"Aku jalan sama kamu ya." Katamu santai, sambil merogoh kantungmu, mengambil sebungkus rokok. Jantungku berdebar kencang. Iya atau tidak. Iya atau tidak. Iya. Tidak. Tidak. Tidak boleh. Tidak akan terulang lagi. Segelintir memori memandikanku basah. Tanganmu. Bibirmu. Bibirmu di leherku. Tanganmu di sela-sela pahaku. Aku. Kamu. Hatiku bengkak oleh cinta. Tatapanmu kosong. Keringat dingin muncul di dahiku. "Maaf, tapi tidak dulu—tidak. Ya. Tidak dulu, ya." Kakiku langsung berjalan cepat, mencoba tidak mempedulikanmu dibelakang. Aku tidak bisa. Tidak, kalau hanya dipermainkan begini. Hanya sekedar pemenuh nikmat. Aku cinta. Ini cinta, bukan gairah. Maaf. Aku kira milikmu juga cinta. Memori kembali membasuhku. "Iya, dia, dia. Indah sekali dirinya. Aku jatuh cinta." Katamu, bajumu masih tergeletak di lantai, tanganmu masih basah setelah memegangku. Gila. Masih sakit, rasanya. Aku menahan-nahan air mataku. Jangan jatuh, jangan jatuh. "Semoga kalian berjodoh." Kataku pelan, sembari membalikkan badanku, berpura-pura lelah dan tertidur. Jika aku berjalan menjauh sekarang, aku melakukannya untuk diriku. Hanya untukku. [Aku mencintaimu. Tidak sebanyak aku mengasihani diriku.] .80Hg I'm Doing This For Me #WrittenAugust #WrittenAugustDay3