Eneg bgt tp blm apa2 dah kangen jg si :') hehe
Belum belum sudah rindu

Discoholic 🪩

⁂
wallacepolsom
$LAYYYTER
i don't do bad sauce passes

祝日 / Permanent Vacation
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
we're not kids anymore.
Sade Olutola
Show & Tell

tannertan36
KIROKAZE

PR's Tumblrdome
h
Cosmic Funnies
No title available
Three Goblin Art
Alisa U Zemlji Chuda

izzy's playlists!
YOU ARE THE REASON

seen from Spain

seen from Spain
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from Australia
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Canada

seen from Singapore
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Ireland

seen from United States

seen from Malaysia
@calmmay
Eneg bgt tp blm apa2 dah kangen jg si :') hehe
Belum belum sudah rindu
yang paling paling
kamu sering dengar kan, bukti cinta (kepada seseorang) yang paling tinggi, paling dalam, paling besar—karena paling sulit—adalah melepaskan. “jika benar cinta, lepaskanlah.”
sebelum menikah, hati kita mungkin pernah terpaut kepada seseorang. ternyata, kita belum berjodoh dengan seseorang itu. maka, melepaskan menjadi bukti cinta kita—katanya.
setelah menikah, urusan melepaskan juga masih ada. kehilangan bisa terjadi kapan saja dan karena apa saja. karena perceraian, karena kematian, bahkan karena kebersamaan yang tidak benar-benar bersama. siap tidak siap, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus melepaskan.
melepaskan tidak hanya perihal pasangan. para ayah melepaskan anak perempuannya kepada laki-laki yang menggantikan peran dan tanggung jawabnya mendidik. para ibu melepaskan anak laki-lakinya untuk mengutamakan perempuan yang dimintanya. para anak melepaskan orang tuanya ke kehidupan yang berikutnya.
melepaskan juga tidak hanya perihal status. dalam beberapa kondisi, justru status perlu tetap dipertahankan. melepaskan yang lebih hakiki adalah melepaskan kepemilikan.
...
kamu dulu juga mengira, melepaskan adalah bukti cinta yang paling paling. tapi kamu mengerti sekarang, melepaskan itu bahkan bukan bukti cinta. melepaskan itu bukti keimanan. yah, kalau konsep keimanan terlalu melangit, sebut saja bahwa melepaskan itu bukti kesadaran.
pertama, kesadaran bahwa semua hal di dunia ini adalah titipan. kedua, kesadaran bahwa kita tidak pernah benar-benar memiliki. ketiga, kesadaran bahwa hati manusia mudah sekali terbolak-balik.
begitu kan? melepaskan adalah bukti keimanan, khususnya keimanan pada takdir. keimanan pada qodo dan qodar. melepaskan seseorang yang kamu cintai adalah bukti cintamu kepada yang menciptakan seseorang itu. bukti cintamu kepada dirimu sendiri, sebab kamu tidak terpenjara oleh perasaan mengingini, memiliki. tetapi, bukan bukti cinta kepada seseorang itu.
jadi apa? bukti cinta yang paling tinggi, paling dalam, dan paling besar itu? jawabannya adalah menjaga. termasuk, menjaga seseorang itu—seperti kata Sore—dari diri kita sendiri. saat kita sangat mencintai seseorang, kita tidak takut kehilangan. alih-alih, kita tidak mau seseorang itu tersakiti, apalagi karena diri kita sendiri. saat kita sangat mencintai seseorang, kita ingin tetap hadir untuknya, menjaganya, bahkan saat dirinya sedang menjadi versi diri yang paling tidak menyenangkan.
lalu bagaimana, jika kata takdir, seseorang itu sudah habis jodohnya untuk bersama kita? atau, jika memang tidak pernah berjodoh, bagaimana jika kata takdir, rezeki kita untuk mengenalnya sudah habis? kamu tetap bisa menjaganya, yaitu dalam doa.
lepaskan kepemilikanmu atasnya. bukan karena kamu mencintai melainkan karena kamu sadar dan beriman.
lalu jagalah dia. jaga dari api neraka. jaga dari orang lain yang hasad kepadanya. jaga dari situasi yang membuatnya sulit. jaga dari godaan setan yang terkutuk. jaga dari perbuatan, perkataan, bahkan pandangan yang tidak menghormatinya. jaga dari dirimu sendiri. jaga dalam doa. dan jagalah dia pada segala musim. saat dia indah, saat dia rengkah.
Sm kyk Nabi Ibrahim as ke Nabi Ismail as ya, anak yg udh ditunggu2, diskenariokan akan menjadi pewaris perjuangan tapi qadarullah sama Allah diminta untuk melepaskan
Maka itulah bukti keimanan dan kecintaan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as
Menjumpai keluguan dan ketulusan mbah2 dg logat jawa seringnya dapat sedikit mengobati kerinduan
karena meski jauh, dengan kalimat sederhana mereka, it will always feels like home
Setiap ujian itu ada kisi-kisinya, setiap lembar pertanyaan ada pula lembar jawabannya, mustahil Allah menciptakan ujian tanpa solusi, mustahil pula Allah berikan tangisan tanpa adanya senyum bahagia.
Kamu tahu? Cintanya Allah padamu melebihi cinta ibumu, cintanya Allah itu unik, sempurna, dan caranya tidak pernah bisa ditebak. Tapi yakinlah dengan keyakinan yang baik, bahwa setiap manusia di bumi ini akan mendapatkan masing-masing porsi bahagia dan tangisnya. Semuanya tertakar dan terukur.
Semoga, tawakkal kita pada-Nya semakin tinggi, setelah ikhtiar yang maksimal. Dan semoga, dipenghujung cerita ini Allah sajikan pada kita kebahagiaan dan senyuman.
Selepas shubuh dalam perjalanan menuju Bekasi.
Sabtu, 17 Mei 2025
— jndmmsyhd
30
Tiga puluh. Kelihatannya cuma angka—kecuali kalau kamu sadar: ini artinya kamu benar-benar kehilangan usia dua puluhan-mu. Usia yang sudah cukup tua untuk ‘main-main’. Tapi terlalu muda untuk benar-benar mengerti: hidup ini sebenarnya mau ke mana.
Aku masih ingat, 13 tahun lalu... aku baru 17.
Pukul 10 pagi, dua hari setelah ulang tahunku, teman-teman ngasih kejutan di kantin. Rainbow cake—yang waktu itu lagi viral. Dan betapa ringannya dunia saat itu, saat hal paling berat yang kupikirkan cuma: “Duh, besok ulangan sejarah tiga bab,” atau bolak-balik login Facebook cuma buat ngecek: “Dia udah accept friend request belum ya?”
Dan sekarang... 30.
Banyak yang berubah. Aneh ya?
