Di Luar Waktu, di Dalam Sabarmu
Kembali dari awal lagi, waktu dimana tak ada satupun yang percaya dan mengetahui satu sama lain. Bukan berarti semua tak mengenal siapa yang sedang di sisinya, mungkin mereka lebih banyak memikirkan daripada bertindak. Mencoba melearai dan berlari dari sebuah masalah semalam yang belum usai. Kembali menggetarkan kepala pada kegeraman kedua tangan dengan sekuat tenaga, berharap lepas itu kepala dari bebannya.
Menghadapi seribu ingkar dari satu janji. Menanti dan berharap terhenti. Berharap masa akan cepat habisnya, usia akan cepat usainya. Inginnya menyadari bahwa esok sudah tersedia dan lebih baik dari hari tadi, namun kembali ke awal lagi. Berbicara pada cermin muka di sudut pikiran, diri sendiri. Teman yang selalu ada namun tak nyata. Mungkin tak akan menyelesaikan masalah yang sudah dan akan datang. Mungkin salah jika mengecilkan hal besar dan menghilangkan hal kecil. Mungkin baik jika hal besar disamaratakan dengan bercerita sehingga tak merasa sendirian menghadapi.
Walaupun dapat memandang baik apa yang di depan mata, belum tentu dapat percaya apa yang di depan masa akan baik-baik saja. Tapi, tak ada yang tentu. Semua hal semu, termasuk waktu. Waktu seperti lautan, kausadar dia banyak namun kau tak kunjung bijak. Sedang raga seperti batu karang, terus tergerus oleh waktu dan kemudian hancur tak lebur. Dan jiwa seperti kapal, berlabuh dengan panduan Sang Bintang. Sadar akan waktu yang dimiliki setiap makhluk adalah berbeda. Bagaimana jika kumenghentikan waktu yang ada pada diriku saat ini? Akankah ada yang ikut berhenti atau hanya akan keluar dari lautan menuju ke Daratan yang belum tentu menjanjikan. Atau, jika tak kuberhentikan waktu, akankah berulang selalu?
Bukankah semua orang begitu? Akan jadi kebiasaan jika tak segera diselesaikan pada waktu yang terus ber-”akar”.
Ikuti kata-kataku jika kau tak lagi percaya pada kata-kata yang kaudengar di pikiranmu itu, walau lebih nyata mereka yang kaudengar ketimbang aku yang berbayang pada layar kaca, percaya saja. Bisa kauulangi kata-kata yang kaulihat dengan suaraku melalui pikiranmu itu.
Sekadar mengingatkan. Bukan menghiraukan, peduli lebih dari, dan tidak percaya bahwa apa yang terjadi di sekitar sana sudah lagi tak sesuai nalar manusia. Semua hanya semaunya, mereka.
“Jangan menginjak rumput. Walaupun kautahu mereka akan menginjakmu pada waktu yang tak seorangpun tahu.”
"Suatu adalah waktu tak seorangpun paham, rasanya mata hendak terpejam dan nyala akan padam, selamanya. Secara kejam. Semua akan berubah dan berbuah pada saatnya. Semoga lekas dan ikhlas menerima."
Jangan terlalu memperhitungkan diri sendiri, belajarlah dari orang lain bukan jadi orang lain.
“Mau jadi (si)apa hari ini?”
-Kedua waktu, yang pertama lenyap ditelan sistem laptop yang freeze.
https://open.spotify.com/track/5SwtSRTJlP27aIFfAcDChL?si=2b54c435a3f945eb