untuk dibahas, mumpung masih segar dalam ingatan, akan ku coba tuang dalam tulisan.
Kemarin, aku buka instagram dan melihat ada fitur baru ketika hendak mencari gif. Apaan nih? pikirku. Aku gak langsung mencobanya, dan tidak penasaran juga saat itu. Tapi setelah melihat satu dua temanku menggunakannya, mulailah fitur itu sedikit mencuri atensiku. Satu dua temanku itu posting fitur baru dari instagram: stiker ‘ask me question’ dan mengira fitur tersebut berfungsi sebagai kotak bagi followers mereka untuk mengajukan pertanyaan yang nantinya akan dijawab oleh si pemilik akun. Layaknya ask.fm.
Aku yakin satu dua temanku itu iseng-iseng karena penasaran dengan fitur baru tersebut, atau mungkin mereka pernah melihat orang lain main-main dengan fitur tersebut kemudian mencobanya sendiri karena dianggap menyenangkan, atau berbagai alasan lain.
Kesan pertamaku melihat fitur itu digunakan oleh satu dua temanku? Terasa ganjil. Tapi aku tidak tahu apa. Rasanya aneh aja, kalau fitur itu hadir hanya sebagai kolom bagi followers untuk bertanya. Lalu, fungsinya ‘send message’ di setiap story apa?
Kemudian, aku tidak hanya melihat satu dua orang, tapi banyak orang yang menggunakan fitur itu. Makin terasa ganjil, sih. Karena dengan adanya fitur itu kok ya jadi terkesan spamming. Banyak orang melakukan ‘Q & A session’ di instagram mereka, dan menjawab satu buah pertanyaan dengan satu post. Kalau terdapat 10 pertanyaan dari follower, maka kamu akan melihat pola jaitan ketika membuka IG story orang yang sedang ‘main’ dengan fitur itu.
Selang beberapa jam, aku melihat temanku yang jarang update, repost satu story. Story ini berupa screen capture yang sebelumnya telah beberapa kali di-screen capture oleh beberapa akun. Oleh setiap akun yang repost story ini, ditambahkan komentar / caption baru sampai-sampai tidak terlihat lagi akun asli dari pemilik story ini, dan yang mana sebenarnya original post-nya.
Sebenarnya materi dari original post ini bersifat edukatif dan informatif, mungkin ditujukan bagi orang yang belum tau. Namun karena caption yang ditulis oleh beberapa akun yang repost story ini beragam, –ada yang netral, bernada kesal, bahkan ada juga yang nyinyir– banyak kesan yang mewarnai maksud dan tujuan utama story ini.
Contohnya saya sendiri. Ketika melihat story tersebut, ikut repost dan menambahkan stiker gif kambing yang tertawa. Alasannya, karena merasa lucu dan merasa teka-teki terpecahkan setelah mengetahui penjelasan tersebut. Oh ini dia, fungsi sebenarnya! Pantes terasa ganjil.
Tapi, sedetik setelah repost, aku buru-buru menghapusnya. Aku tersadarkan, walau tidak ada maksud apapun apalagi menyindir seseorang, post ini bisa menyinggung orang-orang yang telah keliru menggunakan fitur ini. Aku pun tersadar, post ini, karena telah dibumbui caption yang beragam, terasa ‘angkuh’. Seolah-olah kaum yang belum menggunakan fitur ini is smarter than the ones that wrongly used the feature. Maka aku langsung hapus.
Aku sadar, walaupun aku tidak memakai fitur itu, aku pun sebelumnya sama-sama tidak tau fungsi sebenarnya. Yang membedakan, aku hanya tidak menggunakannya.
Walau pun sedetik dan hanya terbersit, aku takut rasa angkuh sempat hinggap di diriku. Sangat disayangkan, melihat banyak sekali orang-orang seperti itu. Ternyata banyak akun-akun lain yang membahas tentang fungsi dari fitur tersebut, dengan berbagai nada yang mewarnai. Dari yang informatif dan edukatif, hingga nyinyir dan menggurui. Merasa lebih baik atau bahkan lebih pintar –dari orang-orang yang telah keliru menggunakan fitur tersebut– bukan kah itu sifat angkuh?
Yang ingin ku bahas sekarang, bukan mengenai ‘how to use instagram’s ask me question properly’ karena salah/benarnya mereka menggunakan fitur itu, beneran deh, gak akan merugikan/menguntungkan kita.
Yang ingin ku bahas adalah, sikap dan kebiasaan kita terhadap suatu fenomena. Sikap-sikap yang mungkin oleh sebagian orang dianggap sepele dan biasa, padahal tanpa disadari berdampak besar dan tidak baik.
Dalam fenomena fitur instagram ini, harusnya kita diuntungkan dengan adanya teknologi baru, karena dia hadir untuk mempermudah urusan manusia, kan? Fitur itu diciptakan untuk memudahkan pemilik akun, melihat berbagai respon/jawaban atas pertanyaan yang dia lemparkan pada follower-nya. Kita bukan diuntung/rugikan dengan bagaimana orang lain menggunakannya.