Dulu, waktu terasa lambat. Kayak nunggu jemputan yang nggak datang-datang.
Sekarang? Semuanya lewat kayak mimpi semalam: cepat, kabur, nggak pamit, nggak kasih jeda, nggak ada pertanda.
Dan… ini beneran aku sudah 30?
Dulu, aku pikir tiga puluh itu artinya stabil. Punya kerjaan mapan, sibuk dengan hobi keren, bebas liburan kapan aja, dan benar-benar menikmati hidup.
Tapi lucunya... versi kecilku yang naif itu, kayaknya malah lebih paham hidup daripada aku yang sekarang.
Dan, tahu nggak apa yang paling ironis?
Dulu aku yakin, bahwa menjadi dewasa itu berarti semuanya jadi lebih masuk akal, lebih mudah, lebih tertata.
Ternyata enggak. Ternyata... jadi dewasa justru bikin kita makin banyak mikir, makin sering nanya ke diri sendiri: “Ini bener nggak sih jalan yang aku pilih?”
Dan dari semua hal yang aku coba pahami, yang paling ingin aku tahu—cuma satu: "Kenapa jadi dewasa rasanya kayak dihukum, cuma karena kita bertumbuh?"
Tapi ya, biar gimana juga, aku pengen mulai bab 30 ini... dengan cukup saja.
Di tengah rasa bingung dan takjub yang belum selesai juga, aku nulis ini—dengan jantung yang deg-degan, dan pikiran yang bercabang kayak tab Google Chrome: semuanya kebuka, nggak ada yang bisa ditutup, karena semuanya kerasa penting.
Mungkin karena kopi. Mungkin karena anxiety. Atau mungkin karena... aku sadar, hari ini, aku tiga puluh.
Serius? Sekali lagi... ini aku? Udah 30?
Setelah ini apa? Beneran dewasanya? Siap nggak? Ayo?
Hidup kadang selucu itu. Kadang, kita cuma pengen punya lebih banyak jawaban, tapi yang datang malah pertanyaan-pertanyaan baru. Dan lebih kejamnya... hidup nggak pernah ngasih reminder: “Hei, kamu sekarang harus ngerti semuanya.” Padahal... aku belum mengerti apa-apa.
Dan mungkin... kalau semuanya ini harus kujawab dengan satu kalimat aja, itu adalah: “Boleh gak... aku balik ke waktu dulu?”
Bukan karena saat itu tanggung jawabnya belum besar. Tapi karena dulu aku… belum terlalu takut.
Dulu, keinginanku sederhana: pulang sekolah, makan es krim, nunggu film yang ada Morgan-nya.
Dulu, angka ‘tiga puluh’ terdengar seperti milik orang dewasa. Jauh. Matang. Sampai.
Sekarang? Itu aku.
Dan sudahkah aku sampai?—Itu menjadi pertanyaan yang bikin kepalaku migrain…setiap harinya.
Lalu, katanya, kadang keindahan baru bisa dilihat dari kejauhan. Mungkin nanti, di hari yang biasa banget—waktu aku bengong nunggu tram atau antri beli matcha di Edition Roasters—aku bakal sadar:
Umur tiga puluh itu sebelas dua belas dengan matahari jam lima tiga puluh. Nggak langsung indah, tapi semua orang ngerti... kenapa butuh waktu segitu lama.
Tapi hari itu? Aku harap bukan hari ini. Belum. Belum dulu.
sangat cinta
dulu saya punya prinsip bahwa mencintai pasangan (halal) itu secukupnya saja. alasannya, saya melihat bahwa mereka yang sangat menyayangi pasangannya bisa menjadi sangat hancur ketika ada hal-hal yang tidak sesuai harapan. semakin cinta artinya harus semakin siap kalau-kalau tersakiti. kalau tidak mau tersakiti, jangan terlalu cinta.
setelah saya belajar lagi, ternyata mencintai pasangan itu justru harus sangat. harus brutal. harus ugal-ugalan. harus benar-benar segenap jiwa raga hati hidup mati. harus sampai pada titik: pasangan kita pasti ada celanya, tetapi rasa sayang kita jauh lebih besar dari cela itu sehingga yang buruk itu tidak ada artinya. mawaddah.
dari titik nggak cinta ke titik kecintaan, di sana yang ada adalah nafsu. dari titik kecintaan ke titik mawaddah, barulah di sana ada cinta. memang, apa bedanya cinta dan nafsu? cinta itu mendorong kita menjadi versi terbaik, sedangkan nafsu menjerumuskan kita kepada perbuatan maksiat.
satu-satunya cara agar cinta (dan bukan nafsu) yang hadir adalah dengan melibatkan Allah. dan satu-satunya syarat Allah bisa terlibat adalah cinta itu harus halal dalam pernikahan. dalam pernikahan, mencintai dengan sangat adalah tanggung jawab yang menikah tidak hanya kepada satu sama lain, tetapi juga kepada Allah.
tentang konsep mawaddah ini, kadang ada juga yang salah paham. dikiranya, karena pasangan kita sudah "wadud" kepada kita, kita jadi bisa seenaknya. kita jadi percaya diri bahwa pasangan kita tidak mungkin sakit hati. tidak begitu ya. perlu kesalingan untuk menghadirkan pernikahan yang mawaddah.
salah paham berikutnya, karena kita "wadud", kita rela diperlakukan seenaknya. tidak begitu ya. mawaddah itu mengurangi / meniadakan dampak patah hati saat ada yang tak sesuai harapan. yang tidak ada artinya itu patah hatinya. tetapi, mawaddah tidak meniadakan hal-hal yang memang perlu diperbaiki. kebaikan yang ada di tengah keburukan itu adalah kesempatan memaafkan. intinya, setiap pihak yang menikah harus terus berupaya memperbaiki diri---agar pasangan kita tidak perlu patah hati.
cintailah pasanganmu dengan sangat. dengan brutal. dengan ugal-ugalan. boronglah semua bahasa cinta. termasuk bahasa cinta yang keenam: tak perlu meminta. termasuk bahasa cinta yang ketujuh---bahasa cinta yang paling penting: melibatkan Allah.
Pohon Tumbuh Tidak Tergesa-gesa
Makin dewasa, kadang tidak sadar membandingkan diri sama orang lain. Mengukur diri dengan alat ukur yang tak seharusnya kita gunakan; persepsi orang lain.
Waktu pulang ke rumah orang tua minggu lalu, aku menyadari jika banyak pohon di sekitar rumah ini yang umurnya lebih tua dari umurku, mereka adalah pohon kelapa, mangga, rambutan, dan nangka. Bahkan, foto mereka saat masih tumbuh masih ada, menjadi latar fotoku saat masih kecil dulu.
Mereka masih berbuah hingga hari ini, memberi manfaat meski menetap tak berpindah sama sekali. Bahkan, seiring kesibukanku, aku tak menyadari pertumbuhannya.
