Tonton "SUPER KERENN!!-DESA WONOMULYO MAGETAN - pemandangannya INDAH BANGET!!!!" di YouTube

#dc comics#dc#batman#bruce wayne#batfam#dick grayson#tim drake#batfamily#dc fanart


seen from Türkiye
seen from Austria

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from Spain
seen from Germany
seen from United States
seen from India
seen from India

seen from Colombia
seen from Türkiye
seen from China
seen from Germany
seen from Germany
seen from Germany

seen from United States
seen from United States
Tonton "SUPER KERENN!!-DESA WONOMULYO MAGETAN - pemandangannya INDAH BANGET!!!!" di YouTube
Ijin Pimpinan dengan Hormat kami sampaikan kegiatan BPBD Kab Polewali Mandar Musrenbang 2021 1. Kecamatan Wonomulyo 2. Kecamatan Mapilli 3. Kecamatan Luyo 4. Kecamatan Campalagian #bpbd #BNPBIndonesia #musrenbang #wonomulyo #mapilli #luyo #campalagian (di Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Polewali Mandar) https://www.instagram.com/p/B9iYZMygA9s/?igshid=hw3uhs1y8flb
Anak Sudut Kampung, di sore yang mendukung itu untuk kali pertama melakukan teater mini "Kesurupan Sampah" sebagai bentuk kritik terhadap orang orang yang melalaikan kesehatan lingkungan dengan membuang sampah sembarangan. Berhari-hari sebelumnya, sebagaimana aktor pemula, mereka tidak yakin memiliki bakat untuk tampil. Tapi melihat mereka bisa tampil dengan lancar dan merasa puas terhadap hasil mereka sendiri bahkan ingin tampil lagi, sungguh menyenangkan sekali rasanya. Semoga kesadaran atas pesan yang mereka bawakan mampu mereka pertahankan. Semoga saja, tidak juga mereka, kita juga.
Merdeka Mosque, Wonomulyo Sulawesi Barat. Happy and enjoy your Ramadan.
Genilangit dan Dua Puluh Tiga Pelajaran Terbaiknya (Bagian II)
Kira-kira hampir selama lima belas menit kami duduk menikmati suasana gerimis yang mulai deras di atas hammock, saat kami melihat dari kejauhan rombongan keluarga responden kami kembali dari lokasi air terjun. Kami sontak berdiri dan tersenyum kepada mereka. Mereka membalas sapaan kami sambil berkata " Ayo Mbak, selak hujannya tambah deres.". Kami membalas perkataan mereka dengan tersenyum, sedikit berbasa-basi dan sebagai penutup kami mengucapkan hati-hati kepada mereka. Tak perlu menunggu lama untuk beranjak dari hammock, kami menuju lokasi air terjun. Ternyata masih sekitar 500 meter lagi hingga ke lokasi air terjun tapi untungnya hari itu seperti mendapat senyuman dari Tuhan akibat ketenangan kami, gerimis perlahan mulai berhenti. Senangnya kami hingga layaknya anak kecil yang kegirangan, kami berlari di atas tanah becek akibat gerimis itu. Tentu, Mbak Heni berlari lebih cepat dari saya haha. Jantung kami terbelalak kagum begitu mendengar suara gemericik air dan mata kami berbinar mendongak ke atas saat melihat air terjun yang tidak terlalu tinggi tersebut." Aaaaiiiiirrrrr!!!!", teriak saya.