“Tapi aku tuh greget liat orang lain udah tau cara pakenya salah, kekeuh pakenya gitu”
Yuk, sama-sama belajar untuk membiarkan orang lain bersenang-senang dengan caranya sendiri, selama tidak merugikan diri kita dan sosial, tidak usah kita ambil pusing untuk mengatur. Kalau memang terganggu dan tidak suka, tinggal skip, lho.
Dengan membiasakan diri seperti itu, kita memakai waktu untuk berkaca pada diri sendiri daripada sibuk mengoreksi orang.
Justru yang merugikan diri kita, adalah kalau kita membiasakan diri kita mengkritik hal-hal yang tidak perlu dikritik, membiarkan rasa benci hadir, dan terlalu fokus pada kesalahan orang lain.
Sifat angkuh atau merasa lebih baik dari orang lain itu lah, yang buruk. Yang justru merugikan diri kita. Ayolah, kita semua ini manusia. Punya berbagai kekurangan dan kelebihan. Kita ini bersifat dinamis, satu waktu kita benar dan orang lain salah. Tapi jangan lupa, kita pasti akan salah dan orang lain yang benar. Baiknya kita ini bertanya dan membayangkan, saat kita salah, apakah kita mau orang lain menegur kita dengan cara mempermalukan?
Cukup kita beri tau, dengan bijaksana, rendah hati dan menjaga perasaan orang. Tanpa menyisipkan ego.
Bukan, aku bukan hendak menggurui. Aku ingin berbagi pandangan baik.
Tidak, aku tidak sedang membicarakan orang lain. Aku membicarakan sekitarku, termasuk diriku sendiri.
Yuk kita sama-sama mempraktekan hal baik yang sudah kita ketahui, dan sama-sama mengingatkan :)
Aku tidak tahu harus memulai tulisan ini dari mana.
Aku bahkan sebelumnya tidak berniat untuk membuat sebuah tulisan malam ini, namun perasaan yang tidak asing, tiba-tiba memenuhi hati seolah memaksaku untuk melakukannya. Seperti dengan menulis adalah jalan bagi mereka untuk keluar dari dalam kepalaku.
Aku adalah orang yang sangat terbuka, namun juga sangat tertutup. Aku sangat ekspresif dalam mengekspresikan perasaanku, tapi ternyata, beberapa kejadian membuatku mengenal diriku lebih banyak, membuatku tahu bahwa itu belum seberapa. Aku pun baru tahu banyak perasaan-perasaan yang terkunci jauh tersembunyi, yang hanya aku yang dipersilahkan menjenguknya, itu pun sesekali.
Aku rasa perasaan-perasaan itu bukan mengenai sebuah topik atau sebuah peristiwa tertentu yang sengaja ku kubur dan berusaha ku buang. Seingatku aku tidak pernah mengubur perasaan apapun, tidak tahu kalau alam bawah sadarku yang melakukannya. Tapi sadarku tidak.
Perasaan-perasaan ini tidak menggangguku, tapi sering membuatku bingung. Seperti muncul untuk meminta perhatian kemudian menuntut dicari tahu. Terlalu abstrak untuk mampu ku deskripsikan dengan jelas. Aku sering merasa sedih dan tidak enak hati, aku hanya bisa bilang bahwa rasa ini tidak nyaman. Aku tidak terganggu sih, silakan saja mampir, asal jangan lama-lama, bisikku berusaha mentolerir. Berharap sang perasaan mendengarnya dan tahu diri.
Mengobservasi adalah kegiatan yang senang ku lakukan, dan perasaan semacam ini sering kujadikan objek observasiku. Perasaan-perasaan ini kadang datang di tengah aku merasa senang dan dalam keadaan baik saja. Kosong, lalu seolah mengetuk untuk dibukakan pintu. Ingin dijenguk rupanya. Ingin aku merasa bingung, tapi tidak sempat. Aku sibuk mengobservasi perasaan apakah ini? Perasaan siapakah ini? Bertanya seolah mencari pemiliknya karena bukan diriku, aku tidak merasa memilikinya.
Pernah suatu ketika, salah satu dari perasaan itu datang. Bukan mengetuk, tapi menyerang. Aku sangat tidak nyaman dan merasa harus menangis untuk mengusirnya. Tidak ingin dibuat tersesat dalam teka-teki ini, ku putuskan untuk ku luapkan pada satu teman dekatku, berharap ia bisa membantuku mencari sebuah jawaban. Anehnya, perasaan itu seperti kembali bersembunyi saat aku bahkan belum sempat menyelesaikan cerita pada temanku. Seolah-olah perasaan itu mengingatkanku bahwa tidak akan ada yang bisa mengerti kecuali diriku sendiri.
Kesal aku dibuatnya, karena merasa bodoh tidak bisa jelas saat meneruskan sisa cerita pada temanku itu, karena percuma; perasaannya sudah pulang untuk mengunci diri lagi. Terpaksa aku kembali mengobservasi dalam sendiri, padahal aku butuh teman untuk berbagi.