Entah kenapa, sulit bagi kita meneladani pohon. Andai kita petani, kita pun akan sadar tidak bisa memaksa padi tumbuh hingga menghasilkan bulirnya dalam sebulan. Mangga yang baru bertunas, tak bisa kita paksa segera berbuah dalam enam bulan. Apalagi tanaman-tanaman yang lebih lama lagi seperti durian. Mereka, para petani, amat sabar merawatnya dari bibit hinga berbuah, hingga layak panen.
Entah kenapa kita nggak pernah sabar sama hal-hal yang lagi kita tanam sendiri, dari pekerjaan ingin segera punya pekerjaan yang baik dengan gaji besar, dari pendidikan ingin segera selesai dengan nilai memuaskan, dari berkeluarga ingin bergegas menikah - punya anak - hidup bahagia - punya rumah - punya apapun, dan entah apapun yang lagi kita mulai. Kita tergesa untuk segera lihat hasilnya, tidak hanya itu, tapi juga berekspektasi bahwa kita akan mendapatkan hasil yang baik.
Entah kenapa, kita terasa begitu tergesa-gesa. Seolah jika sudah sampai kepala tiga, semuanya telah terlambat. Seolah kita kalah dari perlombaan yang sebenarnya tidak pernah ada.
Dan karena begitu tergesa-gesa, kita kadang nggak sadar bahwa bisa jadi kita adalah pohon durian yang iri kepada padi. Kata terfamiliarnya adalah kita kehilangan jati diri. (c)kurniawangunadi
Unlocked Realizing adulting skill: menunda air mata
Saat Tuhan Membongkar Grand Design
Di momen qurban ini, hampir banyak bertebaran narasi tentang keluarga Ibrahim. Either "tiap diri kita adalah Ibrahim yang punya Ismail yang harus dikorbankan" or "menyembelih sifat kebinatangan", or kisah heroisme yang merangkum relasi antar anggota keluarga (suami-istri, ayah-ibu-anak).
Tapi aku ingin coba mendalamkannya lebih lanjut, bahwa serangkaian kisah menjelang qurban itu perlu di-zoom out juga. Dalam arti, kita nggak lihat ini sekedar hubungan pengorbanan ayah-anak aja.
Bayangin, narasi ayah-anak itu aja udah luar biasa kan? Gimana kalau di-zoom out dalam peran Ibrahim yang lebih besar daripada sekedar ayah?
Kisah qurban nggak cuma relasi vertikal Ibrahim-Ismail. Kalau dicermati lebih dalam, rangkaian peristiwa ini justru mengungkap proyek besar yakni Ibrahim sebagai arsitek peradaban. Beliau membawa grand design bernama baladan aminan (negeri yang aman sentosa).
Ini konsep atau konstruk yang megah, cerdas, dan visioner. Bayangin, sekian ribu tahun sebelum masehi, ada orang yang ingin membuat "surga di dunia" ketika yang lainnya masih dalam pemujaan kepada patung, bintang, dan penguasa.
Konsep "baladah" ini (sayangnya) sering direduksi jadi sekadar "negara" dalam pemahaman modern. Yah, simply keterbatasan definisi operasional aja, bahwa sekarang masih mentok di "negara". Padahal, baladah lebih dari sekadar teritorial. Baladah mencakup tatanan masyarakat berlandaskan "kalimat yang baik" beserta seluruh kelengkapan yang tidak dibatasi oleh teritorial (14 : 24-25)
Oke.. selanjutnya di pikiran seorang Ibrahim, "baladan aminan" itu tatarannya masih konseptual yang abstrak sehingga membutuhkan "operasionalisasi" konkret yang berkelanjutan.
(pembelajaran tentang konstruk, definisi konseptual, dan operasional dari matkulku sangat berguna ternyata)
Tujuan dari baladan aminan sendiri tertera jelas dalam doa Ibrahim (15 : 35-36), "agar anak cucuku tidak menyembah berhala." Intinya keselamatan peradaban. Tuh kan, apa kubilang, beliau ingin bikin "darussalam" alias surga versi di Bumi yang berkelanjutan. Kalian harus ngerti betapa megahnya misi penyelamatan ini. Oh ya, keselamatan di sini bukan cuma fisik ya, melainkan juga pembebasan dari segala bentuk "kecelakaan" akal, moral, mental, spiritual, apapun itu.
Oke. Kita udah punya ide/konsep/konstruk, udah jelas juga tujuannya mulia. Sekarang siapa yang mengoperasikannya?
Ibrahim berdoa memohon "anak yang saleh" (Ash-Shaffat: 100). Allah mengabulkannya, tapi nggak instan. Ibrahim harus nunggu sekian tahun sampai Ismail lahir. Begitu memiliki putra, harapannya pun mengkristal: Ismail akan menjadi operator utama yang melanjutkan estafet peradaban.
Tapi ujian tak terduga menghantam. Mimpi penyembelihan meruntuhkan seluruh rencana operasional yang mungkin telah Ibrahim susun. Bayangkan: Anak satu-satunya yang diharap menjadi penerus, justru diperintahkan untuk dikorbankan. Secara langsung seperti "memotong mata rantai keselamatan dan cita-cita" kan? Logika manusia mana yang bisa menerimanya? Ekspektasi Ibrahim "berantakan". Ia seolah harus memulai lagi dari nol. (Saat itu belum ada Ishaq juga kan?)
So, pelajarannya adalah..
Bahkan tujuan mulia sekalipun jangan sampai membuat kita terjebak dalam "penyembahan rencana"
Seringnya, ketika kita udah yakin merancang masterplan terbaik untuk kebaikan, kita lupa bahwa ruang takdir lebih luas dari skema akal kita. Kita merasa berhak "dimuluskan" jalan hanya karena tujuannya benar. Padahal, bisa jadi kita sedang menjadikan blueprint dalam kepala sendiri sebagai berhala.
Respon Ismail menggenapkan hikmah ini. Sadarkah Ismail bahwa dialah calon penerus estafet? Tentu! Maka normalnya ia protes, "ayah, jika aku disembelih, siapa yang akan mengeksekusi rancangan ayah?" atau, "ayah, bukankah penyembelihanku akan membuat ayah mengulang rencana itu dari nol? Buat apa ibu dan ayah susah-susah mendidikku hanya untuk menyembelihku?"
Tapi ia memilih kata lain: "Laksanakanlah mimpi itu. Mudah-mudahan kau akan temui aku termasuk orang yang sabar" (Ash-Shaffat: 102)
MERINDING COY!
Semuanya nggak masuk akal. Tapi sabar adalah trusting Allah when nothing makes sense. Maka Ismail berharap termasuk ke dalamnya. Apalagi Ismail adalah hasil didikan seorang ibu yang lebih dulu diuji "kemampuan percaya pada hal yang nggak masuk akal"-nya.
