Melangkah ke Depan
7 Maret 2015 adalah tanggal yang paling gue ingat tahun ini karena pada tanggal itu gue pergi meninggalkan Jogja, kota yang menjadi domisili gue selama 4 tahun 8 bulan 20 hari. Berarti sudah lebih dari 70 hari gue kembali lagi ke tempat yang gue akuin sebagai hometown yaitu Bogor.
Sudah 2 bulan lebih pulang ke Bogor gue belum kerasan tinggal di kota ini. Kelamaan di Jogja dan jarang pulang ke rumah orang tua membuat gue dapat dikatakan hilang ikatan dengan Bogor. Gue harus kembali menyesuaikan berbicara dengan bahasa Indonesia dialek Sunda Bogor, gue harus terbiasa dengan jumlah angkot yang luar biasa banyak, gue harus ingat kalau bawa motor di kota ini jangan di pinggir jalan karena itu wilayah angkot, gue harus menemukan tempat nongkrong baru di kota yang banyak berubah ini, dan gue harus menikmati hidup-hidup dengan status sebagai pengangguran.
Sering gue berpikir dan rindu akan suasana gue menjalani hidup di Jogja. Mendengar suara dan melihat pesawat yang terbang melewati kosan, tanpa pemberitahuan muncul di kos Adrian, menikmati wifi gratis di kampus, bercerita panjang dan berbagi pendapat lebar dengan Yogi, dan berbagai kegiatan epic yang terlalu banyak disebutkan di sini. Tapi gue sadar bahwa itu semua adalah masa lalu atau dalam bahasa keren gue, bagian dari bab yang lama dari hidup gue yang panjang ini.
Tapi apa daya terlalu lama rindu akan suasana itu entar gue terbawa romantisme akan kehidupan gitu seperti para orang-orang yang memasang stiker Soeharto. Tapi ya seiring dengan waktu gue harus terima kenyataan kehidupan sekarang dimana masa-masa pengangguran ini menarik banget buat gue. Gue harus ngerasain betapa capeknya bolak-balik Jakarta-Bogor demi mencari sesuap nasi, melihat bagaimana materialisme dan konsumerisme yang luar biasa dari masyarakat, dan menyadari bahwa gue itu adalah seorang outlier diantara teman-teman dekat gue di Bogor bahkan keluarga sendiri.
Dalam pikiran gue ketika menulis ini adalah pikiran bahwa sudah saatnya gue melangkah ke depan. Sudah saatnya gue mengisi bab baru hidup gue dan harus menerima penilaian yang aneh2 tentang kehidupan gue. Belum ditambah perasaan kekecewaan karena ditolak lamaran kerja ataupun gagal tes kerja. Tapi ya itulah hidup gue sekarang dan mau ga mau harus gue jalanin.









