“Aku tuh phobia sama cicak. Lihat ada cicak di kamar aja bisa gelisah. Dengernya aja bisa merinding jijik. Disamperin sama makhluk begitu ya bisa sampe nangis jerit-jerit. Sampe pernah nih ya, aku harus praktikum tentang hewan reptil dan percobaannya dengan cicak, aku sampe gak ke kampus. Bolos. Eh izin deh. Alasannya sakit. Tapi emang beneran sakit. Beneran demam dan asam lambung naik. Stress kali ya hahaha.”
Aku bercerita dengan antusias kepada temanku. Aku memang sudah lama tidak suka dengan binatang itu. Sebetulnya dulu pernah mengalami sesuatu yang membuat aku menjadi phobia seperti sekarang ini. Tapi hari ini aku tidak akan menceritakan hal itu.
Ketakukan yang aku miliki ini, membuat aku berusaha selalu waspada dengan langit-langit rumah. Biasanya binatang itu tinggal berlama-lama di sana. Sekedar lewat di bawahnya saja, jika tak mengharuskan aku lewat ke sana, serius, aku gak mau. Atau bisa sampe lari-lari sambil teriak. Maafkan kalo sebagian orang menilai ini terlalu berlebihan. Tapi itu nyata adanya.
Entah kenapa ya, setelah aku memiliki ke-waspada-an itu, malah seringnya aku di-per-temu-kan dengan binatang itu. Nyebelin kan? Atau mungkin ada maksud? Pertemuan ini menginginkan aku menjadi bersikap biasa kepadanya? Ohhh Tuhan, sesungguhnya aku tak mau demikian. Jika aku boleh meminta, jangan pertemukan aku dengannya kembali. Pliiiis.
Mungkin doaku terlalu subjektif mengenai hal ini. Sampai-sampai hingga saat ini aku masih sering berjumpa kisah-kisah menyedihkan, menyeramkan – ini bagiku, bagi kalian yang membaca ini dan berdamai dengan binatang yang aku maksud mungkin akan berkata kisah lucu – tentang binatang itu.
Suatu hari, aku ada tugas keluar kota sebagai peserta workshop, ke Jakarta. Kami (aku bersama Teh Fitri, dan Kang Arif) berangkat pukul 03.00 dini hari, untuk mengejar pukul 10.00 di lokasi. Karena berangkatnya sangat pagi, kami memutuskan untuk sarapan di rest area KM 97. (btw, di sana buburnya banyak pilihan dan enak. Terus bakso tahunya juga enak. Coba deh kalo lewat kesana, mampir yaaa)
Seperti biasanya. Kami sarapan dengan menu yang kami inginkan. Hari itu, aku makan bubur sapi, dan siomay bumbu kacang. Enaaaaak banget, dan kenyang. Setelah beres makan, kami melanjutkan kembali perjalanan. Aku saat itu duduk di kursi depan, Teh Fitri di kursi belakang, dan Kang Arif menyetir. Saat kami berjalan menuju mobil, Teh Fitri meminta aku untuk beli kartu tol di Indo*art yang ada di sana. Karena tempatnya terpisah jauh dari tempat kami makan, kami kesana dengan mobil sekalian keluar dari rest area ini.
-Sampai di depan ind*mart-
Aku bergegas keluar mobil, untuk membeli kartu tol. Di dalam in*omart itu cukup ramai. Hanya saja, semua yang sedang berbelanja di sana para lelaki. Aku, perempuan seorang diri. Aku langsung baris di antrean kasir, untuk segera mendapatkan kartu tol pesanan dari Teh Fitri. Sembari mengantre, aku melihat jajanan disekelilingku. Tiba-tiba aku merasa ada yang menyentuh tangan kananku. Kalo bahasa sundanya, aya nu noel. Tepatnya dibagian bawah pundak. Persis disitu. Sontak aku langsung melihat ke arah kanan.
“Siapa yang menyentuh tangan aku?” Gumamku dalam hati. Lalu melihat sekelilingku.
“Masa ada Mas-Mas genit di sini. Iseng banget. Tapi gak ada siapa-siapa di dekatku.” Gerutuku dalam hati. Kemudian aku semakin penasaran, ketihan sentuhan itu terasa kembali. Aku tengok ke arah sentuhan yang aku rasa, bagian tangan kanan bawah bahu. Sembari mengangkat tanganku perlahan.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA TERNYATA ADA CICAK HINGGAP DI TANGANKU AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” suara yang berasal dalam hati. Nyatanya, hanya gumam menjerit setengah tertahan sembari kibas-kibas tangan, heboh sendiri.