Aku pribadi, nggak bisa bayangin posisi Ibrahim. Like.. orang secerdas itu, se-masterplanner itu, harus mengulang rencana dari nol, di saat si "operator" sedang matang-matangnya! Nggak ada miss sedikitpun dari rencananya. Tujuan udah bener, konsep udah ajeg. Tinggal eksekusi ajaaa!! Semua rencana harus hancur justru di waktu yang tepat untuk dieksekusi. Kayak disuruh berhenti berjuang saat lagi semangat-semangatnya 🤯
Tapi Ibrahim berhasil. Ismail berhasil. Maka salam sejahtera untuk keduanya yang telah melewati ujian yang besar.
Bahkan Ibrahim dikasih satu lagi kabar gembira yang nggak beliau duga. Kelahiran Ishaq. Ibrahim tadinya nggak apa-apa kalau cuma Ismail aja, toh Ismail adalah anak yang sabar. Artinya, Ismail punya kemampuan "memulai dari nol" bersama ibunya untuk membangun formula peradaban di lembah Bakkah (sekarang Mekkah) sementara ayahnya hijrah ke mana-mana. Yang kemudian karakteristik tantangan Ismail juga kemungkinan besar nggak mirip dengan bapaknya dan saudaranya (Ishaq).
Tapi kelahiran Ishaq menyempurnakan grand design itu. Allah kasih "anak yang pandai" yang artinya bisa cepat memahami konteks dari peradaban yang udah dibangun Ibrahim sebelumnya. Dia tau harus ngapain dari apa yang udah dikerjakan bapaknya. Ibaratnya: Ismail itu buka lahan baru bersama ibunya (Hajar), dan Ishaq itu melanjutkan garapan Ibrahim bersama ibunya (Sarah).
Doa penutupnya indah sekali.
Sampai di sini penceritaanku, untuk hal lainnya tentang Ibrahim bisa cek ke tulisanku sebelumnya:
Ibrahim Penyempurna Janji
Trusting Allah When Nothing Makes Sense
Kepekaan Iman
— Giza, selalu ada pembelajaran baru setiap tahun tentang keluarga ini
Complementary post:
https://x.com/Majelis_Ruhani/status/1930827238670487779?t=oJDDjdxLCLDjdjTKkE7wkw&s=19
Allah memberikan 'tanda' berupa mimpi tentang bagaimana bila 'rencana' yg sdh disusun rapi-rapi oleh Nabi Ibrahim harus 'disembelih'.
Nabi Ibrahim memilih percaya. Nabi Ismail memilih percaya.
Dan Allah adalah sebaik-baik perencana.
Agar Kamu Tidak Bersedih
Ternyata di Qur'an tuh banyak banget kalimat-kalimat yang "aneh" dalam artian, "pasti ada maksudnya nih, ini mah bukan buatan manusia."
Jadi tadi aku notice potongan ayat, bagus banget.
"— karena itu Allah menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan, agar kamu tidak bersedih hati (lagi) terhadap apa yang luput dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu—"
Respons pertama saat baca kalimatnya adalah: Hah? 😧 Bentar.. nggak salah nih? Kesedihan demi kesedihan supaya nggak sedih? Hah? Gimana ceritanya? Memang istilah bahasa Arab yang dipakainya apa?
Ternyata untuk kesedihan demi kesedihan diksinya tuh "غَمًّا بِۢغَمٍّ" , sementara untuk bersedih hati pakai diksi "تَحْزَنُوْا". Berarti ada kesedihan yang berbeda kan?
Apa perbedaan antara: الحزن (al-huzn), الغمّ (al-ghamm), dan الهمّ (al-hamm)?
Huzn (الحزن) berkaitan dengan hal-hal yang telah berlalu (masa lalu).
Ghamm (الغمّ) berkaitan dengan hal-hal yang sedang terjadi (masa kini).
Hamm (الهمّ) berkaitan dengan hal-hal yang akan datang (masa depan).
Secara literal, "غَمّ" berarti menutupi, menyelubungi, atau menekan. Dalam konteks emosional, "ghamm" menggambarkan perasaan yang menutupi hati seseorang dengan beban berat.
Di ayat lain, "غَمّ" juga berarti awan/kabut yang meliputi. Cukup masuk akal, ketika di dalamnya kita jadi tidak dapat melihat ke depan maupun ke belakang. Di ayat lainnya lagi, bentuknya "غُمَّةً" artinya dirahasiakan. Masuk akal juga, karena ketika kita mengalaminya, kita nggak pengen dunia tau apa yang terjadi pada kita. Kita akan merahasiakannya serapat mungkin and act like everything is fine.
Aku menemukan bahwa "غَمّ" digunakan di 4 cerita di dalam Qur'an:
Nabi Musa setelah membunuh seseorang secara tidak sengaja dan menyadari dampak serius dari tindakannya yaitu menjadi buronan dan menghadapi risiko yang besar serta konsekuensi yang mungkin timbul.
Nabi Yunus setelah menyadari bahwa meninggalkan misi dakwah dan melarikan diri dari tanggung jawabnya telah menyebabkan dirinya berada dalam situasi yang sangat sulit, yaitu dalam perut ikan. Perasaannya mencekam dan tertekan akibat kesadaran atas kelalaian dan dampaknya terhadap tugas yang diberikan Allah.
Pasukan pemanah Uhud yang meninggalkan posisi mereka di medan perang Uhud menyadari bahwa ketidakdisiplinan mereka menyebabkan kekalahan yang fatal bagi seluruh pasukan dan mereka cemas terhadap hasil dari tindakan mereka.
Penghuni neraka yang merasakan cambuk dari besi dan berusaha keluar dari siksaan neraka.
Ada pola menarik dalam penggunaan ghamm di 4 cerita itu:
Semua terjadi karena kesalahan manusia itu sendiri (baik disengaja atau tidak). Jadi ghamm datang sebagai wake-up call dari Allah setelah tindakan yang membawa konsekuensi nyata. Kayak.. membangkitkan rasa fatal.
Gham muncul saat sadar akan akibatnya. Ghamm lebih dari sedih atau takut biasa, yang muncul karena "aku melakukan sesuatu, dan sekarang aku harus menanggungnya". Berarti ghamm hanya dapat terjadi pada orang yang taklif dan memahami konsekuensi atau hukum sebab-akibat.
Gham membuka jalan untuk reframing, taubat, dan perubahan (kecuali yang di neraka). Musa dan Yunus segera memohon ampun dan berdoa. Pasukan Uhud menerima koreksi dan pelajaran keras dari Allah. Bahkan penghuni neraka ingin keluar, tapi sudah terlambat.
