Tentang Keistimewaan, Kebahagiaan, dan Keputusan untuk Memiliki Anak
Beberapa minggu lalu saya terlibat dalam argumen yang agak memanas (saya yang panas karena melibatkan agak sedikit terlalu banyak emosi dan rasa kesal), yang sebenarnya dimulai dengan bahasan ringan tentang maraknya tren nikah muda. Tiba-tiba pembahasan jadi melebar kemana-mana sampai pada pembahasan mengenai keputusan orang-orang untuk memiliki anak. Saya menganggap bahwa memiliki anak merupakan sebuah keputusan yang sangat besar dan memiliki implikasi dan tanggung jawab yang sangat berat, dan karena itulah orang-orang seharusnya berpikir berjuta kali sebelum berprokreasi.
Menurut saya, keputusan untuk mempunyai anak merupakan salah satu hal paling egois dari sepasang manusia. Coba, kenapa sih orang-orang mau memiliki anak? Karena lucu waktu bayi? Karena ingin menyempurnakan hidup sesuai standar masyarakat? Karena nggak mau kalah sama tetangga dan takut mulut nyinyir netizen? Karena ingin melihat dirimu dan pasanganmu dalam versi mini? Atau ingin membesarkan anak-anak cerdas dan baik hati dan berjiwa ksatria yang akan membuat dunia lebih baik? Atau karena nggak sengaja? Apapun alasannya, saya pikir semua itu bisa diringkas dalam pilihan padanan dua kata yang sederhana: “Pengen aja” atau “Nggak sengaja.”
Di mata kuliah Social Values, saya pernah mendapatkan materi mengenai hypothetical consent - bahwa pihak yang terlibat akan memberikan persetujuannya, apabila kondisi yang dipaparkan bisa ia terima, tapi ia tidak benar-benar memberikan persetujuannya secara eksplisit. Dalam hal ini, hypothetical consent yang ingin saya bicarakan adalah antara sepasang laki-laki dan perempuan (atau perempuan dan perempuan ataupun laki-laki dan laki-laki, bebas), dan seorang calon manusia lainnya yang bahkan belum tahu dunia itu seperti apa.
Setiap calon orang tua seharusnya menanyakan satu pertanyaan penting sebelum mempunyai anak: “Akankah anak saya memberikan saya persetujuan untuk melahirkannya dan membesarkannya, dengan semua kondisi dan sumberdaya yang saya miliki sekarang dan akan saya usahakan dalam masa yang akan datang?”
-
Waktu itu, secara eksplisit saya bilang bahwa seharusnya orang-orang yang berkekurangan (secara pendidikan maupun materi) berpikir berjuta kali dan sebaiknya menunda keputusan untuk punya anak, dan lawan bicara saya bilang bahwa itu adalah sebuah pelanggaran hak asasi manusia yaitu hak untuk reproduksi. Baru belakangan saya tahu bahwa ada nama untuk pemikiran seperti ini: eugenics. Tapi saya ingin tanya, bagaimana dengan kemampuan si orangtua ini untuk memenuhi hak asasi si bayi?
Salah satu hak asasi manusia adalah hak untuk hidup, berperilaku, tumbuh dan berkembang. Oke, kalau misalkan hidup sekedar hidup, tumbuh sekedar tumbuh, dan berkembang sekedar berkembang sudah dianggap sebagai pemenuhan hak asasi manusia, kita bisa berhenti disitu. Tapi hidup seperti apa yang berhak dialami olehnya? Apakah dia bisa mendapatkan kecukupan gizi, ruang privat, tempat tinggal yang layak, dan akses akan pendidikan?
Lalu lawan bicara saya bilang, “Tapi gimana kalau mereka bahagia?”
Benar-benar respons yang mencengangkan yang bikin saya makin emosi. Kebahagiaan? Ke-ba-ha-gi-a-an???!!! (Sekali lagi) KEBAHAGIAAN??!!
Coba deh, dipikir lagi. Jika sejak lahir seorang anak sudah dipaparkan pada hal-hal yang jauh di bawah standar hidup yang layak seperti hanya bisa makan satu kali sehari, atau hanya bisa makan makanan instan dan bukannya nasi atau sayuran apalagi daging merah, tidur di ruangan 3x3 meter berdinding tipis dan di atas satu kasur bersama dengan 4 orang saudara dan sepasang ibu dan ayah, atau apalagi bagi anak-anak jalanan yang terbiasa bermain di pinggiran jalan dan tidak mengerti apa itu rumah, apakah kamu masih bisa bilang bahwa tidak apa-apa mereka hidup terus seperti itu asalkan mereka bahagia? Tidakkah kamu pikir bahwa konsep kebahagiaan yang mereka miliki akan terdistorsi amat jauh?
Untuk seorang anak yang terbiasa tidur di dalam gerobak, sebuah ruangan berukuran 2x2 berlantai semen mungkin akan membuat dirinya bahagia. Untuk seorang anak yang terbiasa mandi dan buang air di sungai, akses ke sebuah kamar mandi umum mungkin akan membuat dirinya bahagia. Untuk seorang anak yang terbiasa dipukuli oleh orang tuanya, tidak dipukuli mungkin akan membuat dirinya bahagia.
Dan masih bisakah kamu menjustifikasi kelayakan hidup seseorang menggunakan kebahagiaan?
-
Oke, saya tahu bahwa mungkin tulisan ini banyak dipengaruhi oleh keistimewaan yang saya miliki. Saya yang lahir dari keluarga yang lengkap, rumah yang setiap penghuninya punya kamar masing-masing, selalu ada makanan sehat di meja, bisa bersekolah sampai lulus sarjana tanpa memusingkan dana karena orang tua mampu untuk membayar, dan bahkan masih bisa mimpi untuk lanjut sekolah keluar negeri dan benar-benar bisa pergi. Itulah yang membuat saya sering sedih dan kesal melihat anak-anak yang berkeliaran di jalan, nggak bersepatu, minta-minta, lihat ibu muda yang mungkin lebih muda 10 tahun daripada saya, dengan bayi di gendongan dan anak-anak kecil berkeliaran di sekitarnya, begitu lihat ibu-ibu di rumah susun yang anaknya sudah lima tapi masih hamil besar.
Apakah anak-anak kecil itu pantas untuk hidup seperti itu? Untuk mendefinisikan kebahagiaan mereka dengan standar yang begitu rendahnya sampai orang lain bisa bilang bahwa itu bukanlah bahagia? Kamu nggak pantas menjustifikasi argumenmu dengan mengambil secara acak seorang anak jalanan dari perempatan dan menanyakan apakah dia bahagia, dan ketika ia bilang bahwa ia bahagia, lalu kamu bisa bilang pada saya, “Tuh, kan? Dia bahagia.” Kamu harus mundur lebih jauh daripada itu. Apakah hak-hak dasarnya terpenuhi? Apakah dia bahkan tahu dan sadar apa saja hak-hak dasar yang mesti ia dapatkan?
Memang kurang pantas untuk menjadikan hidup pribadi sebagai sebuah standar, tapi faktanya, Indonesia sekarang sedang menghadapi risiko lost generation. Bonus demografi yang selalu digembar-gemborkan mungkin malah akan menjadi beban demografi. Semuanya karena apa? Stunting. Sebanyak 37,2 persen (9 juta balita) di Indonesia pada 2013 mengalami stunting (sumber). Satu dari tiga balita di Indonesia menderita stunting. Anak-anak kekurangan gizi yang gagal tumbuh. Kenapa mereka bisa kekurangan gizi dan bisa gagal tumbuh? Silahkan dinalar sendiri.
-
“Kalo liat orang yang hidupnya lebih baik, lo mikir lo pengen hidupnya kayak dia, kan? Tapi kalo lo lihat orang-orang yang gak mampu, yang di jalanan, itu bikin lo bersyukur, kan? ”
Lalu saya balas lagi, “Iyalah. Orang yang hidupnya kurang terus lihat orang yang hidupnya lebih, dia bakal mikir ‘Harusnya gua hidup kayak gitu’. Tapi kalau orang yang hidupnya lebih terus lihat orang yang hidupnya kurang dan menderita, dia kan gak bakal mikir ‘Harusnya gua hidup kayak gitu’, kan??”
Heran.