“Berarti sentuhan yang aku rasakan itu ketika dia jatuh ke bagian tanganku. AAAAAAAAAAAAAAAAA MAMAAAAAH, AKU MAU PULAAAAAANG.” Lanjutan gumamku. Suungguh para lelaki yang ada di sana tidak ada yang menolong aku. (bingung juga sih ya, nolongnya gimana) Semua terlihat acuh, hanya ada satu orang di depanku yang menoleh ke arahku, kemudian menatap ke depan lagi. Aku ingin menangis seketika. Tapi malu. Tapi kesel. Tapi gak mau kesalip antreannya. Tapi mau keluar aja. Tapi harus dapet kartu tol. Ahhhhh panik tingkat tinggi. Lututku mulai gemetar, keluar keringat dingin.
Antrean di depanku mulai melaju. Terpisah jarak dari lelaki yang menoleh itu denganku. Pengunjung di dalam i*domart itu bertambah. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus maju untuk mendapatkan yang aku butuhkan. Tapi aku ingat sekali, saat aku kibas-kibas tanganku, binatang itu terlempar ke rak depan kasir.
“Yaa Tuhan, jika aku maju, aku bertemu dia lagi. Jika aku diam, aku takut disalip yang lain. Nanti keluarnya makin lama.” Masih sempet curhat begitu dalam hati. Hingga akhirnya aku maju sedikit-sedikit. Menengok ke arah rak kasir, untuk memastikan binatang itu sudah lenyap dari pandanganku.
“Alhamdulillah, dia sudah tiada. Baiklah.” Sedikit lega, kemudian aku ikut melaju. Berdiri tepat di belakang lelaki yang menoleh. Hanya menunggu beberapa detik dari situ, giliranku untuk mendapatkan kebutuhanku. Daaaannn ternyataaaaa, kartu tol nya sedang tidak ada. Tanpa berpikir panjang aku langsung setengah berlari ke arah mobil. Kemudian membuka pintu belakang.
“Lihat, ada sesuatu gak di baju aku?” Hanya kalimat ini yang ingin aku pastikan. Aku memutarkan badan, untuk memastikan semua bagian badanku dilihat oleh Teh Fitri.
“Gak ada apa-apa. Kenapa gitu?”
Aku langsung masuk ke mobil, duduk, pake sit belt, lalu menceritakan kejadian di dalam *ndomart itu sembari nangis. Sesegukkan selama beberapa kilometer. Teh Fitri dan Kang Arif hanya bisa berusaha menenangkanku. Walaupuuuunn, reaksi mereka pertama adalah tertawa.
“Aku gak mau masuk-masuk ke indomart lagi ! Kenapa sih di dunia ini ada binatang yang seperti itu?” Aku melonta-lonta sembari mengusap air mata. Ini seperti luapan hati yang aku pendam selama beberapa menit di dalam sana. Tolong untuk para lelaki, aku mohoooon dengan sangat, jika melihat kejadian yang serupa, dimanapun itu, tolonglah perempuan kecil tak berdaya di hadapanmu. Cobalah peka dengan reaksi tak suka yang terpancar dari jeritan yang dipendam. Setidaknya si perempuan bisa meyakinkan dirinya aman, dan berkata ‘ndakpapa Mas, makasih.’
Masalah perkataanku di atas. Coba untuk ditanggapi dengan bijaksana. Sebenarnya, tidak ada yang Tuhan ciptakan dengan sia-sia. Tentu saja semua ada manfaatnya. Hanya saja, bagiku, saat itu, tak ada gunanya. Atau gunanya hanya untuk membuat aku menangis sepanjang jalan. Huuuuaaaa
Terima kasih untuk Teh Fitri dan Kang Arif, yang sudah berusaha menenangkan hatiku yang kacau saat itu. Dengan iming-iming dibelikan coklat, es krim, dan lagu dangdut biar ketawa. Abaikan poin terakhir, karena aku selama beberapa kilometer dari situ mendadak menjadi perempuan pendiam, lalu tiba-tiba meneteskan air mata. Setelah itu, aku bisa bernyanyi-nyanyi lagi, dan membuat tertawa orang di dalam mobil. Jika aku sudah bisa bernyanyi, tandanya sudah membaik ya.
Dimanapun, dalam kondisi apapun, masalah kita sebenarnya tanggung jawab diri kita sendiri. Jangan membawa masalah kita kepada orang yang ada disekeliling kita. Bersikaplah bijaksana. Karena sebenarnya perasaan itu menular. Jika kita tetap memertahankan kebahagiaan, maka sekeliling kitapun akan merasakan kebahagiaan. Harus pandai-pandai menempatkan diri. Semangat menjadi pribadi yang lebih baik lagi ! Ini pesan untuk diriku. Semoga yang menbaca inipun mendapat pesan sepertiku.
Bandung, 12 Februari 2017 | ashriati | Tebar Manfaat Lewat Aksara