Gham adalah kemurahan Allah sebelum hukuman akhir. Allah izinkan ghamm menimpa seseorang agar ia tidak terus terbuai, agar hatinya mencicipi "penyempitan" sebelum terlambat. Tapi jika tidak direspons dengan sadar dan taubat, barulah ia bisa berujung pada hukuman.
Jadi bayangin, ghamm itu kayak, "damn moment" yang rembetan konsekuensinya gede dan fatal.
"Gue udah ngelakuin ini, dan sekarang semuanya runtuh."
"Gue sadar banget salahnya, tapi gue juga belum tau harus gimana."
"Ini bukan sekadar sedih. Ini dada gue sempit, kalut, gelap, dan berat."
"Gue menyesal, tapi ga ada waktu untuk menyesal di tengah-tengah himpitan ini."
Dia beda dari Huzn (sedih karena masa lalu) yang lebih lembut, reflektif. Dan beda juga dari Hamm (cemas akan masa depan) yang lebih ngawang, belum terjadi. Tapi dia bisa jadi adalah gabungan dari Huzn dan Hamm 🤯
Terus gimana ceritanya ghamm dapat mencegah huzn?
Jawabannya satu kalimat: luka lama dilampaui oleh luka kini. Sejujurnya meringis sih pas ngetiknya, kayak.. tega banget 😅 tapi dipikir-pikir cukup masuk akal.
Allah menggantikan luka yang membeku dengan luka yang bergerak. Huzn membuat kita stuck, menyesal, menoleh ke belakang, dan menyalahkan diri, sementara Gham membuat kita sadar, bangkit, bergerak, bertahan, dan berserah. Allah lebih memilih menimpakan kesedihan yang "aktif" agar kita selamat dari kesedihan yang "membeku."
Menariknya, Menurut Lazarus & Folkman, coping dibagi dua:
Problem-focused coping: usaha menyelesaikan masalah.
Emotion-focused coping: usaha mengelola perasaan.
Kalau huzn mungkin fokusnya di emosi dan masih punya keluangan mental dan waktu untuk mendalami rasa sesal. Kalau ghamm benar-benar harus switch ke problem focused coping. Jadi, kesedihan baru (ghamm) yang mengharuskan seseorang bergerak, ternyata bisa mengaktifkan mekanisme coping yang sebelumnya tidak muncul saat larut dalam huzn.
Selain itu, dalam psikologi kognitif, ada konsep Cognitive Load Theory yang menyatakan bahwa otak manusia hanya mampu memproses sejumlah informasi atau emosi secara bersamaan. Dalam tekanan yang aktual dan mendesak (ghamm), otak akan secara otomatis mengalihkan sumber daya mentalnya ke situasi itu. Alhasil, grief (huzn) yang tadinya mendominasi bakal terdorong ke latar belakang karena otak sedang sibuk survive di "sekarang". Kayak.. untuk bersedih pun tidak sempat.
Tapi, karena Allah Maha Mengetahui cara jiwa bekerja lebih dari siapa pun, maka penempaan jiwa melalui penimpaan ghamm itu hakikatnya adalah penyelamatan. Allah mungkin nggak serta merta hapus luka dalam waktu cepat secara ajaib. Allah lebih pilih menempa kita, saking bangga dan percayanya Dia, bahwa kita bisa lebih kuat. Dan akan ada saatnya "ketenangan" Dia turunkan sebagai imbalan, di kondisi kita yang semakin pantas untuk menerima ketenangan itu.
— Giza, masih terus mencoba melakukan pendekatan lewat jalur apapun. Mungkin pendekatannya selama ini ada aja yang keliru, tapi bisa dianulir seiring bertambahnya iman dan ilmu.
Agar Kamu Tidak Bersedih
Ternyata di Qur'an tuh banyak banget kalimat-kalimat yang "aneh" dalam artian, "pasti ada maksudnya nih, ini mah bukan buatan manusia."
Jadi tadi aku notice potongan ayat, bagus banget.
"— karena itu Allah menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan, agar kamu tidak bersedih hati (lagi) terhadap apa yang luput dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu—"
Respons pertama saat baca kalimatnya adalah: Hah? 😧 Bentar.. nggak salah nih? Kesedihan demi kesedihan supaya nggak sedih? Hah? Gimana ceritanya? Memang istilah bahasa Arab yang dipakainya apa?
Ternyata untuk kesedihan demi kesedihan diksinya tuh "غَمًّا بِۢغَمٍّ" , sementara untuk bersedih hati pakai diksi "تَحْزَنُوْا". Berarti ada kesedihan yang berbeda kan?
Apa perbedaan antara: الحزن (al-huzn), الغمّ (al-ghamm), dan الهمّ (al-hamm)?
Huzn (الحزن) berkaitan dengan hal-hal yang telah berlalu (masa lalu).
Ghamm (الغمّ) berkaitan dengan hal-hal yang sedang terjadi (masa kini).
Hamm (الهمّ) berkaitan dengan hal-hal yang akan datang (masa depan).
Secara literal, "غَمّ" berarti menutupi, menyelubungi, atau menekan. Dalam konteks emosional, "ghamm" menggambarkan perasaan yang menutupi hati seseorang dengan beban berat.
Di ayat lain, "غَمّ" juga berarti awan/kabut yang meliputi. Cukup masuk akal, ketika di dalamnya kita jadi tidak dapat melihat ke depan maupun ke belakang. Di ayat lainnya lagi, bentuknya "غُمَّةً" artinya dirahasiakan. Masuk akal juga, karena ketika kita mengalaminya, kita nggak pengen dunia tau apa yang terjadi pada kita. Kita akan merahasiakannya serapat mungkin and act like everything is fine.
Aku menemukan bahwa "غَمّ" digunakan di 4 cerita di dalam Qur'an:
Nabi Musa setelah membunuh seseorang secara tidak sengaja dan menyadari dampak serius dari tindakannya yaitu menjadi buronan dan menghadapi risiko yang besar serta konsekuensi yang mungkin timbul.
Nabi Yunus setelah menyadari bahwa meninggalkan misi dakwah dan melarikan diri dari tanggung jawabnya telah menyebabkan dirinya berada dalam situasi yang sangat sulit, yaitu dalam perut ikan. Perasaannya mencekam dan tertekan akibat kesadaran atas kelalaian dan dampaknya terhadap tugas yang diberikan Allah.
Pasukan pemanah Uhud yang meninggalkan posisi mereka di medan perang Uhud menyadari bahwa ketidakdisiplinan mereka menyebabkan kekalahan yang fatal bagi seluruh pasukan dan mereka cemas terhadap hasil dari tindakan mereka.
Penghuni neraka yang merasakan cambuk dari besi dan berusaha keluar dari siksaan neraka.
