Nirmala baru saja menyongsong sinar panasnya. Lalu lalang transportasi perlahan berjalan memelankan lajunya. Dari arah barat, segerombalan manusia berjalan di tengah jalan raya. Di barisan tengah, empat orang menyongsong keranda dengan kain warna hijau yang membalutinya. Tak banyak seperti biasanya, segerombolan manusia ini mungkin tak sampai dua puluh orang. Aku menatapnya dengan sedikit helaan napas, "Kematian lagi."
Saat itu, sudah terhitung satu tahun wabah penyakit ini menjadi momok mencekam bagi kami. Semua kegiatan di luar rumah dihentikan, dianjurkan untuk melakukan semua hal di rumah saja, demi mencegah penyebaran penyakit ini, katanya.
Satu tahun bukanlah waktu yang sebentar. Meski berada di dalam rumah terlihat lebih nyaman, namun pada akhirnya tetaplah lahir rasa bosan. Kegiatan sekolah dilakukan di rumah, tidak ada lagi suasana ramai kantin tempat murid-murid melepas dahaga. Pekerjaan dilakukan di rumah, tidak ada lagi keramaian malam di tongkrongan warung sebelah. Semua ditutup, rasa bosan pun hidup.
Virus menyebar tanpa perlu permisi, tanpa perlu mengenal ia siapa dan di mana. Sakit. Itu adalah hal yang hampir semua orang alami, yang bertahan adalah orang-orang yang waktunya belum habis, dan yang gugur adalah ia yang waktunya sudah habis.
"Kali ini siapa?" Suara di sebelahku tiba-tiba datang membuyarkan lamunan.
"Entahlah," seruku yang tak mempunyai jawaban untuk pertanyaannya.
"Ini yang kedua?" tanyanya lagi.
"Tidak, ini yang ketiga. Yang kedua sudah lewat tadi. Kalau tidak salah dengar katanya orang komplek sebelah," jawabku sembari melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
"Ya, seperti biasa." Aku menjawab dengan sedikit seringai di bibir. 'Ku lanjutkan kembali pekerjaanku, menyapu lantai toko yang tak pernah sepi dari debu.
"Beras satu kilo, Nak." Tanpa sadar ternyata sudah ada pelanggan yang berdiri di depan toko.
"Oh, iya sebentar, Bu," seruku sambil meletakkan sapu dan bergegas melayani Ibu-ibu itu.
"Tau tidak, Bu, itu yang meninggal tadi orang mana?" tanya ibu yang sudah duduk di sampingku.
"Katanya, sih, Pak Tono, orang Komplek Manggis." Percakapan pun berlanjut dengan aku yang masih sibuk menyiapkan pesanan ibu-ibu itu.
"Kematian memang tak bisa dihindari. Tak dapat diduga juga kapan datangnya. Umur manusia tidak ada yang tahu sampai kapan batasnya," celetuk ibu-ibu itu sambil mengambil pesanannya yang sudah disiapkan.
"25 ribu, Bu," jawabku sambil melihat kalkulator yang 'ku gunakan untuk menghitung jumlah pesanan ibu itu.
"Ini, ya, uang pas. Makasih, Nak. Mari, Bu," pamitnya pada ibuku.
Percakapan hari itu berakhir dengan siaran kematian dari mushollah komplek.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Roji'un, Bu Yati. Padahal baru kemarin dilarikan ke rumah sakit," seru Ibu yang terlihat kaget mendengar siaran kematian tetangga kami.
Memang kematian adalah pasti. Tak seorang pun bisa lari. Satu hari, lima orang gugur, begitu selanjutnya. Meski keluarga belum siap, namun takdir tetap tak bisa ditolak. Ikhlas dan menerima adalah kuncinya.