Taring Tajam
Bulan purnama merah masih memancarkan cahayanya yang mengancam. 18 orang yang berhasil bertahan hidup kini berjalan lunglai menuju desa terdekat.
Mayat-mayat yang tadinya memenuhi jalanan kini sudah hampir menyatu dengan alam sekitarnya dengan sempurna. Anehnya, tak ada bau bangkai walau sebelumnya darah bercucuran dimana-mana. Bekas darahpun tak ada, seakan-akan bumi menghisap darah para korban tanpa menyisakan setetespun.
Ke-18 orang yang berhasil selamat itu terdiri dari 7 orang penduduk lokal, Ultragakun, Alfiamutiari, Kokosdera, Aiph, Galeshka, Brian, Shin_Think, dan 11 turis : Kyurenjo, Aksa_Syadri, Chocofit, WillyPermana, Winterfey, Kayud, Rabbita, Ichawashere, Ivanpito, Liamariaagnes, dan Faisalazis. Kebanyakan dari mereka hanya membisu lemas, beberapa diantaranya menangis pelan, takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Keheningan itu dipecah oleh suara Galeshka "kita harus mencari tempat beristirahat. Hari sudah terlalu malam, dan kita tidak tahu apa yang ada diluar sana." suara lolongan serigala masih terdengar sayup-sayup dari arah Beringin Caraka.
Shin_Think yang sudah mengganti masker dengan yang baru menimpali "bagaimana kalau kita ke balaikota saja? Disana luas, dan mungkin saja kita bisa meminta bantuan dari sana. Mungkin ada radio atau telpon yang tidak rusak." Semua orang terlalu lelah dan lemas untuk berdebat sehingga mereka menyetujuinya seketika itu. Mereka pun berjalan bersama menuju Balaikota. Para turis pasrah mengikuti penduduk lokal diantara mereka.
Sementara mereka berjalan, salah satu dari mereka menjilat gigi tanpa terlihat yang lainnya. Dia merasakan bahwa gigi taringnya menjadi semakin tajam, panjang, dan kuat. Dia harus berhati-hati, jangan sampai taringnya terlihat oleh para manusia, karena dari penglihatan tadi dia tahu tujuan perubahan dalam tubuhnya adalah untuk takdir Bumi.
Malam itu mereka tertidur lelap dalam lelah. Semua orang tidur bersama dalam satu hall balaikota, tak ada yang berani memisahkan diri setelah kejadian tadi.
Tapi ada satu orang yang masih terbangun.
Cahaya merah dari bulan purnama menerangi sebilah pisau yang muncul dari kegelapan. Seseorang akan mati malam ini. Si pemegang pisau berjalan mengendap endap...pelan.
Tiba-tiba suara kencang mengagetkannya. Seseorang berteriak. Seketika itupun semua terbangun. Si pemegang pisau dengan sigap menyarungkannya kembali dan berpura-pura terbangun karena kaget.
Ternyata itu hanyalah teriakan salah satu dari mereka yang bermimpi buruk. Dia pun menghela napas. Malam ini terlalu berat bagi mereka semua.
Akhirnya diapun memutuskan untuk tidur bersama dengan semuanya. Tidak perlu malam ini. Masih banyak waktu baginya. Masih ada malam lainnya.
Diapun tertidur sambil tersenyum.