Ada pola menarik dalam penggunaan ghamm di 4 cerita itu:
Semua terjadi karena kesalahan manusia itu sendiri (baik disengaja atau tidak). Jadi ghamm datang sebagai wake-up call dari Allah setelah tindakan yang membawa konsekuensi nyata. Kayak.. membangkitkan rasa fatal.
Gham muncul saat sadar akan akibatnya. Ghamm lebih dari sedih atau takut biasa, yang muncul karena "aku melakukan sesuatu, dan sekarang aku harus menanggungnya". Berarti ghamm hanya dapat terjadi pada orang yang taklif dan memahami konsekuensi atau hukum sebab-akibat.
Gham membuka jalan untuk reframing, taubat, dan perubahan (kecuali yang di neraka). Musa dan Yunus segera memohon ampun dan berdoa. Pasukan Uhud menerima koreksi dan pelajaran keras dari Allah. Bahkan penghuni neraka ingin keluar, tapi sudah terlambat.
Gham adalah kemurahan Allah sebelum hukuman akhir. Allah izinkan ghamm menimpa seseorang agar ia tidak terus terbuai, agar hatinya mencicipi "penyempitan" sebelum terlambat. Tapi jika tidak direspons dengan sadar dan taubat, barulah ia bisa berujung pada hukuman.
Jadi bayangin, ghamm itu kayak, "damn moment" yang rembetan konsekuensinya gede dan fatal.
"Gue udah ngelakuin ini, dan sekarang semuanya runtuh."
"Gue sadar banget salahnya, tapi gue juga belum tau harus gimana."
"Ini bukan sekadar sedih. Ini dada gue sempit, kalut, gelap, dan berat."
"Gue menyesal, tapi ga ada waktu untuk menyesal di tengah-tengah himpitan ini."
Dia beda dari Huzn (sedih karena masa lalu) yang lebih lembut, reflektif. Dan beda juga dari Hamm (cemas akan masa depan) yang lebih ngawang, belum terjadi. Tapi dia bisa jadi adalah gabungan dari Huzn dan Hamm 🤯
Terus gimana ceritanya ghamm dapat mencegah huzn?
Jawabannya satu kalimat: luka lama dilampaui oleh luka kini. Sejujurnya meringis sih pas ngetiknya, kayak.. tega banget 😅 tapi dipikir-pikir cukup masuk akal.
Allah menggantikan luka yang membeku dengan luka yang bergerak. Huzn membuat kita stuck, menyesal, menoleh ke belakang, dan menyalahkan diri, sementara Gham membuat kita sadar, bangkit, bergerak, bertahan, dan berserah. Allah lebih memilih menimpakan kesedihan yang "aktif" agar kita selamat dari kesedihan yang "membeku."
Menariknya, Menurut Lazarus & Folkman, coping dibagi dua:
Problem-focused coping: usaha menyelesaikan masalah.
Emotion-focused coping: usaha mengelola perasaan.
Kalau huzn mungkin fokusnya di emosi dan masih punya keluangan mental dan waktu untuk mendalami rasa sesal. Kalau ghamm benar-benar harus switch ke problem focused coping. Jadi, kesedihan baru (ghamm) yang mengharuskan seseorang bergerak, ternyata bisa mengaktifkan mekanisme coping yang sebelumnya tidak muncul saat larut dalam huzn.
Selain itu, dalam psikologi kognitif, ada konsep Cognitive Load Theory yang menyatakan bahwa otak manusia hanya mampu memproses sejumlah informasi atau emosi secara bersamaan. Dalam tekanan yang aktual dan mendesak (ghamm), otak akan secara otomatis mengalihkan sumber daya mentalnya ke situasi itu. Alhasil, grief (huzn) yang tadinya mendominasi bakal terdorong ke latar belakang karena otak sedang sibuk survive di "sekarang". Kayak.. untuk bersedih pun tidak sempat.
Tapi, karena Allah Maha Mengetahui cara jiwa bekerja lebih dari siapa pun, maka penempaan jiwa melalui penimpaan ghamm itu hakikatnya adalah penyelamatan. Allah mungkin nggak serta merta hapus luka dalam waktu cepat secara ajaib. Allah lebih pilih menempa kita, saking bangga dan percayanya Dia, bahwa kita bisa lebih kuat. Dan akan ada saatnya "ketenangan" Dia turunkan sebagai imbalan, di kondisi kita yang semakin pantas untuk menerima ketenangan itu.
— Giza, masih terus mencoba melakukan pendekatan lewat jalur apapun. Mungkin pendekatannya selama ini ada aja yang keliru, tapi bisa dianulir seiring bertambahnya iman dan ilmu.
"Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun pun memadai." (2 : 265)
Potongan kalimat itu suka bikin aku nangis dan jadi topik utama project buku komunitasku di Ramadhan tahun kemarin. For some reason, aku suka bagaimana cara Allah menggunakan analogi "kebun di dataran tinggi" untuk orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari ridha Allah (tumbuh ke atas) dan memperteguh jiwa mereka (mengakar ke bawah).
Dikatakan, ada dua kondisi yang mungkin "kebun" itu alami. Pertama ada kondisi disirami hujan lebat yang outputnya berbuah dua kali lipat. Ini kondisi ideal.
Menurutku ini analog dalam konteks hidup berjamaah. Memang apa yang dapat menyirami dan memperteguh jiwa? Apa sih yang disebut airnya? Jawaban sementaraku, airnya adalah silaturahmi, pembinaan, dan ketugasan. Di sini setiap orang disirami dukungan dan pembinaan yang terus-menerus, jadi ∆ improvement dan outputnya juga besar (seharusnya).
Jadi, aneh ya sebenarnya kalau udah di kondisi ideal, tapi outputnya malah nggak sesuai harapan. Semua faktor eksternal udah dikondisikan nih, berarti kan simply ada yang faktor internal yang nggak beres dari tiap-tiap diri sebagai pohon? (Mungkin itulah gambaran kasar untuk diriku selama ini)
Kedua, ada kondisi tidak ideal atau serba terbatas. Ketika hujan lebat tidak menyirami, maka embun pun memadai. Di kondisi dua ini, kebun tidak ditugaskan berbuah dua kali lipat kok, karena memang embun itu sendiri tidak sebanding dengan hujan lebat dalam hal volume dan intensitasnya.
Jadi apa tugas kebun yang tidak disirami hujan lebat?
Ketika "hanya bisa mengandalkan embun", kebun diuji untuk bertahan dalam kondisi yang serba kekurangan. Tapi sebagaimana kebun-kebun biasanya yang berfungsi menghasilkan oksigen (sumber kehidupan), maka dengan tetap menjaga kelangsungan hidup pun sudah sebaik-baik tugas kita. Toh tidak setiap masa meminta hasil panen yang melimpah juga. Justru kesediaan dan kesetiaan untuk senantiasa bertahan dalam ketentuan Allah tuh bentuk produktivitas tersendiri.