Sampai juga kami di depan harta karun kami, air terjun yang masih lumayan perawan karena baru saja dibuka oleh warga dusun Wonomulyo. Tergolong kecil karena hanya ada satu air terjun dan aliran airnya juga tidak begitu besar. Tapi sungguh, bagi saya itu adalah harta karun besar selama dua bulan petualangan di Magetan ini. Di samping air terjun tersebut ada gubuk kecil tempat untuk beristirahat. Tunggu, tapi di mata Mbak Heni gubuk kecil itu adalah tempat untuk meletakkan barang bawaan atau dengan kata lain dia menantang saya untuk berenang di air terjun. Jujur saya bernafsu sekali untuk mencicipi kesegaran air di tengah siang hari apalagi setelah perjalanan menakjubkan, tapi melihat para pengunjung lain yang hanya berdiri saja dan asyik berfoto-foto saya jadi sedikit malu. Oo tapi bukan Mbak Heni namanya jika dia tidak memberi saya pelajaran ke enam yakni untuk menuruti kata hati dan melakukan apa yang kita ingin. Saya yang sudah terbakar rasa tertantangnya segera melepas kacamata dan menyusul Mbak Heni yang sudah terlebih dahulu mencelupkan ujung kakinya ke air, meninggalkan barang bawaan kami di gubuk beserta dua orang pengunjung remaja putri yang keheranan melihat kami berani mencebur di air terjun kecil itu. Seketika satu persatu badan kami mulai menyatu dengan air daaaaa...n pyarrr pecah sudah segala lelah perjalanan kami, mati sudah kulit kami menahan dinginnya air hingga tulang, seakan tubuh kami telah menyatu oleh air terjun kecil itu. Kami lagi-lagi melupakan usia kemudian bertingkah seperti anak kecil yang kegirangan karena dibolehkan hujan-hujanan. Kami tertawa, kami melakukan semua gaya, kami mengerahkan seluruh tenaga untuk berperang air, bekejaran seakan air terjun ini milik kami berdua. Sekali lagi saya bersyukur karena telah mengikuti kata hati, apalagi saat melirik dua remaja putri di sisi air terjun yang seakaan ingin tapi ragu untuk masuk air terjun tersebut. Setelah puas memucatkan kulit dan bibir serta melihat sudah semakin banyak pengunjung yang datang, kami memutuskan untuk beranjak dari air. Dan di sinilah drama selanjutnya terjadi.
Air terjun Wonomulyo masih berusia belum genap tiga bulan saat kami berkunjung ke sana, sehingga wajar apabila masih terkesan sangat alami. Lha iya lha wong membuat kami sempat sedikit panik karena ternyata tidak ada tempat ganti baju di sekitar air terjun, yang terdekat ada di dekat kami parkir motor yang berarti sekitar 1 km perjalanan. Mungkin itulah alasan mengapa pengunjung yang lain ragu untuk menyebur ke air terjun. Lantas bagaimana nasib kami pengunjung yang sok tau ini? Hingga kemudian Mbak Heni menawarkan sebuah ide 'cemerlang' untuk ganti baju di dekat gubuk yang itu berarti hanya 30% saja yang tertutup. Kali ini aku menolak idenya karena itu berarti aku akan bermain dengan peluang bahwa tidak akan dilihat orang atau dilihat orang. Agak lama kami berpikir berharap ada solusi lain hingga kemudian setelah menimbang banyak faktor juga melihat keadaan di sekitar, kami memutuskan untuk memutus urat malu kami dan bermain dengan peluang. Ya, kami akan berganti pakaian di samping gubug! "Lakukan hal baru, Is. Haha belajar bermain peluang dan ambil resiko juga.", katanya dengan tawa andalannya. Ini jelas menjadi hal baru untuk saya yang pada dasarnya jarang sekali berkeliaran di alam. Maka dengan diawali bismillah serta mata yang tak henti mengawasi sekitar, saya mulai mempraktekan pelajaran berikutnya dengan mengambil handuk dan baju ganti dalam tas. Saya beruntung karena baju ganti yang saya bawa adalah berupa bawahan rok sehingga bawahan rok itu bisa sebagai pengganti sarung. Baju ganti bagian bawah, aman. Kemudian lanjut bagian atas yang lebih menantang karena berupa kaos dan itu berarti harus melepas semuanya. Dengan berbagai gaya dan usaha untuk berganti atasan dengan singkat, saya pun berhasil. Dan terakhir, berganti jilbab. Saya ingat saya sampai jongkok saat melepas jilbab yang basah dan menggantinya dengan jilbab baru karena pada saat itu terlihat segerombolan abg laki-laki berjalan mendekat ke arah air terjun. Ampuni aku Ya Allah jika tanpa sengaja auratku terlihat, doa saya waktu itu. Terimakasih ya Mbak, sudah memberiku pengalaman baru :).
