Part 2 - Mati
Memasuki fase kepala dua adalah bagian dari perjalanan hidup yang terasa begitu sulit, setidaknya untuk saat ini. Membayangkan sudah berapa lama waktu yang habis direnggut, namun tak ada hasil yang dapat dipeluk adalah pikiran yang menjelma menjadi kemelut.
Waktu terasa cepat berlalu sedang asa masih tak mau dirayu. Banyak hal yang diinginkan untuk segera berlalu, namun waktu seolah belum memberi izin untuknya berlalu.
Masalah hadir silih-berganti. Perasaan ingin lari selalu datang menghampiri. Ada kalanya kecemasan hadir, membuat rasa ingin mati menjadi titik akhir.
Menyerah. Satu kata yang selalu datang menghantui dengan Mati menjadi tujuan akhir.
Fase kepala dua adalah di mana omongan luar tak lagi dapat diserap dengan mentah. Bukan lagi anak kecil yang dapat dikibuli dengan omongan penuh sampah. Raga ingin diam, namun batin selalu membantah.
Jam 24.00 bukan lagi waktu spesial untuk sekadar ber-overthinking, karena nyatanya pikiran penuh kecamuk itu hadir tanpa mau mengenal waktu lagi. Bila tak ada lagi ruang untuk sembunyi, tangis tak lagi bisa menyudahi, maka pikiran untuk Mati sudah biasa menghantui.
Namun Wahai, garis takdir sudah Tuhan tulis dalam buku-Nya, bukan? Jika waktumu belum habis, maka sia-sia saja usahamu untuk lari dengan cara Mati.
Bertahanlah! Setidaknya untuk hal-hal kecil dalam hidupmu. Memang tak mudah, tetapi setidaknya masih ada alasan untukmu melanjutkan semuanya.




