Jadi bayangkan, bagaimana kalau kebun bermodal embun ini justru dapat produktif dan tetap berbuah? Berarti skill syukurnya segimana coba? Berarti diri-dirinya sebagai pohon memang sudah menjadi pohon yang baik dan punya fleksibilitas dalam menerima qadha dan qadar Allah. Berarti kebun itu telah membuktikan ketangguhannya, karena tetap adaptif dan fungsional terlepas dari kondisi faktor eksternalnya.
Apalagi kondisi ideal ataupun terbatas tuh bukan hal yang bisa "diatur" oleh si kebun itu sendiri. Kita sebagai kebun tidak bisa "mengatur" cuaca dan kelembapan. Itu dihadirkan oleh Allah sebagai kenyataan yang nggak bisa kita sangkal. Artinya, akan selalu ada fase berlimpah dan fase kekurangan, fase dukungan penuh dan fase kemandirian. Barangkali dalam konteks inilah masing-masing kebun memiliki ladang ibadah yang tidak sama.
Kabar baiknya, kita tetap disebut "kebun"
Allah tuh nggak bilang kita sebagai pohon yang terpisah dari kebun lalu tidak mendapat hujan karena keterpisahan kita. Artinya, baik dalam kondisi hujan lebat maupun embun, identitas kita sebagai bagian dari kebun nggak pernah berubah.
Kita tetap dalam lindungan-Nya, tetap dalam rencana-Nya, tetap menjadi tempat di mana kehidupan dan kebaikan tumbuh. Nggak ada kondisi yang membuat kita "terpisah" dari kebun itu, selama kita tetap menjalankan tugas hidup kita yakni bertumbuh, berkembang, bertahan, dan berusaha untuk berbuah sesuai kemampuan yang Allah berikan.
Dan mendedikasikan pohon tak kenal musim ini, adalah sebaik-baik kita bertumbuh. (Bloom in Belief, 32)
— Giza, anak kebun di dataran tinggi yang mudah-mudahan senantiasa dapat mensyukuri kecukupan dari embun maupun kelebatan hujan
Another unpredictable moment yg ✨️magical✨️
Berasa kyk ada doa atau ke-asbun-an yg terkabul jg
Krn apakah dg sdh ketemu sm celebrity-tumblr-crush-since-high-school artinya aku sdh menamatkan tumblrrrrr🥹🥹
@kurniawangunadi @ajinurafifah
MasyaAllah tabarakallah, alhamdulillah 'ala kulli hal
Lessons learned: asli dah guys, mari kita banyak ber-asbun, berprasangka, dan berdoa yg baik2 aja dan tunggu bagaimana Allah akan mengabulkan tiap pinta tsb dg jauh lebih baik dr yg kita inginkan.
274
Nak, ini kali pertama ayah dan ibu hidup. Kamu pun juga. Kita sama-sama berdiri di tepian waktu yang baru saja lahir, dengan tangan gemetar menggenggam hari-hari yang belum pernah disentuh. Kami berjalan di lorong-lorong waktu yang belum pernah kami kenali, menerka-nerka arah di antara dinding yang terus bergerak. Dunia ini luas dan asing, Nak, lebih luas dari yang kami sangka, lebih sulit dari yang pernah kami bayangkan, penuh tebing curam yang tetap saja kami daki meski dengan kaki yang sering goyah. Kami melangkah di atas peta yang tak pernah digambar, dengan separuh yakin dan sisanya ragu yang menuntun. Setiap pilihan adalah lembar kosong yang kami coretkan tanpa panduan. Setiap keputusan adalah benang yang diulur, sering kusut, sering terputus, dan kami mencoba menyambungnya dengan hati yang tak pernah utuh.
Nak, kita sebetulnya sama saja, hanya kami lebih dahulu menjalani detik demi detik pertama. Kami tak lebih tahu dari dirimu, Nak. Waktu hanya memberi kami lebih banyak kesempatan untuk keliru, untuk mengulang, untuk mencoba lagi. Detik-detik yang kamu lihat di mata kami adalah cermin; bayangan dirimu yang suatu hari akan berdiri seperti kami, menatap kehidupan dengan langkah yakin dan ragu yang boleh jadi serupa. Kami berjalan sedikit di depanmu, bukan karena kami tahu arah, tapi karena kami ingin kamu punya jejak untuk memilih—mengikuti atau meninggalkannya.
Maafkan kami, Nak, jika kami masih bodoh dalam menghadapi hidup ini. Kebodohan kami adalah tanah yang keras dan kering, di mana benihmu kami tanam dengan doa-doa yang sebetulnya belum selesai kami pahami. Tangan kami bukan pengrajin mahir; mereka kasar, sering salah menakar. Kadang kami membangun dinding yang tinggi namun masih sering lupa menutup pagar. Bagaimanapun, apa-apa yang kami beri meski baru sedikit saja, adalah kasih sayang yang berusaha berbentuk, meski sering tak sempurna—kadang terlalu penuh hingga meluap, kadang terlalu sedikit hingga kering. Pada akhirnya kebodohan kami adalah cinta, yang tak takut salah, yang tak malu jatuh, karena kami tahu setiap jatuh adalah pelajaran yang mendewasakan kita bersama.
Nantinya, mekarlah kamu, Nak, lebih wangi daripada ayah dan ibumu. Kami tak lebih dari sekadar akar, menancap dalam gelap, tak terlihat oleh langit. Tapi kamu adalah kuncup, yang mengangkat kepala kecilmu ke arah matahari, menyerap cahaya yang tak mampu kami gapai. Angin akan berhembus padamu, lebih kencang dari yang pernah kami tahu. Hujan akan jatuh di kelopakmu, lebih deras dari yang pernah kami rasa. Tapi percayalah, Nak, kamu akan tumbuh melampaui kami. Wangimu akan memenuhi ruang-ruang yang kami tinggalkan kosong, memeluk cakrawala yang hanya kami pandangi dari jauh. Warnamu akan menari di tempat yang hanya bisa kami bayangkan. Biar kami jadi pijakan atas puncak manapun yang kamu tuju, jadi batu kecil di dasar gunungmu, asalkan bisa menjadi setapak pertama bagi langkah-langkahmu yang suatu hari akan menggapai awan meski mungkin saat itu kami pergi lebih dulu.
Terima kasih sudah hadir di dunia, Nak. Jadilah hidup dan bercahaya.
Aku
Aku kira hujan akan datang, maka aku berpayung menyambutnya. Menyambut untaian rintik, yang telah lama kunanti bersama doa-doaku yang panjang.
Namun aku keliru. Rupanya hanya awan saja yang kelabu, lantas pergi dan berlalu, bersama payungku yang terhuyung-huyung dibawa angin.
