Hidup
..."sayang, pelajaran hidup itu banyak macamnya. jangan kau kira manusia yang ngamen dijalan, berbekal kaleng plastik diisi kerikil, mereka tidak belajar, mereka belajar. belajar bertahan hidup, belajar mencari-cari syukur dan Tuhan ditengah-tengah terik matahari, belajar menelan ludah bagai menelan es teh manis, belajar pura-pura tersenyum dengan bibir merona, meski perut tersayat sudah berapa hari belum terisi nasi."
..."sayang, jangan kau kira, kau tidak belajar, semua manusia sedang belajar. belajar hidup, meski dari jurusan komunikasi, tapi berakhir menjadi script writer, dari jurusan kesehatan, tapi berakhir menjadi marketing umroh, dari jurusan ilmu jiwa, berakhir menjadi sakit jiwa, contohnya kamu, heuheuheu," tawanya pecah, tangan kanannya meremas perutnya gemas, kaku, akibat menertawakan kalimatnya yang lucu.
..."sayang," lanjutnya. "jangan kira kita tidak hidup, jangan kira kita tidak bermanfaat. tukang parkir bermanfaat, tukang kayu bermanfaat, tukang ghibah? hmmm," matanya melirik keatas kanan, berfikir. "tukang pahat? jelas bermanfaat, kalau tukang gitar sepertiku? jelas bermanfaat sekali, tugasnya kan menghibur. kalau tukang curi uang rakyat? hmmm," dia tidak melanjutkan, berakhir dehem, dasar laki-laki bodoh.
"sayang," ucapnya seperti memanggil, atau malah ingin melanjutkan ocehannya. aku diam, tidak menjawab. "budek? atau pura-pura budek?" sambungnya,
"jangan kira kita tidak hidup," sambungku cuek, mengejek. dia terkekeuh, menggeser duduknya lebih dekat denganku.
"iya. udah deh, jangan mengeluh soal hal yang sama. aku bosen tau gak sih, heuheu." dia melempar kulit kacang yang selesai dikupas, kearahku, "lihat sini,"
aku menatapnya, jengkel.
"mereka, belum tentu bisa seperti kamu. my world is yours," kalimatnya sok inggris, padahal toefl sudah gagal 4 kali, dasar bodoh.
aku manggut-manggut, macak bodoh, "terus?"
"cukup syukuri yang kamu punya saat ini, apa lagi sih yang harus dikejar?" ucapnya menenangkan, mengunyah kacang, sungging terlihat diwajahnya.
aku menatap, ragu, "banyak, sesuatu yang pantas untuk aku kejar." jawabku
"apa? apa coba? keluarga? mereka masih bisa kamu peluk satu persatu setiap hari, pekerjaan? kamu lebih beruntung dari aku yang hanya pemain gitar, pendidikan? kamu sudah lulus tepat waktu, daripada aku yang terancam DO, heuheu" dia menggaruk kepalanya, yang tidak gatal. "apa lagi? pacar? lah aku ini, ganteng sih, tapi gak kaya, heuheu," pujinya sendiri.
aku membuang nafas berat, "bukan itu masalahnya,"
"terus?" tanyanya bingung, tangannya masih sibuk mengupas kacang.
"aku sendiri gak tau masalahnya apa, padahal semuanya terlihat sempurna kan. tapi kenapa sih, masih banyak yang kurang, masih belum tepat, masih banyak yang harus dikejar." jelasku panjang, semoga dia mengerti, dia sedikit oon soalnya.
dia mengunyah kacang dengan santai, "ohh aku tau, masalahnya kamu kurang bersyukur, gak pernah lihat sekeliling, terlalu menuntut banyak hal, ini dan itu, gak penting." dia bangkit dari duduknya, tangannya menyahut sampah kulit kacang yang berserakan, memindahkannya kedalam kantong plastik sampah.
udara semakin dingin, matahari diatas kepala sudah hilang ntah kemana. seperti rasa sesal yang tiba-tiba lenyap, ntah karena apa, mungkin karena laki-laki baik tapi bodoh disampingku, salah satu sebab syukurku.
"mau cari ayam gunung?" tawarnya berdiri, memasangkan hood ke-kepalaku.
"emang ada?" sontakku,
"hmm, gak ada sih. heuheu," dia resek, tapi baik. aku tertawa, memukul lengannya, dia menjulurkan tangan, aku menggenggamnya, berjalan beriringan, menepi jauh dari tenda. menikmati udara yang lebih tenang menenangkan.
sambil berjalan, dia memotret view kota diatas ketinggian, berucap, "semakin tua, semakin banyak yang akan kamu lihat dalam hidup." senyumnya padaku, aku mengangguk.
"terima kasih," ucapku lirih, aku takut dia geer.
"apa? ngomong apa? ga denger, yang keras dong." godanya, aku menginjak kakinya gemas, dia tertawa kesakitan.
"menua bersamaku ya." ucapku akhirnya, dia merangkul bahuku lembut, tersenyum mengangguk iya. bahagia sekali Tuhan, meski banyak hal yang harus diselesaikan satu persatu, tapi setidaknya laki-laki disampingku menjadi rumah bagi keluh maupun menaruh rasa. terimakasih.

