Selesai sudah lima belas menit yang mendebarkan bagi kami. Kami tertawa puas dengan mata yang berkilat-kilat. Sebelum kembali ke parkiran, pada turunan arah jalan pulang kami mampir ke warung Mbah Wo untuk menepati janji kami. Mbah Wo dan istrinya berjualan makanan dan minuman khas tempat wisata : Indomie dan Kopi beserta pelengkap setianya gorengan hangat pemanja perut hehe. Waktu itu hanya kami berdua yang mengunjungi warung Mbah Wo, Mbak Heni dan saya sama-sama memesan indomie goreng dengan toping istimewa yakni penthol. Sebagai pelarut makanan, Mbak Heni memesan minum favoritnya, kopi, saya pun tak mau kalah untuk memesan minuman favorit saya, air putih hehe. Sambil menunggu makanan siap disajikan, kami mengobrol dengan istri Mbah Wo karena Mbah Wo sedang bertakziah di tetangaganya. Sampai kemudian Mbah Wo datang bersamaan dengan terciumnya aroma indomie pada hidung kami. Mbah Wo tampak senang dengan kedatangan kami dan tak lupa mengucapkan terimakasih karena bersedia mampir. Pelajaran ke sembilan tentang pentingnya silaturahmi aku dapatkan sambil mengunyah penthol di mulut.
Dua mangkok indomie beserta satu gelas kopi dan sebotol air mineral yang telah kosong menjadi penanda kami harus segera berpamitan. Setelah membayar semua makanan kami dengan selembar uang hijau kami melanjutkan perjalanan menuju parkiran. Sambil tak henti mengapresiasi kreativitas warga Wonomulyo yang mengelola potensi alam desanya menjadi potensi wisata, kami pun bertemu dengan pemuda karang taruna Wonomulyo. Pemuda itu menceritakan awal mula mereka berinisiatif membuka objek wisata air terjun Wonomulyo dengan segala kekurangan dan bermodalkan harapan agar bisa meningkatkan ekonomi warga sekitar. Mereka juga bercerita bahwa sebenarnya tawaran dari investor sudah datang untuk perkembangan objek wisata , tapi mereka menolak dengan alasan agar uang yang diterima tetap masuk dalam kas pengelolaan warga. Pemuda yang baru sepuluh menit berbicara dengan kami itu memberikan pelajaran tentang kreativitas dan keberanian. Kamipun berpisah setelah mengisi buku kritik dan saran , dan memesan satu ojek untuk mengantar kami ke tempat tujuan berikutnya. Senyum mengembang bersama dengan laju sepeda motor yang mengantar kami ke tempat bersejarah. " Hari yang indah dan penuh pelajaran ", kata saya dalam hati.
(....bersambung )
ada yg fans dengan alm.Nike Ardilla? mungkin udh tau ya sama tempat ini.. disini ada ratusan bingkai foto alm yg menutupi hampir seluruh dinding ruangan, beberapa baju yg pernah dipakai, dan pernak pernik pribadi miliknya.. list menu makannya jg pakai judul lagu lagu yg pernah dinyanyiin. makanannya cukup enak dgn hrga 15-30rb (sdh lngkp dgn minumannya). makan ditempat ini pengunjung jg akan ditemenin sama video looping ttg alm.nike ardilla. hmm.. mnurut sya, tempat ini cukup oke untuk nantinya menjadi list tempat yg sdh kamu kunjungi.. 😊👢 #nikeardilla #wonomulyo #westsulawesi #samsunggalaxy (at Resto & Gallery Nike Ardila)