Pulang
Bahwa ada yang harus selesai. Bali selalu berhasil menjadi tempat pamungkas. Setiap sisinya mengundang cerita untuk melengkapi sebuah kisah perjalanan yang dibuat.
***
Penerbangan saya menuju Yogyakarta masih menyisakan satu jam. Kali ini saya berada di area merokok Bandara Ngurah Rai. Saya memerhatikan keadaan sekitar, mungkin ini adalah area merokok paling manusiawi yang ada di sebuah bandar udara. Area terbuka dengan pemandangan landasan pesawat dan laut lepas. Saya merasa senang berada di sini, bukan karena area merokok, tetapi ia selalu menjadi tempat penutup segala kenangan. Ia adalah koma terakhir.
Dalam angin tropis kencang, saya menggulung memori perjalanan Nusa Tenggara Barat yang baru saja selesai. Perjalanan yang banyak memberi saya pelajaran berharga, bahwa setiap orang memiliki kekuatan dan ketakutan. Kekuatan yang ternyata dimiliki ketika yakin bahwa kita mampu menggapai apa yang ingin diraih. Rinjani memberikan itu kepada saya. Pasir dengan kemiringan empatpuluhlima derajat itu, yang di atasnya dilintasi meteor-meteor, membuat saya tidak henti untuk menggapai puncak.
Sedangkan, ketakutan itu harus dilawan. Berada di laut lepas dengan seribu kekhawatiran, takut tenggelam, takut hayut. Tetapi akhirnya, laut itu sendiri yang membuat saya berani melawan.
“Kata orang, kehilangan dompet itu tandanya orang tersebut sedang dalam masa transisi. Jiwanya sedang labil, Mbak.” kata teman Tomo, adik saya, yang saya lupa namanya. Sore itu, sesampainya saya dari Lovina, saya menuju rumah sewa mereka di kawasan Canggu, untuk menumpang beberapa hari. Kami bertiga berbincang santai dalam gelas-gelas kopi.
Dia melanjutkan, “Dompet itu ‘kan isinya segala sesuatu tentang identitas diri. KTP, SIM dan semua kartu-kartu berharga.”
“Masa sih?” saya bertanya sambil menyerngitkan dahi, sedikit bingung. “Kata orang sih begitu.” jawabnya singkat. Lalu buru-buru melanjutkan, “Tapi akan dapat yang lebih besar, kok Mbak.”
“Amin!” kontan saya menjawab yan disertai derai senyum tawa kami bertiga.
Saya sebenarnya percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan hati yang baik, bukan menjadi pencuri. Kejadian ini memberi pelajaran untuk saya lebih hati-hati dan menjaga apa yang dimiliki. Memang benar, dompet hanyalah “seonggok barang”, tetapi isi di balik “seonggok barang” itu berisi segala sesuatu identitas diri. Uang bisa dicari, dompet bisa dibeli lagi. Hanya yang paling membuat repot adalah mengurus surat-surat yang ikut hilang. Mengurus KTP, SIM, STNK, kartu ATM. Ah! Sampai menulis ini pun, saya belum mendapatkan ganti KTP karena kehabisan blangko. Sungguh, kehilangan dompet adalah pengalaman sial yang luar biasa, karena seperti yang dikatakan Anthony Bourdain:
“Travel isn’t always pretty. It isn’t always comfortable. Sometimes it hurts, it even break your heart. But that’s okay. The journey changes you; it should change you. It leaves marks on your memory, on your consciousness, on your heart, and your body. You take something with you. Hopefully, you leave something good behind.”
***
Saya beranjak dari duduk dan menuju tepian, melihat pesawa-pesawat yang lalu lalang di hadapan. Ada yang baru saja mendarat, satu lainnya bersiap lepas landai di sisi pinggir landasar. Di belakang yang kedua, turut mengantre. Di sudut kanan, tepat di hadapan saya, ada satu lagi juga menunggu. Begitu saja terus kesibukan si burung-burung besi.
Bandara ini memang luar biasa megahnya. Bayangkan, landasannya berada tepat di pinggir laut. Ada senyum merekah ketika baru saja mendarat dan harapan untu kembali ketika siap lepas landas pergi meninggalkan tempat ini.
Bali memang selalu membuat saya ingin kembali. Menyusuri tiap sanggah di muka rumah, yang tiap pagi diletakkan canang oleh para penghuninya. Canang dengan aroma sajen yang menenteramkan. Canang yang, menurut saya, bukan hanya sebagai simbol agama. Karena Hindu yang saya tahu, mengajarkan budaya dan adat-istiadat bagaimana seharusnya merespon apa yang sudah diberikan alam. Canang dipersembahkan untuk semesta, sebagai ucapan syukur kepada Sang Pencipta.
***
Saya duduk kembali ke tempat semula. Teringat malam tadi saya dan Tomo menikmati akhir hari di Bali. “Mbak, makan gulai ayam mau?” ajaknya ketika kami sedang merencanakan bepergian. “Mau. Di mana?” jawab saya singkat. “Di Petitenget. Enak.” ucapnya kemudian
Tak lama kami bergegas menuju tempat yang dimaksud. Warung itu tak sepenuhnya berupa warung, hanya gerobak dengan atap terpal warna biru, tapi cukup ramai. Dan benar, gulai ayamnya enak. Kami bercengerama santai sambil menikmati suap demi suap panas nasi dengan siraman hangat gulai ayam. Bali yang, —sama seperti Yogya pada bulan-bulan pertengahan tahun sedang dilanda angin dari Australia—, memang sedang dingin.
Selepas makan, Tomo mengajak saya ke sebuah tempat yang sedang mengadakan acara musik di Denpasar. Kebetulan, acara itu digagas oleh seorang kawan lama yang pernah tinggal di Yogya. Saya larut dalam acara itu, berbincang bersama teman sambil menikmati musik. Saya merasa bukan menjadi turis.
Ini yang membuat saya mencintai Bali. Beruntung sekali mempunyai saudara atau teman yang bermukim di Bali, bisa makan di warung biasa dan mengunjungi tempat-tempat yang bukan destinasi wisata pada umumnya, menikmati hari dan malam seperti biasa, menjadikan Bali sebagai rumah. Karena perjalanan itu tidak selalu mewah.
***
Melalui pengeras suara, penerbangan saya pun diumumkan. Meninggalkan area merokok Bandara Ngurah Rai, berjalan menyusuri koridor menuju pintu gerbang menuju pesawat, saya lepas semua kenangan baru yang lewat. Melupakan kenangan buruk dan bergegas kembali ke rumah, Yogyakarta.
Satu jam berada di udara, di dalam badan burung besi, saya memandang laut lepas di bawah sana.
Biru.
Hanya ada carik-carik tipis putih awan.
Dan BOOM!!
Selamat datang di Yogyakarta. Selamat kembali ke rumah.
***
Sementara, Yogyakarta adalah rumah sesuangguhnya. Tempat semua kenangan yang diciptakan di tempat lain, dikumpulkan dan dituliskan. Tempat untuk berhenti. Titik.