Maka diwaktu yang lain, aku putuskan tuk berubah jadi hujan, sebab aku ingin disambut. Ingin sekali. Tapi yang kukira menyambut, justru nyenyak terlelap. Sementara aku, yang jadi titik air berjatuhan, ditatap bulan penuh kasihan.
Hei. Aku tak menyerah.
Esok lusa, aku menyamar. Pura-puranya aku menjadi payung. Biar terancam dibawa angin, tersesat hingga entah kemana, tapi tak apa, asal pernah dianggap ada.
Tapi sayang, kini hujan yang tiada, terik pun entah kemana.
Hei. Hei. Hei. Aku tak bersedih. Dan tak akan bersedih.
Ada memang sebagian hati yang cedera. Tapi itu sedikit. Karena sebagian besar dari keseluruhan hatiku berkata begini, “Amboi, beruntung sekali kita. Beruntung sekali dapat waktu tuk jadi tahu, bahwa mengusahakan yang kita cita-citakan itu semenyenangkan ini. Bahwa punya gairah untuk mencapai yang kita harapkan itu seasyik ini. Tak bisa begini, kita berpikir tuk begitu. Tak tercapai dengan cara ini, kita bersungguh dengan cara itu. Terjatuh terserak, kita bangkit dan segera menghapus luka-luka. Seakan luka itu kecil saja. Sebab kita tersulut oleh rasa bahagia, oleh rasa tangis yang mengharu biru, jika nanti apa yang kita cita, benar-benar jadi nyata.”
Maka kemudian aku tersenyum mendapati kata hatiku sendiri. Lelah-lelah bukan jadi tiada, tapi memudar dengan lekas. Dan aku sibuk dalam renungan yang panjang, mengusahakan lagi yang terbaik, yang ianya aku titipkan bersama pintaku kepada Tuhan.
Achmad Lutfi
Wolfsburg, 28.06.2015
Enjoying hot chocolate and a chocolate cheese bomb by the street in Madinah with the most favorite person in the world was never on my bucket list.
But Allah, the Best of Planners, made it happen in the most beautiful way.
Anw, ga lama setelah minum n makan cantik tuh adzan maghrib berkumandang. Nah, ini pertama kalinya aku lihat org gelar tiker untuk sholat berjamaah, di area yg bukan sekitar masjid nabawi atau masjidil haram.
Kata suami, pemerintah Saudi yg memfasilitasi tiker2 portable supaya org2 bs sholat berjamaah dimana aja. MasyaAllah tabarakallah bgt si krn kalo di sini emang miniim bgt mushollanya. Beda sama Indo yg mudah bgt nemuin masjid.
Dr sini jd ngelihat si, Pemerintah Saudi tuh beneran ngurusin rakyatnyaa, trs masyarakatnya amanah n ga neko2 dg tiker2 portable nya.
Sementara kalo di Indo, insyaAllah masyarakatnya ada bibit2 berdaya dan mau untuk effort yaa krn bs swadaya masjid/musholla. Tinggal pemerintahnya ni gmn ya🙏🏻😃
Kak gimana cara menguatkan diri untuk percaya bahwa jodoh kita akan datang di saat kita terus dihantam rasa pesimis ya?
Hehe khawatir nggak bisa ngasih kata-kata yang kamu pengen :")
Saya berdoa semoga kesabaran kamu dilipatgandakan, dapet jodoh yang baik dan keluarga yang sakinah nantinya.
Udah lama pengen ngelanjutin obrolan tentang menjadi single di usia 30+. Gue ngerasain fase yang berganti-ganti. Mulai fase merasa tertinggal, fase merasa tidak utuh, fase menenangkan orang tua, fase bersabar hingga fase tenang seperti sekarang.
Usia 30+ itu usia yang sangat riskan jika kita tidak belajar mendewasa. Tekanan dari masyarakat sangat mungkin membuat kita terburu-buru. Just because kita 30+, doesn't mean kita boleh serampangan banget jalanin hidup.
Di waktu gue kecil, gue mengira orang tuh akan otomatis menjadi dewasa seiring dengan bertambahnya usia. Tapi ternyata enggak. Masih ada orang yang melajang bertahun-tahun, pengen banget dapat jodoh tapi ketika berkonflik dengan orang lain masih sangat kaku. Passive agressive. Tidak bisa mengeluarkan uneg-unegnya dengan assertive atau bahkan insecure.
Buat gue, indikator kesiapan hidup berumah tangga adalah ketika kita mengenal diri sendiri dengan baik. Tahu apa saja kekurangan kita. Punya keinginan kuat untuk memperbaiki diri. Di sisi lain, ketika berkonflik, kita bisa mengevaluasi diri sendiri dengan adil. Tidak bersikap atas dasar trauma. Karena jika kita tidak punya awareness tentang hal semacam ini, kita akan stuck. Tidak bertumbuh sebagai manusia. Dan hubungan pernikahan ya hanya sebatas akad tapi nggak ada esensinya. Nggak saling menumbuhkan. Kita akan jauh secara emosional dengan pasangan. Enggak mampu terbuka.
Di umur 23 - 24, gue dapet banyak undangan nikah. Lalu 10 tahun kemudian gue dapet banyak kabar perceraian. Gue nggak judging temen-temen gue yang divorce. Tapi setelah perceraian-perceraian itu kami jadi paham bahwa kunci hidup bersama orang lain ya menurunkan ego, tidak menuntut kesempurnaan pasangan ketika udah berumah tangga. Dalam arti kita menerima pasangan seutuhnya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Karena saat berumah tangga tuh kita tidak menuntut kesempurnaan, maka sebelum rumah tangga itu dimulai, kita berhak banget mempertimbangkan dengan matang. Bukan sekedar mempertimbangkan harta ataupun rupa tapi apa dia termasuk orang yang bisa mengutarakan kemarahannya dengan baik? Apakah dia bisa bertanggung jawab? Apakah dia bisa mengakui kesalahan? Apakah dia bisa mengingatkan kita dengan baik saat kita salah? Apakah dia mau menghadapi kesulitan bersama-sama saat berumah tangga? Saat kita kelelahan dengan new born baby? Saat kita menemukan ketidakcocokan dengan mertua, apakah dia bisa memposisikan diri? Mengayomi isteri dengan baik dan tetap berbakti kepada orang tua? Selalu bayangkan konflik-konflik yang terjadi. Memang tidak harus sempurna tapi apakah bersedia menjadi baik di tengah segala ketidaksempurnaan?
So, sebelum kamu melangkah lebih jauh ke pernikahan, jangan pernah menganggap pernikahan sebagai solusi dari semua masalah. Rawat aja diri kamu dengan baik. Memang tidak ada jaminan kapan jodoh akan datang. Tapi setidaknya kita udah nyari bekal untuk membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain.