Sangkaku Tak Sejauh Ini
Ada hati yang mesti terkunci lagi dalam ketidaksengajaan menyengaja merasa menemukan. Ada hati yang kembali teriris sepi sejak pemiliknya mengakhiri sendu keingintahuannya tentang penggal namamu.
Namamu kini tak menyisa keinginan akan penggalnya. Namamu telah kugenggam, baik awalannya hingga akhiran. Hanya saja ada sakit yang terkait begitu dalam ukirnya.
Pada mulanya aku adalah pengagummu yang merasa menemukan kebaikan di dalam pertemuan kita. Aku adalah seorang yang tak tahu apa-apa mengenaimu. Mulanya aku pikir Tuhan mempertemukan kita agar saling mengenal, namun hatiku malah harus mengebal.
Aku harus membuang jauh-jauh rasa menemukanku. Setelah mendapat jawaban dari semua pertanyaanku tentang kita. Rasa menemukan itu hanya aku ada-adakan saja. Tuhanku sepertinya memang hanya ingin aku bertemu denganmu namun tak akan pernah lebih dari itu.
Perasaanku salah. Salah yang begitu tak terarah hingga aku mencapai titik di mana aku harus mampu mengalah pada keadaan dan kalah.
Perasaan ini salah. Aku mengakuinya, bukan perkara kau tak jua merasakannya. Tak jua karena kau telah berpemilik. Sebab ia lebih dari itu, ia jauh dibanding kesedihan remaja seusiaku.
Tuhan kita tak sama.
Aku terlalu menuruti rasa penasaranku hingga aku menemukan hal itu.
Tak lagi cinta yang tersisa saat ini, tak pula boleh duka karena Tuhanku pasti akan marah jika aku bersedih karenamu. Nama yang terucap antara doamu dengan doaku ketika kita saling mendoakan boleh saling beegantian. Tapi, lantai ini telah berbeda gunanya antara kau dan aku. Aku bersujud ketika pernah meminta untuk dipertemukan denganmu lagi. Sedang, kau mungkin berlutut di atas lantai ini berdoa menyelipkan nama seorang yang belum kau kenal.
Betapa malunya aku pernah mendoakan kita.
Perasaan kadang harus berbatas pada apa yang diatur untuk kita. Tuhan Esaku tak akan suka aku memikirkanmu sepanjang waktu dan larut dalam kesedihan. Keyakinan kita berbeda. Hal yang aku yakini tentangmu kini telah berbeda.
Aku tak akan pernah searah dengamu.
Kecuali kau mau memutar arah dan menjajariku menuju arah surga Allah Subhanawata’ala.
Nomaden, 17-10-14 8:31 pm Jangan dianggap serius. Tak setiap kata-kata dirangkai karena kejadian yang telah usai. Tulisan ini hanya rangkai kata yang tak sengaja tertata.












