"buku adalah teman yang paling tenang dan paling setia , mereka adalah penasihat yang paling mudah dicari dan paling bijaksana. Buku adalah guru yang paling sabar" (Charlew w. Eliot)
Hari buku sedunia yang jatuh hari ini, dirayakan pertama kali pada tanggal 23 april 1995. Bertepatan dengan tahun kelahiran.
Semangat membaca saya bisa dikatakan sedang menurun. Apalagi sejak rutinitas banyak, manajemen waktu yang kurang, membaca buku tak bisa saya lakukan setiap saat. Kesadaran ini muncul setelah awal tahun 2019 saya melihat di linimasa sebuah kutipan "sedihlah jika berpikir dulu saya melakukan hal ini, dulu saya begini, sekarang kenapa malah begini...... "
Quote tersebut mengingatkan saya banyak hal. Waktu berlalu, apakah amalan baik banyak yang ditinggalkan atau sebaliknya? Apakah kebiasaan baik yang dulu berjuang di bangun kini telah pudar? Apakah kita merindukan diri kita saat selalu berpikir positif? Dan banyak lagi pemisalan lainnya.
Sejenak saya melakukan evaluasi. Sama halnya ketika kita mengingat kembali masa kecil yang selalu dirindukan, bermain bersama teman, tertawa riang, bahagia selalu, marah-marah sebentar baikan dengan teman, esoknya main bareng lagi.
Ketika masa kecil kita dipenuhi dengan bermain, saya ingat jelas bagaimana dulu di masa saya gadget di kampung hanya dimiliki oleh orang tertentu. Bahkan handphone baru viral saat SMA itupun aplikasi social media belum hits masih mengandalkan sms dan facebook.
Dimasa itu waktu luang diisi di perpustakaan, bahkan karena buku terbatas setiap hari dipinjam, akibatnya pernah suatu hari bersama teman tidak tahu lagi mau pinjam buku apa. Kami tak peduli genre apa, yang pasti kami punya bahan bacaan. Pulang sekolah mainannya adalah buku. Masa yang sungguh menyenangkan. ingin rasanya diulang kembali.
Dan hari ini to be honest, saya begitu merindukan masa tersebut. Bersama dengan majalah bobo, dongeng, buku cerita, novel, buku science, ketika aktivitas membantu ummi di rumah dan PR sekolah telah selesai.
Berbagai resolusi dan target akhirnya harus di istiqomahkan kembali. Misalnya dalam sebulan baca buku minimal berapa. Atau setiap hari ada waktu untuk membaca.
Ketika membaca telah menjadi kebiasaan maka diri tak akan tenang jika bacaan belum usai. Rasa ingin tahu selalu ada. Namun memunculkan perasaan senang dan suka itu lah yang menjadi tantangan tatkala kita tidak konsisten terhadap sebuah target.
Semoga budaya membaca kembali hidup khususnya kepada anak-anak, bagaimana buku menjadi sahabat sejati mereka dibandingkan apapun. Anak-anak sebagai generasi masa depan. Milan kundera pernah berkata jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya maka pasti bangsa itu akan musnah.
Makassar, April 23 rd 2019