Selain mengobservasi, malam adalah salah satu dari berbagai hal yang kusukai. Heningnya malam membuatku mendengar lebih tajam, pikirku lebih luas, dan kantukku lebih dekat; berjaga-jaga saja kalau aku mulai tersesat dalam teka-teki dan memilih untuk menyerah, maka tidur adalah penolongku.
Tapi jauh sebelum aku menyerah, satu persatu ku bahas peristiwa hidupku yang mungkin menjadi penyebab. Dalam diam, sendirian. Ku coba satu demi satu, tapi perasaan itu tidak muncul, ku yakini itu sebagai jawaban bukan. Hingga habis semua ceritaku, tetap juga tidak ditemukan jawaban.
Beberapa hari berlalu, sampai datang hari di mana aku menyediakan waktu untuk bertemu dengan teman lamaku. Ku pikir, ada yang mau dia ceritakan padaku. Tapi saat bertemu, dia banyak bertanya tentang diriku. Aku pada saat itu tidak memiliki kisah menarik untuk diceritakan. Padahal juga, aku lebih senang mendengarkan daripada menjadi yang didengarkan.
Jadi kuputuskan saja menceritakan kisah hidupku yang kuanggap belum memuaskan, berharap dengan cerita itu cukup mendukung suasana menjadi sendu dan perasaan aneh itu terpancing datang. Karena aku masih penasaran.
Aku pun mulai bercerita namun tanpa alur yang jelas, tidak tahu apa dan mana yang harus kuceritakan di awal dan di akhir, aku bagai membuka sebuah buku secara acak, membacakan dari tengah, mundur ke belakang, kemudian melanjutkan sisanya yang ada di akhir. Fokusku tidak jelas karena selagi bercerita aku diam-diam seolah memancing dan menanti perasaan-perasaan itu agar muncul lagi dan berharap bisa membantuku menghayati cerita-ceritaku.
Sialnya, dia tidak datang. Tidak sampai giliran temanku bercerita.
Setelah aku menyerah dan mengakhiri ceritaku, temanku yang sedari tadi menahan diri, akhirnya membludak juga. Tidak kusangka, apa yang aku coba ceritakan hari itu adalah kisahnya versi lain. Tiba-tiba temanku menangis seolah sudah menahannya dan tak kuat lagi. Perasaan itu seolah-olah keluar dari tempat persembunyiannya dan menghilang, bersama dengan air mata temanku. Meringankan bebanku. Meninggalkan ruang di hatiku sehingga terasa ringan dan lapang. Padahal bukan aku yang menangis.
Mendengarkan adalah salah satu bentuk observasiku. Itulah mengapa aku senang mendengarkan cerita orang. Kadang, dari cerita orang aku banyak belajar. Ku rasa banyak sekali manfaat dari hanya mendengarkan orang, tapi jangan lupa memakai saringan.
Selain memakai telinga, kamu harus memakai hati dan juga saringan ketika mendengarkan. Kenapa hati? Agar kamu bisa berempati. Bisa turut merasakan apa yang orang lain rasakan; seolah-olah melepaskan jiwamu untuk pergi menempatkan posisi orang tersebut dan merasakan bagaimana rasanya, seolah itu terjadi padamu sendiri. Lalu dengan saringan? Agar kamu tidak larut. Tidak lupa memulangkan jiwamu dan emosi yang mulanya bukan milikmu.
Namun sepertinya, saat itu jiwaku sudah pergi duluan. Karna nyatanya, perasaan-perasaan yang sempat kurasakan itu milik teman lamaku, yang sudah mampir padaku bahkan sebelum aku mendengar ceritanya. Membuatku bertanya-tanya perasaan apakah ini? Perasaan siapakah? Karna aku tidak merasa memilikinya.
Itu pun sedikit menjelaskan mengapa aku terbuka namun juga tertutup. Aku terbuka dalam mendengarkan cerita orang, dan menutup diri bukan dengan sengaja ku kunci, namun karena mendeskripsikan perasaan-perasaanku itu sangat abstrak dan memusingkan. Maka dari itu aku lebih senang mendengarkan cerita orang. Aku belajar memahami orang lain dan terutama belajar memahami diri sendiri, lewat mendengarkan. Banyak dari mendengarkan cerita orang membuatku menyadari sesuatu dalam diri sendiri yang sebelumnya tidak ku sadari. Atau sekedar berkaca atau mendapat jawaban untuk teka-teki lampau. Banyak hal yang bisa kita dapatkan dari mendengarkan orang lain, dengan syarat memakai hati.
Seperti kutipan yang telah lama kusukai;
“In the act of observing others, you may recognize yourself”
“Maybe she was meant to live every moment exaggerated. Every emotion to be felt in the deepest way. Pure hatred leading to complete exhaustion. She’d know what loss was and she’d dream of better tomorrows. After that, happiness would fill her heart so much that it would fill the hearts around her, too. Soon she would cry herself to sleep but she would learn from it and she could say she lived her life to experience it not to just exist like the person next to her did.”