Seperti dalam Buku
Bacaanku ga sebanyak itu, tapi perjalanan menyusuri tanah melayu-komering selama 7 hari, mengingatkanku pada tulisan Andrea Hirata dan Tere Liye.
Riil, tanah ini tuh kerasanya jauh dari mana-mana. Terlebih daerah pedesaannya, ya. Antar daerah pedesaannya aja dipisahkan oleh kelok-kelok hutan tanpa penerangan, apalagi perkampungan.
Melihat dan merasakan sendiri tanah ini membuat kami bersepakat, salut banget sama Ikal, Arai, teman-teman Laskar Pelangi lainnya, dan tentunya anak-anak melayu yang ga putus sekolah, terus semangat belajar, merantau ke negeri-negeri yang jauh, menggapai cita-cita.
Boi, jaman skrg kalo denger org kuliah di luar negeri masi pada terkagum-kagum ga, si? Nah, Andrea Hirata nih sekitar tahun 2000-an dah bisa sekolah sampe Sorbonne, lo. Salut banget👏👏👏
Tapi jadi sedih kalo inget, ada berapa banyak anak yang akhirnya bernasib seperti Lintang? Bintang-bintang yang harus rela padam sebelum sempat memancarkan sinarnya. Heu, mencerdaskan kehidupan bangsa, masih jadi PR kita sampai saat ini😥
Selain itu, di perjalanan kemarin dapet kisah masa lalunya pejabat yang nekat abis kayak cerita-cerita di buku Tere Liye tentang pembela kebenaran. Beliau dulunya pejabat bank plat merah, terus sekarang jadi direktur PDAM yang gamau ngambil gajinya sepeser pun. Membangun ini itu dan mengupayakan banyak hal, terkadang dilakukan dengan merogoh kantongnya sendiri. The real mengabdi untuk ummat.
Yang ga kalah menarik, beliau pernah mendekam di penjara selama kurang lebih 5 tahun karena membakar berhektar-hektar perkebunan pabrik gula. Aksi itu beliau lakukan sebagai bentuk dukungan kepada masyarakat, khususnya para pemilik lahan yang lahannya akan diakuisisi oleh perusahaan. Kalau lahan dengan semena-mena diambil perusahaan, penduduk lokal mau mencari penghidupan dimana? Sayangnya, aku belum tau ujung ceritanya. Apabila ada waktu, mari kita sambung kisah ini di lain kesempatan.
Anw, bonus pict yang mengingatkanku pada tanah ini.
Daan, dari perjalanan singkat ini, jadi punya pertanyaan dan angan-angan. Kemana lagi kita akan pergi? Apakah kita bisa mengunjungi tempat-tempat asing dan negeri-negeri yang jauh, yang selama ini hanya kita kenali dari lembaran-lembaran buku?










