(Katanya) Mau Beli Bahagia . . . Bahagia ngga bisa dibeli? Yeap. Ada yang jual ngga? Nope. Terus? Cukuplah diri yang bisa mengukur, seberapa bahagianya dirimu. Tak perlu merogoh kantong yang ada dompet sih buat beli bahagia. Cukuplah juga diri dengan apa yang dimiliki. Tak harus ikut orang untuk bisa begini-begitu seperti tampilannya. Atau ingin diakui, dan dipandang sebagai siapa karena jabatan apa? Sepertinya tak perlu juga kok. Menjadi diri sendiri dengan pribadi yang ada, jauh lebih nikmat ketimbang harus menempel dengan plakat apapun. Menjalaninya akan lebih terasa mudah karena tak harus berembel-embel. Iya sih, tulus itu susah. Ikhlas apalagi. Tapi kalau tidak memulainya untuk diri sendiri yang mau bahagia dengan cara yang kita tahu, ngga mungkin terlaksana, bukan? Kalimat klasik bilang, "Bahagia itu, kita yang menciptakan." Heem.. mungkin artinya lebih kepada bukan menciptakan. Karena menurut saya, menciptakan ya bisa ditempel biar ngga kelihatan apa yang sesungguhnya ya? Saya rasa, suasana, momen dan kesempatanlah yang bisa membuat kita bahagia. Senyum akan keluar lebih tulus bila kita tahu, ingin seperti apa diri ini. Ya pendapat boleh saja berbeda, bukan? Saya juga bukan yang sempurna banget kok. Mengalir, mungkin begitu ya? Atau spontan? Iya, mungkin itu saya. Jadi gimana? Mau beli bahagia? Ehh, umm.. kalau saya bilang kangen, boleh juga kan? Ya kangen sama saroong dan batik saya mah 💙💙💙 If it makes me happy, may i? . . Terlampir: ocehan rindu pada sebuah meja di sudut sana 😘😘😘 . . . Credit to: Aa Bayo . . . @nulisbuku . . . . . #nulisrandom2017 #nulisbuku #notabouttraveling #opinion #enjoythetime #workingisplaying #bsd #indonesia














